February 6, 2015

Ciletuh Geopark, never ending journey

Pantai Ciletuh
Pagi-pagi buta gue dan 9 orang teman yang lain nongkrong di Polsek Cibadak, bukan karna ada masalah dengan kriminalitas tapi karna nungguin kendaraan yang akan membawa kami ber-sepuluh ke Ciletuh GeoPark.

Udah pernah denger Ciletuh Geopark sebelumnya? Belom?! Sama donk!. 
Kalo ga karna ditawarin untuk pergi kesini mungkin gue nggak akan pernah mudeng kalo ada tempat dengan nama Ciletuh. Ciletuh Geopark ini tetangganya Ujung Genteng sama Pelabuhan Ratu. Tapi jalannya beda  masih bingung jelasin lewat mananya hehehe, yang sama cuma jalannya rusak aja sih plus jauhhhhh.

penampakan di dalam mobil :D
Kali ini pergi agak beda dengan tempat wisata yang lain, bukan naik angkot, tidak juga dengan kendaraan pribadi apalagi pake helikopter tapi menggunakan kendaraan 4WD yang kita sewa rame-rame. Kenapa harus pake 4WD karena konon menurut bacaan berapa orang2 yang sudah kesana duluan kendaraan ini adalah yang paling tepat untuk explore Ciletuh. Jalan rusak berat.

off road
Jam 4 pagi kami bersepuluh sudah duduk manis di dalam kendaraan LandRover jadoel tahun 63. Duduknya hadap-hadapan cyiiin. Persis kayak naik angkot. Bedanya kalo angkot posisinya 4 dan 6, kalo yang ini 4 dan 4, yang dua lagi duduk di depan disamping pak supir. Dengkul dempet-dempetan, pokoknya mesra banget deh. Empat jam kemudian, setelah melewati beberapa daerah yang entah namanya apa yang pastinya pemandangannya ciamik punya, kalo kata Fajar kayak di Hawaii -_-, kita sampe di Desa Taman Jaya, Kecamatan Ciemas ((iyeee bener lo ga salah baca, 4 jam perjalanan Cibadak - Ciletuh, harap dicatat dengan medan jalan yang.......... yaaaaa gitu deeehh)). Di Desa Taman Jaya inilah tempat kami menginap selama di Ciletuh.
Kendaraan selama dua hari, cakep yak ;)

Jadi,... ini yang gue lihat di selama di Ciletuh Geopark.

Spot 1: Puncak Darma
stuck bentaran, terpaksa turun untuk
ngurangin beban mobil
Perjalanannya bener2 nguras tenaga, emosi dan nguji adrenalin. Jalanan rusak, berlubang, berbatu tajam, banjir, kubangan air, sampe tanah merah yang licin dibablas abis sama pak Adong sang supir 4WD. Boro-boro mau tidur, dari mulai naik sampe tiba di Puncak Darma kita semuanya terguncang-guncang nggak henti. Perjalanan makin lama karena kadang suka salah jalan. Dari mulai mendung, hujan gerimis, hujan berenti sampai matahari bersinar terang kembali dan semuanya sudah pasrah mau dibawa kemana padahal waktu sudah berjalan 2 jam. Puncaknya ketika kami harus turun dari kendaraan karena terhalang jembatan yang tidak bisa dilewati.

Mungkin kedengeran klise yak, tapi perjalanan hampir 3 jam naik ke Puncak Darma beneran kebayar dengan view Amphiteater Teluk Ciletuh. Kami beruntung karena matahari bersinar terang (baca: panas gelaaaaaa). Perpaduan warna biru air laut ketemu sama warna cokelat dari sungai Ciletuh makin terlihat kinclong dibawah terik sinar matahari. Di sebelah kiri pantai, hamparan sawah warna hijau juga terbentang luas manjain mata banget. Pokoknya cakep banget dah.

Teluk Ciletuh dari Puncak Darma

Spot 2 : Curug Cimarinjung
*Gue nyebutnya Cimanjuring, karena mirip banget namanya sama Conjuring. Arusnya deras banget, persis pelem conjuring, serem :D* 
Puas dengan Puncak Darma, perjalanan lanjut turun ke Curug Cimarinjung. Nah, jalan turun inih malah makin gila2an dibanding sebelumnya. Jarak Puncak Darma ke Curug Cimarinjung sebenernya cuma 1 km (menurut guide) tapi medan perjalanannya gokil abis. Gue  ngerasa mobil yang kita naikin hampir terbalik karena miringnya bisa 20 derajