July 18, 2016

Berkunjung ke Hallstatt

Musim semi 2016 lalu tepatnya bulan Mei, dalam rangkaian traveling gue ke Eropa gue Hallstatt, Austria. Hallstatt sebenarnya off the list banget, tujuan utama adalah Salzburg untuk ngeliat sitenya pembuatan film Sound of Music tapi entah kenapa jadi putar haluan ke Hallstatt karena iseng-iseng browsing daerah sekitar Salzburg. Dan keputusan untuk berkunjung ke Hallstatt adalah keputusan tepat yang gue buat. Desa ini cakep banget, ga heran kalau masuk sebagai UNESCO Heritage Cultural Landscape dan ada KW 2 nya di Cina tepatnya di Guangdong hehehehe.

Desa Hallstatt
How to go to Hallstatt from Salzburg?
Dari Salzburg ke Hallstatt gue menggunakan bus umum. Bisa juga naik kereta tapi nggak lebih cepat juga malah lebih lama 20 menit dibandingkan naik bus selain itu naik kereta lebih mahal.

Naik Bus #150 dari Salzburg Main Station ke Bad Ischl, tiket bisa di beli langsung ke supirnya atau beli di main station. Dari Bad Ischl Station ganti bus #542/543. Harga tiket oneway ke Hallstatt total Euro 15.00. Jangan lupa untuk lihat time table bus karena tidak semua bus #150 akan nyambung dengan bus #542/543. Awalnya aga bingung kenapa ada dua nomor, awalnya pakai bus #542 pas ditengah jalan ternyata busnya ganti lagi menjadi #543. Kalo bingung lebih baik tanya-tanya ke supirnya biar kaga nyasar. Perjalanan dari Salzburg ke Hallstatt selama 3 jam itu emang lama, tapi ga bakal bikin bosen karena sepanjang jalan disuguhkan pemandangan yang baguss banget. Walopun sempet tidur2 ayam disepanjang jalan karena masih ngantuk bangun pagi hahahah.

What to do in Hallstatt?
Daytrip Salzburg ke Hallstatt mungkin banget untuk dilakukan asal jalannya pagi banget dari Salzburg balik kembali ke Salzburg sore hari. Desa Hallstatt kecil banget dan bisa dieksplore dengan jalan kaki kecuali kalau mau ke mining salt dan beberapa site lainnya yang ada disekitaran desa. Kalau buat gue sight seeing di desanya sambil kasih makan angsa dan lunch di pinggir danau Hallstatt udah cukup banget. Sempat juga ke World Heritage view point ke arah Salt Mine dengan naik funicular seharga Euro 16.00 pp, aselik mahal banget tapi nggak rugi karena pemandangannya kece berat. Buat gue rugi banget kalo ke Hallsatt tapi nggak naik dan melihat pemandangannya. Kalau mau murah bisa aja di combine, naik pake funicular turunnya jalan kaki atau pp jalan kaki tapi ya resikonya harus nanjak ketinggian sekitar 500 meter hehehehehe.

Enjoy the photos





The World Heritage View



Jalan setapak menuju World Heritage View dan Salt Mining




August 26, 2015

Dari Beijing ke Ulaanbaatar

Perjalanan menuju Mongolia dari Beijing kami tempuh melalui jalur darat dengan cara yang paling murah, pastinya! Alternatif lain bisa dengan naik pesawat (MIAT, Air China) Beijing - Ulaanbaatar (UB) selama dua jam tapi harus siap ngeluarin uang sekitar 3.5 jt >.< atau naik kereta direct Beijing - UB harganya sekitar 2.3 juta, berangkat jam 11 siang dari Beijing tiba di UB jam 9 pagi keesokan harinya. Nah.... kalo ngeteng biayanya nggak sampe 1 juta tapi waktunya 3 hari 2 malam baru sampe UB hehehehe. Kalo emang niat ke Mongolia pake cara yang terakhir ini siapkanlah waktu minimal 3 hari. Perjalanan mungkin akan lama tapi, percayalah, the journey is indeed will spoil your eyes. Plus aga2 berbau petualangan sikit lah.

Beijing - Erlian 
Perjalanan menggunakan bus sleeper kurang lebih 12 jam (overnight), harga tiket 220 Yuan. Bus berangkat sekitar jam 7 malam tiba di Erlian jam 8 pagi. Bisa juga sih naik kereta sekitar tapi karena nggak kita pake jadi kurang tau banyak. 
Erlian - kota perbatasan menuju ke Mongolia 
Lintas Negara (Erlian - Zamyn Uud)
Untuk ngelewatin imigrasi Cina dan Mongolia, diharuskan untuk naik kendaraan. Sebenarnya jalan kaki bisa banget, kaya di perbatasan Kamboja - Thailand, tapi nggak diijinin sama pihak otoritas. Pas kita lagi lewatin gerbang imigrasi China, ada satu bule nekat jalan kaki hasilnya di-stop sama keamanan. Entah apa yg terjadi sama dia :D.
Pelangi di ujung itu Imigrasi China menuju Mongolia
Banyak banget kendaraan yang bisa disewa disekitaran perbatasan. Harganya juga variasi sih dari mulai 50 - 100 yuan/orang, tergantung nego. Mobilnya pun juga banyak jenisnya, dari mulai sedan, van sampai jeep bapuk macam yang kami naikin. Kebetulan barengan kami ada Softa, cewe asli orang Mongol. Dia barengan kita naik bus yang sama dari Beijing ke Erlian. Disarankan sih untuk mencari teman buat sharing sewa kendaraan biar lebih murah sih. 
penampakan jeep sewaan yang kami naikin
Zamyn Uud - Ulaanbaatar
Setelah lewat imigrasi China kemudian Mongolia, perjalanan lanjut lagi naik kendaraan menuju Zamyn Uud. Sampai di Zamyn Uud langsung ke gedung stasiun untuk beli tiket kereta Zamyn Uud - UB. Harganya MNT 35.000 untuk kelas soft sleeper train. Kereta berangkat jam 6 sore dan tiba di UB jam 8 pagi keesokan harinya. Karena kami berempat, jadinya dapat satu kompartemen. Softa teman kami sudah pergi duluan ke UB jadi nggak barengan lagi. 
tiba di Zamyn Uud dan disambut badai pasir yang dingin brrrr...
Kereta Mongolia itu kereta jadul, beda banget sama sleeper train di Cina. Nggak ada AC dan emang nggak perlu AC juga sih.Walaupun summer udaranya lumayan dingin kalau malam hari. Udah gitu pemanas airnya masih pake kayu bakar hehehhe. Penerangan juga minimalis banget dan kalo mau charger gadget nggak bisa di dalam kompartemen. Jangan lupa beli noodle cup dan air minum di supermarket sekitar biar lebih hemat. Sebenernya ada sih yang jualan di atas kereta, tapi kurang tau juga harganya berapa.

Jadi total biaya transporatasi dari Beijing sampai ke Ulaanbaatar itu
Beijing - Erlian = Yuan 220 = Rp 468.600 
Mobil nyebrang border = Yuan 60 = Rp 127.800
Train Soft Sleeper Zamyn Uud - UB = MNT 35.000 = 245.000
Total 841.400. Murah kaaann!!! :D, dibanding naik pesawat atau kereta langsung loh!
Harga diatas nggak termasuk visa ya. Kalau untuk Visa Mongolia bisa dibaca disini 

Pemandangan sepanjang perjalanan Zamyn Uud - Ulaanbaatar

August 24, 2015

Tiada hari tanpa daging kambing di Mongolia

Biasanya kalo hobi jalan-jalan (traveler, tourist or whatever you named it) ada beberapa orang yang akan mencari dan mencoba-coba makanan lokal di daerah/negara tersebut. Gue bukan pejalan yang seperti itu sih. I'm not a foodie. Jadi buat gue kalo lagi di dalam perjalanan, makan adalah sebuah kewajiban untuk sekedar mengisi perut dan penambah tenaga. Bukan yang harus mati-matian untuk mencari makanan asli daerah itu. Sebenernya lebih mencari aman sih.
Porsi besar : daging kambing + pasta, roti, nasi + sayur :D

Mutton oh mutton 
Buat gue yang kagak doyan makan daging kambing (mutton), tujuh hari di Mongolia itu adalah sebuah penyiksaan *lebay*. Bukan karena takut kolesterol naik tapi emang nggak suka aja sama baunya daging kambing. Hari pertama makan siang disuguhin daging kambing tumis pake 3 karbo; nasi, makaroni dan roti. Sayurnya dikit, cuma timun dan wortel di iris tipis2. Gue masih memaksakan diri untuk makan, karena tau there is no other option for me. Eat or not eat, kenyang atau kelaparan.

atas kiri : sup kambing + mie, atas kanan: sarapan salad buah + telur (no mutton, YEAY!!)
bawah kiri: tumis daging kambing dengan paprika (makannya pake nasi), bawah kanan: Buuz
Khuushuur
Makan malam pertama, Buuz atau dumpling with mutton filling. Please, don't get me wrong, makanan Mongolia itu enak. Bumbunya tidak se tawar kalau lagi makan di Cina. Cuma mungkin karena gue ga suka kambing jadinya yaa... nggak ke makan juga tuh dumpling. Alhasil cuma makan kulitnya aja. Sementara daging kambingnya cuma diicip sedikit. Sisanya kasih ke teman yang bersedia menampung hehehe. Keesokan paginya, sarapan dikasih roti + selai + butter, dan omelet with mutton sausage. Another mutton hahahahaha. Omeletnya gue embat sosinya gue singkirin. Selebihnya bisa ditebak sendiri, tiada hari tanpa daging kambing sampai hari terakhir ikutan tour. Dari pagi, siang sampai malam tiap hari pasti akan ada menu daging kambing. Dibuat soup, dibuat campuran untuk mie goreng atau pastel dll. Gue yakin banget buat kalian para penggemar daging kambing, pasti akan menganggap Mongolia sebagai surga. Cuma satu makanan Mongolia yang bisa gue  makan sampai habis. Namanya Khuushuur. Semacam pastel yang isinya daging kambing. Dimakannya yang pasti pake saos sambal dari Indonesia, biar nggak terlalu berasa daging kambingnya sih.

Sempat dikasih menu yang beda, waktu makan pagi dikasih menu nasi dicampur sama ikan kalengan, Duh, rasanya surga banget. Bahagia banget bisa makan ikan pada saat itu. Mongolia itu nggak punya hasil laut, karena memang nggak punya laut sih. Jadi produk ikannya paling hanya yang kalengan. Kalau daging ayam juga jarang banget, termasuk gue jarang lihat ayam di daerah luar Ulanbaatar. Sekalinya makan ayam itu cuma di malam terakhir di Mongolia, itupun di restoran di Ulaanbaatar. Daging sapi sih katanya cuma ada pada saat winter. Untungnya selama di Mongolia sempat bawa makanan dari Indonesia, kayak abon dan tempe orek, jadi masih ketolong lah yaaa.
akhirnya makan ayam :D
Bersukurlah kita orang Indonesia yang makanannya beragam, bisa dimakan kapan saja tanpa memandang musim. And I really mean it! Like really :D.

Note:
Foto dibawah ini susu sapi yang sudah dimasak terus didinginin. Bagian atasnya yang sudah mengental diambil untuk olesan roti. Sumprit enak banget *gleg*



August 4, 2015

Horornya toilet di Cina dan Mongolia

Toilet di Cina.
Sudah beberapa kali gue dengar cerita tentang toilet di Cina dari teman-teman yang sudah pergi ke negaranya Uncle Mao. Dari yang mulai jijik, sumpah serapah sampai kapok dan ogah untuk datang lagi ke negeri itu karena ya toilet-nya yang super mengerikan. Masih belum kebayang sih sebenernya kayak apaan tuh toilet. Kalau masalah bau sih, ya udah lah yaaaa, toilet di terminal di Indonesia juga bau gitu deh. Ketika akhirnya gue pergi kesana tepatnya ke Xi'an dan Beijing, dari Jakarta gue sudah mempersiapkan diri dengan segala macam tisue kering dan basah yang lebih banyak dari biasanya. Karena aga parno dengan toiletnya, jadinya gue lebih banyak nahan pipis dan ogah minum (please don't do this) waktu di China. Kalau nggak kebelet banget pasti gue akan tahan sampai di penginapan. Sebelum keluar dari penginapan pun gue 'memaksa' diri untuk mengeluarkan semua sisa-sisa makanan hehehehe. Di Xi'an dan Beijing gue ga banyak ngalamin toilet yang buruk. Di Great Wall China - Mutianyu pun toiletnya bersih nggak jorok seperti yang dibilang teman-teman. Mungkin karena kota besar dan tempat wisata makanya kebersihan toiletnya dijaga banget. Toilet di kereta sleeper pun juga bersih dan nggak horor.

Pengalaman horor justru kejadian waktu perjalanan dari Beijing ke Erlian (kota perbatasan). Sleeper yang kita naikin toiletnya nggak bisa dipakai entah kenapa. Dan sebagaimana layaknya bus pasti akan berhenti dan istirahat untuk makan. Jadilah bus kita berenti di daerah entah apa namanya untuk makan malam dan hal pertama yang gue lakukan adalah ke toilet. JENG JENG.... begitu buka pintu bus yang kecium adalah bau pesing yang sungguh amat semerbak. Belum sampe depan gedung toilet gue udah liat ibu-ibu selorotin celananya dan kencing disamping gedung toilet. Makin deg-degan. Akhirnya dengan keberanian membara gue pun masuk dan sudah dipastikan baunya nggak terkira. Sampah dimana-mana dan dinding bilik toilet cuma 1 meter aja tingginya dan nggak ada pintu. Tanpa liat  kiri kanan lagi gue cuma cari toilet yang "aga bersih" dan cepet2 menyelesaikan urusan. Sambil tahan napas akhirnya sukses keluar tanpa pingsan. Toilet ke dua yang gue datengin di Cina ketika hampir sampe di Erlian juga nggak lebih baik sih. Hanya gedung tak berpintu, toiletnya pun nggak ada biliknya cuma dua lubang aja dan sampah tisue dimana-mana.

Toilet di Mongolia

Trauma dengan toilet di Cina dan toilet selama perjalanan di Mongolia jadinya ketemu toilet flush itu rasanya bahagia banget. Apalagi ini adalah toilet tempat kita akan tinggal satu malam. Plus ada kamar mandinya juga. Maklum sudah tiga hari kita nggak mandi selama perjalanan dari Beijing ke Kharkhorin heheheh. Itupun mandi harus bayar 3000 tugruk (Rp 21.000). Kalau mandi dekat Mini Gobi malah lebih mahal sekitar 10.000 tugruk (Rp 70.000) Selama di Mongolia kami tinggal di Ger. Ada yang tourists ger ada juga yang Ger-nya asli Nomad Family. Kalau beruntung bisa dapat tourist ger yang ada toilet flushnya dan kamar mandi walaupun harus bayar. Sepertinya mandi itu barang mewah di Mongolia karena air nggak banyak dan mungkin juga karena udara dingin.

Kalau tinggal di Ger milik Nomadic Family sudah dipastikan toiletnya kaya gambar disamping ini. Cuma ada tiga dinding dan nggak ada pintu. Satu lobang besar dengan dua balok kayu buat pijakan kaki. Dan pastinya nggak ada air. Gue bilangnya "toilet with a view" karena emang sambil kita nongkrong view di depan kita bagus banget hehehehe. Dan mungkin karena udara terbuka dan hawanya dingin bau pesing malah nggak kecium sama sekali. Tapi tetep donk gue nggak berani sama sekali untuk liat ke lobang, Hiiiyyyy.

Saking traumanya dengan toilet selama di Mongolia, kalo sedang dalam perjalanan, gue lebih memilih pipis di pinggir jalan di balik semak daripada harus mampir ke toilet yang horor ituh. Awalnya si agak malu2 tapi lama-lama kebal juga karena yang kaya gini udah lumrah, Banyak banget  gue liat orang berenti pinggir jalan untuk pipis hehehehe.

Emang harus kuat mental sih kalau berhubungan dengan urusan ke belakang ini. Kalau orangnya jijik-an alamat yu dadah babay hahahahah.

July 6, 2015

Mongolia, I'm coming!

Ngurus visa Mongol adalah pengurusan visa yang menurut gue cukup mengeluarkan effort yang lumayan nguras emosi dan juga kantong. Persyaratannya sebenernya mudah. Yang diperlukan cuma passport berlaku minimal 6 bulan, copy passport, surat referensi bekerja, isi form visa dan invitation letter approval dari kementrian di Mongolia. Gampang kan? NOT!! Yang ribet itu adalah mendapatkan Surat Undangan dari salah satu tour di Mongolia untuk kemudian di verifikasi oleh Kementrian disana.

Untuk mendapatkan surat itu, gw dan teman2 yang lain harus cari-cari kira-kira tour mana yang bisa memberikan invitation letter tersebut. Biasanya kalo ambil paket tour di salah satu agent mereka akan dengan senang hati membuatkan invitation letter tersebut secara gratis. Nah, bagaimana kalo kita ga mau ikutan tour mereka? Caranya ya dengan membeli surat itu dari si tour agent. Setelah cari cari akhirnya dapet Tour Agent yang bisa ngeluarin Invitation Letter untuk kita, namanya Khongor - Expedition dengan harga yang kita dapat harga USD 20.00/orang (aselik mahal banget!!) untuk surat undangan tersebut. Ini udah yang termurah yang bisa kita dapetin. Selebihnya minta USD 30 - 50/ orang. Syaratnya dengan ngasih copy passport dan bayar di muka. Bisa melalui transfer atau juga Western Union (tergantung dari tour agentnya). Setelah semua syarat terpenuhi kita harus menunggu selama kurang lebih 3 minggu untuk mendapatkan persetujuan dari Kementrian di UlaanBaatar (UB). Yak benar, 3 minggu sodara-sodara! Makanya kalo mau ke Mongol bener2 harus dipikirin deh waktunya.

Dua minggu kemudian akhirnya surat itu keluar juga dan kami harus menghubungi Kedutaan Mongolia di Jakarta untuk memastikan apakah proses aplikasi visa sudah bisa kami lakukan. Sayangnya setelah beberapa kali bertanya ternyata surat yang dimaksud belum ada di kedutaan, mulai frustasi karena menurut agent surat kami seharusnya sudah ada dan lagi-lagi pihak kedutaan mengatakan kalau surat kami belum masuk ke dalam sistem mereka. Tak lama agent kami di UB info kalau pihak kementrian salah memasukkan tanggal kedatangan kami di Mongolia dan dengan sangat terpaksa proses persetujuan harus di ulang lagi. Untungnya karena kesalahan dilakukan oleh pihak kementrian proses tersebut tidak harus menunggu lama. Cukup tiga hari saja akhirnya surat sakti keluar dan pihak kedutaan langsung hubungin teman kami melalui email kalau proses visa sudah bisa dimulai.

Selese dengan urusan kumpulin dokumen, gue ngewakilin teman2 yang lain untuk apply visa. Kebetulan juga tuh Kedutaan Mongolia (klik disini untuk detail kedutaan) lokasinya dekat dengan kantor gue, tinggal ngesot doank udah nyampe deh. Jam 9 pagi, udah duduk manis di reception sambil nunggu konsulernya ngecek persyaratan dokumen.Terus gue disuruh nunggu, mungkin untuk pengecekan lebih lanjut. Empat puluh lima menit (yoiiih, lama banget nunggunya) kemudian si konsuler keluar dengan membawa 4 paspor yang ternyata visanya udah jadi. Agak bengong juga kirain malah tiga hari karena di websitenya bilangnya visa jadi tiga hari setelah dokumen diserahkan. Pantes gue disuruh nunggu lama banget.

Setelah bayar visa fee gue pun cabut dari kedutaan. Harga Visa Mongolia Single Entry itu USD 70/orang. Jadi total untuk dapetin visa adalah USD 90.00. Mahal? Banget!

Mongolia better be worthy! I'm so coming to you Mongolia! Woohoo!



February 6, 2015

Ciletuh Geopark, never ending journey

Pantai Ciletuh
Pagi-pagi buta gue dan 9 orang teman yang lain nongkrong di Polsek Cibadak, bukan karna ada masalah dengan kriminalitas tapi karna nungguin kendaraan yang akan membawa kami ber-sepuluh ke Ciletuh GeoPark.

Udah pernah denger Ciletuh Geopark sebelumnya? Belom?! Sama donk!. 
Kalo ga karna ditawarin untuk pergi kesini mungkin gue nggak akan pernah mudeng kalo ada tempat dengan nama Ciletuh. Ciletuh Geopark ini tetangganya Ujung Genteng sama Pelabuhan Ratu. Tapi jalannya beda  masih bingung jelasin lewat mananya hehehe, yang sama cuma jalannya rusak aja sih plus jauhhhhh.

penampakan di dalam mobil :D
Kali ini pergi agak beda dengan tempat wisata yang lain, bukan naik angkot, tidak juga dengan kendaraan pribadi apalagi pake helikopter tapi menggunakan kendaraan 4WD yang kita sewa rame-rame. Kenapa harus pake 4WD karena konon menurut bacaan berapa orang2 yang sudah kesana duluan kendaraan ini adalah yang paling tepat untuk explore Ciletuh. Jalan rusak berat.

off road
Jam 4 pagi kami bersepuluh sudah duduk manis di dalam kendaraan LandRover jadoel tahun 63. Duduknya hadap-hadapan cyiiin. Persis kayak naik angkot. Bedanya kalo angkot posisinya 4 dan 6, kalo yang ini 4 dan 4, yang dua lagi duduk di depan disamping pak supir. Dengkul dempet-dempetan, pokoknya mesra banget deh. Empat jam kemudian, setelah melewati beberapa daerah yang entah namanya apa yang pastinya pemandangannya ciamik punya, kalo kata Fajar kayak di Hawaii -_-, kita sampe di Desa Taman Jaya, Kecamatan Ciemas ((iyeee bener lo ga salah baca, 4 jam perjalanan Cibadak - Ciletuh, harap dicatat dengan medan jalan yang.......... yaaaaa gitu deeehh)). Di Desa Taman Jaya inilah tempat kami menginap selama di Ciletuh.
Kendaraan selama dua hari, cakep yak ;)

Jadi,... ini yang gue lihat di selama di Ciletuh Geopark.

Spot 1: Puncak Darma
stuck bentaran, terpaksa turun untuk
ngurangin beban mobil
Perjalanannya bener2 nguras tenaga, emosi dan nguji adrenalin. Jalanan rusak, berlubang, berbatu tajam, banjir, kubangan air, sampe tanah merah yang licin dibablas abis sama pak Adong sang supir 4WD. Boro-boro mau tidur, dari mulai naik sampe tiba di Puncak Darma kita semuanya terguncang-guncang nggak henti. Perjalanan makin lama karena kadang suka salah jalan. Dari mulai mendung, hujan gerimis, hujan berenti sampai matahari bersinar terang kembali dan semuanya sudah pasrah mau dibawa kemana padahal waktu sudah berjalan 2 jam. Puncaknya ketika kami harus turun dari kendaraan karena terhalang jembatan yang tidak bisa dilewati.

Mungkin kedengeran klise yak, tapi perjalanan hampir 3 jam naik ke Puncak Darma beneran kebayar dengan view Amphiteater Teluk Ciletuh. Kami beruntung karena matahari bersinar terang (baca: panas gelaaaaaa). Perpaduan warna biru air laut ketemu sama warna cokelat dari sungai Ciletuh makin terlihat kinclong dibawah terik sinar matahari. Di sebelah kiri pantai, hamparan sawah warna hijau juga terbentang luas manjain mata banget. Pokoknya cakep banget dah.

Teluk Ciletuh dari Puncak Darma

Spot 2 : Curug Cimarinjung
*Gue nyebutnya Cimanjuring, karena mirip banget namanya sama Conjuring. Arusnya deras banget, persis pelem conjuring, serem :D* 
Puas dengan Puncak Darma, perjalanan lanjut turun ke Curug Cimarinjung. Nah, jalan turun inih malah makin gila2an dibanding sebelumnya. Jarak Puncak Darma ke Curug Cimarinjung sebenernya cuma 1 km (menurut guide) tapi medan perjalanannya gokil abis. Gue  ngerasa mobil yang kita naikin hampir terbalik karena miringnya bisa 20 derajat, rasanya pengen aja gitu loncat dari mobil karena kebetulan gue duduk didepan. Tapi emang supirnya jagoan banget deh. Para penumpangnya udah ketar ketir ketakutan dianya cuma cengangas cengenges aja sambil tenangin kita. 

Curug Cimarinjung
Curug Cimarinjung ini kece berat, dinding batu dengan warna yang aga cokelat kemerahan ditumbuhin sama tanaman warna hijau yang makin bikin kontras. Kebetulan saat itu arusnya lagi deres banget plus warna airnya cokelat. Warna cokelat ini juga akibat penambangan emas disekitar daerah Ciemas, menurut Kang Poyo. Curug ini posisinya dekat dengan pantai dan bisa terlihat juga dari pantai.

Spot 3: Pantai Ciletuh
Setelah makan siang di warung yang berdekatan dengan Curuh Cimarinjung, perjalanan lanjut lagi ke pantai Ciletuh. Pantai Ciletuh warna airnya cokelat karena memang tempat bermuaranya sungai Ciletuh dan tidak bisa untuk berenang karena airnya mengandung merkuri. Nggak heran kalau pantainya nggak rame. Biasanya penduduk sekitar berwisata naik perahu ke pulau sekitar. Ditempat ini banyak dibangun penginapan untuk pengunjung yang hendak menginap.

Spot 4: Curug Sodong

Curug Sodong
masih di Curug Sodong
Curug Sodong jaraknya agak jauh dari pantai Ciletuh tapi kondisinya jalannya mulai agak ramah walaupun masih banyak lubang disana-sini. Perjalanan menuju curug ini viewnya manjain mata banget. Dinding bukit dan sawah-sawah hijau sepanjang perjalanan bikin sejuk mata. Desa Ciwaru yang kami lewati cukup ramai karena di desa inilah kendaraan umum dari Pelabuhan Ratu berakhir. Curug Sodong waktu kami datangi sedang dalam tahap perapihan fasilitas berupa fasilitas parkir yang di konblok dan ada saung-saung tempat istirahat. Selain tukang-tukang yang sedang bekerja hanya kami sepuluh orang yang ada di sekitar curug. Jatuhan air dari curug ini ada dua ditambah cerukan batu yang menyerupai gua membuat curug ini emang beda dari curug sebelumnya. Pokoknya ga kalah cakep sih. Diatas Curug Sodong ada satu lagi curug, namanya Curug Cikanteh, sayangnya akses menuju ke Curug Cikanteh masih belum bisa dilewati karena masih belum selesai. Jadinya kami harus puas dengan Curug Sodong aja. Walaupun nggak main-main air, tapi baju kami basah karena percikan air dingin dari Curug Sodong tersebut.

Spot 5: Panenjoan View Point
Panenjoan View Point lokasinya dekat dengan tempat kami menginap. Di tempat ini kita bisa melihat pemandangan amphitheater berupa hamparan sawah berwarna hijau maha luas  sebenernya tergantung musim juga sih  serta Teluk Ciletuh dari kejauhan. Dinding berwarna hijau yang mengitari juga rata warnanya kayak di kelir pake krayon. Ketinggian view point ini sekitar 350 meter dari dasar dan yang agak mengerikan belum di pagar. Jadi harus hati-hati banget berdiri disini. Pemandangan sejuk di depan mata memang keren abis. Lumayan lama juga kita di tempat ini nikmatin pemandangannya.
Amphitheater Cletuh dari Panenjoan View Point - ijo royo royo
Spot 6: Curug Awang
Spot yang satu ini kami datangi di hari ke-2. Sedikit agak terlambat karna terkendala hujan yang cukup lebat. Jalan menuju ke Curug Awang sudah di paving dengan cantik. Beberapa saung didirikan untuk tempat istirahat sekaligus tempat untuk nikmati Curug Awang dari kejauhan dan sawah terasering yang hijau *kayak di Bali gitu deh*. Batu-batu besar juga ada di beberapa spot, sebenernya bukan beberapa sih tapi lumayan banyak. Agak kebawah sedikit sungai mengalir bertingkat membentuk air terjun. Yang keliatan cuma Curug Awang aja sih, karena sebenernya masih ada beberapa tingkat lagi sampai kebawah. Setelah menunggu beberapa lama hujan mulai reda dan kami lanjut untuk kemudian turun menuju Curug Awang.

Curug Awang
pemandangan sekitar Curug Awang
FYI, pada saat kami turun kebawah lanjutan paving dari atas belum belum selese sodarah-sodarah. Jadilah kita harus nggelosor diantara licinnya tanah dan batu-batuan. Lumayan juga turun kebawahnya dan terjal banget. Mungkin sekitar 70 - 100 meter. Karena kami ber-10, jadi lumayan lama juga turun kebawahnya karena harus ekstra hati-hati. Kebayang donk naiknya gimana? Harus manjat! :D

Selain tempat tempat diatas, masih banyak lagi tempat-tempat yang bisa dikunjungin di Ciletuh: Curug Puncak Manik, Curug Tengah, Curuh Cikanteh. Juga ada pulau-pulau sekitar yang bisa dikunjungi dengan menyewa perahu. Berhubung waktunya cuma dua hari jadi hanya spot spot di atas yang bisa kita datangi.

full team

How to go:
1. Naik kendaraan Umum :
    Rute : Bus Jakarta - Sukabumi - Pelabuhan Ratu
    Rute : Elf Pelabuhan Ratu - Ciwaru
2. Naik mobil pribadi

How to Explore Ciletuh Geopark:
1. Sewa Ojek
2. Kendaraan Pribadi atau sewa (SUV lebih disarankan)
3. Sewa 4WD dari PAPSI  - sangat disarankan kalo mau puas explore Ciletuh.
FYI, saat tulisan ini dibuat, mereka hanya punya 3 armada : 2 armada muat untuk 10 orang (long vehicle), 1 armada muat 4 orang (short vehicle)

Warning : Ciletuh Geopark masih sangat asri dan bersih. So, please keep this beautiful place clean and free from trash.

Happy Exploring Ciletuh Geopark!! 

January 12, 2015

Transportasi 9 hari selama traveling di Jepang.

"Ke Jepang itu harus beli JR pass ga sih?" Nggak juga
"Katanya di Tokyo ribet banget ya subwaynya." Nggak Juga 
"Di Jepang kan transportasinya mahal, kalo mau murah kira-kira naik apa ya?" banyaaakkkk
"Taxi mahal ya di Jepang?" bangettttttt 

Pertanyaan-pertanyaan di atas yang mampir ke gue ketika mereka mau traveling ke Jepang. Jujur, pertanyaan yang sama juga gue tanyain ke temen gue ketika gue mau traveling ke Jepang sih :D. Jadi ceritanya gue mau sharing tentang pengalaman transportasi yang gue alami selama di Jepang tanpa beli JR Pass sama sekali. Secara eike traveling modal pas2an.

Perjalanan gue ke Jepang itu 23 Oktober - 2 November 2014. Masuk dari KIX Osaka dan keluar Jepang dari Haneda. Kota-kota yang gue kunjungin adalah Osaka, Koya-san, Nara, Kyoto, Nikko dan Tokyo. Waktunya pas banget autumn nggak terlalu dingin tapi juga tidak panas. So I traveled at the right time I guess.  
Autumn Color
Day Pass
Day Pass Ticket - Kyoto Bus
Masing-masing kota di Jepang biasanya punya one-day-pass (utamanya di kota-kota besar) yang bisa dibeli dimana aja. Waktu di Osaka hari pertama gue beli one day pass subway yang harganya cuma 800 Yen. Pass ini bisa dipake naik subway sepuasnya selama satu hari untuk keliling kota Osaka tanpa harus keluarin duit lagi. Selain subway pass, Osaka juga menawarkan Osaka Amazing Pass yang harganya 2300 yen/hari. Harga tersebut sudah termasuk free pass masuk ke beberapa fasilitas wisata di Osaka dan juga diskon-diskon tertentu di tempat belanja.

Waktu di Kyoto hari ke 3, gue beli one-day-pass bus seharga 500 Yen. Sesuai fungsinya untuk naik bus sepuasnya di kota Kyoto. Dan setelah beberapa hari sebelumnya sudah naik kereta terus-terusan, sensasi ngerasain naik bus di Kyoto juga seru, lebih murah pula hehehhe.

Sedangkan di Tokyo gue beli Metro Subway Pass yang harganya 1000 Yen. Metro Subway pass ini tidak termasuk line JR. 

Kansai Thru Pass
Kansai Thru Pass
Kansai Thru Pass (KTP) adalah tiket yang bisa kita pakai untuk naik subway, bus, private railways di seluruh wilayah Kansai. Wilayah Kansai sendiri meliputi kota Osaka, Kyoto, Nara, Kobe (termasuk Shiga dan Wakayama). Two day pass KTP harganya 4000 Yen sedangkan yang Three Day Pass harganya 5200 Yen. Dengan beli pass ini kita bisa naik semua moda transportasi di wilayah Kansai kecuali JR Pass dan beberapa Line yang sudah ada di guide book. Jadi kalau kayak gue traveling ke Osaka, Nara, Koya-san, dan Kyoto gue beli KTP yang tiga hari seharga 5200 Yen. Pertanyaannya: emangnya tetap lebih murah? Bangettttt, gw kan orangnya OGI alias ogah rugi, jadi sebelum memutuskan untuk beli KTP ini sudah gue hitung dengan seksama untung ruginya hehehehe. Gimana cara ngitungnya? Coba lo buka google map Japan. Disitu bisa dilihat destinasinya lengkap dengan harga dan jam keberangkatan kereta. 

KTP bisa dibeli airport KIX dan juga travel-travel yang ditunjuk diwilayah Kansai. KTP hanya bisa dibeli oleh WN di luar Jepang dengan menunjukkan Passport. Waktu itu gue beli di KIX dan harus cash... arggghhhh. Kirain bisa pake kartu kredit ternyata kagak....KZL.

Sebenernya beli day pass ini sangat menguntungkan kalau kita bisa pakai dengan amat sangat maksimal. Selain itu juga lebih praktis karena kita tidak usah setiap saat membeli tiap kali mau naik subway atau bus. Yang saya maksudkan dengan maksimal adalah kalau kita beli day pass seharga 1000 Yen berarti tuh day pass harus dipakai minimal sama atau lebih. Contoh: Seharian gue keliling Tokyo dengan subway. Pergi ke Shibuya (ketemu sama Hachiko), Shinjuku, Harajuku, Tokyo Sky Tree, Asakusa, Tsukiji Fish Market, Akihabara (tempat lahirnya AKB 48). Harga tiket subway jarak dekat (1 - 2 stasiun) adalah 110 Yen tinggal dikali 6 tempat. Ini hanya jarak yang dekat. Sementara jarak dari Shinjuku ke Tokyo Sky Tree itu harganya bisa sekitar 330 Yen. Jadi kalau beli tiket ketengan yang ada gue bisa bangkrut di Jepang yak.

Traveling jarak jauh tanpa naik Shinkansen.
Perjalanan terjauh gue adalah dari Kyoto menuju ke Tokyo, karena naik kereta Shinkansen mahal sekitar 1,5 juta/way makanya gue lebih memilih naik Willer Bus  yang lebih murah meriah hehehehe. Lebih hemat lagi dengan mengambil perjalanan malam selama 8 jam karena ga usah ngeluarin biaya untuk penginapan. Harga Willer Bus Kyoto - Tokyo yang gue beli adalah 4300 Yen masih termasuk murah karena biasanya bisa sekitar 5000 - 6000 Yen sekali jalan. Busnya nyaman, ada selimut dan bisa reclining seat. 

'Gampangnya' naik subway di Tokyo
Yakaleeeeee gampang. Liat Subway map dibawah gue yakin lo semua pasti langsung pusing tujuh keliling. Jangankan gue, orang Jepangnya sendiri juga bingung liat nih subway map. Sebenernya Gue beruntung landing di Osaka terlebih dahulu, karena Osaka masih lebih "sepi" dibandingkan Tokyo. Walaupun aga kaget-kaget juga sih. Shibuya dan Shinjuku adalah dua stasiun subway yang paling besar dan rame. Salah-salah bisa nyasar di stasiun ini.

Berikut beberapa tips ala gue untuk naik subway di Tokyo
1. hindari jam-jam sibuk seperti di pagi hari dan sore hari saat para pekerja pergi dan pulang kantor disamping ga dapet duduk juga penuh bangetttt. Persis banget kaya naik kereta Commuter Line Jabodetabek bedanya kalo di Jepang masuknya antri. Tapi justru gue lebih hobi naik subway jam segitu karena keluarlah itu pria-pria Jepang necis berjas rapih dan wangi xixixixix. 
2. Beli tiket subway atau bus semuanya harus menggunakan uang cash, bahkan untuk beli tiket yang harganya 5200 Yen kaya KTP sekalipun (kalo dikurs sektiar 550 ribu rupiah) harus beli pakai uang cash.
3. Subway map dibawah ini harus dibawa kemanapun lo pergi, jangan sampai ketinggalan. Kalaupun ketinggalan masih bisa ambil lagi di tiap stasiun.
4. Malu bertanya sesat di jalan. Kalau mulai bingung, jangan malu untuk nanya cuy. Jangankan elo, orang Jepang sendiri pun juga mereka sering nanya ke petugas. Emangnya mereka bisa bahasa inggris? Orang Jepang itu adalah orang yang sangatlah helpful, mereka akan berusaha untuk membantu elo bagaimana pun caranya, termasuk nganterin ke tempat tujuan yang dimaksud.
5. Walk.. walk and walk. Masuk keluar subway harus naik turun tangga. Belum pindah dari line satu ke yang lainnya. Siapin betis cadangan yak ;)
Tokyo Subway Route Map

So, jadi itu sharing gue tentang pengalaman dengan transportasi Jepang. Any additional will follow.... kalo inget hehehehe.

January 9, 2014

Ijen-nya keren!!



Hawa dingin bersuhu empat belas derajat celcius menerpa wajah saya ketika membuka pintu mobil. Sendal saya basah pada saat melangkah di rumput. Paltuding belum lama di guyur hujan. Bulan sabit tampak terang di sisi timur sementara bintang-bintang berserakan di langit. Saat itu baru saja jam sembilan malam ketika kami tiba dengan selamat di Paltuding setelah menempuh perjalanan kurang lebih hampir delapan jam dari Madakaripura melewati Probolinggo - Bondowoso dan Situbondo. Saya dan Tino kemudian menuju Pos Ranger untuk laporan dan membayar uang masuk.

Di lapangan parkir tampak beberapa mobil sudah parkir dan ada satu truk berisi mahasiswa, belum terlalu rame tapi parkiran motor sudah meluber sampai keluar dari kapasitas. Kamipun mendaftar di Pos dan sempat berbincang dengan ranger saat itu. Saya, Tino, Ninik, Mira dan Milla cukup beruntung karena suhu Ijen saat ini terbilang cukup hangat. Suhu Ijen paling rendah terjadi di musim kemarau sektiar bulan Juni, Juli dan Agustus dengan titik terendah minus dua derajat. Ah.. senangnya datang pada saat yang tepat :D. Selesai dengan urusan lapor ke Posko kemudian kami tidur. Dengan pertimbangan efisiensi (baca : irit) kami tidak menyewa kamar melainkan tidur di mobil. Alasan yang sangat pas buat kami yang jalan-jalan rame makanya sewa mobil, walaupun budget sedikit membengkak tapi cukup worthed setelah kami jalani karena lebih santai dan tidak terburu-buru.

Dua jam kemudian kami bangun untuk bersiap-siap naik ke Ijen. Hujan yang turun cukup menghambat perjalanan kami. Seharusnya kami jalan mulai jam 12 malam tapi terpaksa harus menunggu sampai jam 1 subuh sampai sampai hujan reda. Kami putuskan untuk tidak memakai guide dan ikutan bergabung dengan grup lain yang kebetulan juga akan naik ke Ijen. Walaupun sebenernya kejar-kejaran sama guide yang kekeuh pengen nge-guide kami tapi kami berhasil meloloskan diri (sebenernya sih kabur hahahahah).

Hujan rintik masih terus mengiringi perjalanan kami menuju ke atas. Jalan setapak bener-bener gelap hanya diterangi oleh senter secukupnya. Perjalanan tiga kilometer nanjak ke atas ini sepertinya tidak ada habis-habisnya. Untuk sekelas saya yang hobby trekking mendatar bukan nanjak perjalanan nanjak ini membuat saya semaput setengah mampus tapi tetap bertekad harus sampe ke atas walopun dengan ini saya dan teman-teman yang lain harus berhenti tiap kali nanjak 50 meter hehehhehe. Dari kami berlima akhirnya satu orang melambaikan bendera putih dan kembali turun ke bawah bersama satu orang dari grup lain. Jarak dari Paltuding menuju puncak Ijen sekitar 3km dan sembilan puluh persennya nanjak semua ga ada bonus jalan menurun. Sekitar 500 meter terakhir barulah jalannya datar. Sampai di atas pastinya masih belum bisa liat apa-apa sih karena masih jam 3 pagi. Jadi perjalanan kami dari Paltuding sampe ke atas itu sekitar 2 jam, normalnya sih katanya 1,5 jam.

Dari bibir kawah saya bisa melihat api biru yang menjadi primadona. Tujuan kenapa kami mau naik ke atas tengah malam buta cuma pengen liat api biru yang terkenal yang hanya bisa dilihat pada saat gelap. Api biru yang saya lihat hanya kecil aja sebenernya, jika ingin melihat dari dekat kita harus turun lagi sekitar 800 meter dengan medan yang cukup curam dan berbatu serta gelap. Ketika Tino ngajak untuk turun kebawah melihat api biru lebih dekat saya langsung nyerah dan cukup puas dengan melihat dari ketinggian. Kalau harus turun dan kemudian naik lagi saya bisa semaput. Tino harus puas pergi sendiri (tanpa guide) karena kami tidak ada yang mau turun heheheheh.
 

yang sukses nanjak ke atas :D
Sambil nunggu Tino yang lagi mengujungi si api biru, saya, Ninik dan Mira nunggu di balik batu besar demi menghindar dari cuaca dingin. Sebenernya sih dinginnya masih tahan, anginnya cuy yang kaga santai >.<, pokoknya baju sudah empat lapis pake sarung tangan tambah kupluk masih aja bisa tembus. Satu-satunya benteng pertahanan melawan angin ya dengan berlindung dibalik batu besar deh. Ketika suasana terang menghampiri, yang terlihat adalah danau kawah yang berwarna toska plus asap belarang yang mulai naik. Danau kawah Ijen ini adalah salah satu yang terbesar di dunia cuy. Kalau di sekitar danaunya cantik. Turun kebawah balik ke arah Paltuding pemandangannya lebih juwara lagih ......... 

Udah ah, gag mau nulis banyak-banyak tentang Ijen. Tempat ini lebih seru kalo dilihat dan dipandangi. Indah banget. Walopun perjalanan nanjak banyak sumpah serapah.... begitu terang dan dalam perjalanan turun ke bawah lebih banyak memuji-muji betapa cakepnya kawah Ijen ini. A total Journey worth the view! ENJOY IJEN!

jualan patung dari sulfur




 






terjebak di kabut




October 21, 2013

Taman Wisata Alam (TWA) Angke Kapuk

Kalau bosen dengan tempat wisata Jakarta yang itu-itu aja, cobain datang ke Taman Wisata Alam Angke Kapuk. Buat kalian yang suka berinteraksi dengan alam mungkin ini salah satu pilihan yang OK buat didatengin. Karena gue sendiri suka dengan konsepnya.

Entrance tiket TWA ini adalah Rp 10.000/orang (murah yak) daaaann ditanyain bawa kamera atau nggak. Gue sih ngakunya ga bawa padahal tersimpan dengan manis di dalam tas :D. Bukannya ga boleh bawa kamera tapi akan dikenakan biaya sebesar Rp 1.000.000/ 7 orang!!! MAHALLLL... emang iya. Kenapa mereka charge mahal, karena tempat ini banyak dipakai untuk tempat photo pre-wedding. Jadi makin penasaranlah gue secakep apa sih tempat ini. Selain itu karena alasan itu sang pengelola juga menginginkan agar pengunjung yang datang banyak belajar dari sini bukan hanya sekedar fot-foto ajah.. gitchuuuu! Tapi menurut Budi kalo kamera poket doank boleh, ga tau bener atau kaga gue sendiri selama disana sembunyi-sembunyi fotonya xixixixix. Can't resist myself to take photos of this place >.<
bird view Taman Wisata Alam Angke Kapuk
Masuk ke kawasan ini kami disambut oleh hijau dan lebatnya hutan mangrove di kiri dan kanan jalan. Ada beberapa rumah kayu yang diperuntukkan untuk pengunjung jika ingin menginap. Beberapa bagian di TWA ini sedang di perbaiki dan beberapa juga dibangun. Ada sebuah rumah kayu yang cukup luas yang menurut Budi untuk tempat resepsi pernikahan. Lucu juga heheheh. Kemudian kami naik ke sebuah menara dimana kami bisa melihat landscape dari TWA ini. Disini kami mengeluarkan kamera kami dan memuaskan diri untuk foto2 hahahahaha. Dari Menara ini bisa terlihat pesawat yang take off dan landing di Soeta. Tak jauh bisa kelihatan Teluk Jakarta dan reklamasi yang sedang dilakukan oleh Pemda DKI.

Puas melihat-lihat dari atas kami pun turun untuk kemudian lanjut menyusuri jalan setapak dari kayu yang dibuat di atas air. Jalan ini juga digunakan untuk jalur bersepeda. Jalur ini rindang oleh pohon2 mangrove yang lebat di kiri dan kanan jalan. Kemudian kami mampir ke menara Bird Watching yang kirain cuma basa basi doank tapi ternyata emang beneranbanyak banget burung yang seliweran terbang kesana dan kemari. Ada yang putih, hitan.. ga tau apa nama burungnya yang pasti gue cukup terpesona dengan alam di sekitar. Turun dari menara gue sempet liat ular di dalam air rawa yang lagi berdiri entah ngapain yang pasti antara kagum dan takut. Kagum karena banyak juga satwa yang hidup dengan bebasnya di tempat ini. Takut karena ngeri tuh ular trus nyamperin gue yang lagi liatin dia ..... >.<
birds








Kami pun lanjut nyusurin jalan setapak kemudian ke arah jembatan. Dari jembatan ini bisa terlihat jalan tol menuju arah bandara yang sangat ramai. Walaupun kiri dan kanan hijau tapi polusi suara tidak bisa dihindari karena jaraknya masih cukup dekat dengan jalan tol dan juga suara pesawat yang sedang terbang di atas TWA ini cukup terdengar. Anyway buat gue suasana ini sudah cukup menyenangkan sih. Dengan udara yang segar dari pohon mangrove. Walapun airnya hijau *khas hutan mangrove* tapi tidak ada sampah alias bersih. Keliatan banget kalau tempat ini memang di kelola dengan baik.



Puas keliling foto dan melihat-lihat setelah Fajar dan Budi solat (masjidnya cantik!!!!) kami lanjut untuk melihat-lihat penginapan kemudian menuju ke arah laut. Sayangnya hari sudah gelap dan kami tidak  bisa berlama-lama disana disamping juga nyamuknya yang mulai mengganas. Mungkin lain waktu gue akan datang lagi ke tempat ini ;).

Oh iya, kalo mau datang ke tempat ini jangan lupa bawa mosquito repellent. Suwerrr nyamuknya ganas ganas. Namanya juga hutan yak.. what do you expect. Trus pake alas kaki yang nyaman dan flat karena permukaan jalan setapak terbuat dari potongan kayu jadi nggak rata gitu deh. Gue aja yg pake sneakers berasa capek banget ...
Mangrove Plantation
Information:
Entrance Ticket:
Domestic : Rp 10.000/pax
Foreigner : Rp 23.000/pax
Car : Rp 5.000/car
Bus : Rp 25.000/bus

Activities:
Camping
Nature Tourism
Mangrove Plantation
Canoeing ; Rp 50.000/canoe
Boat : Rp 50.000/boat -- row your own boat
Speed boat : Rp 200.000/boat -- for 6 person -- 40 minutes

How to get there by public transportation:
Busway TransJakarta heading Mall Pluit Village.
Take taxi to TWA Angke Rp 35.000 if you go 3 - 4 people. Or take angkot heading to Muara Angke/Karang stop at PIK intersection and then continue with red angkot to PIK and stop at Yayasan Buddha Tsu Chi. TWA is located behind the Buddha Tsu Chi Building. You just need to walk around 200 meters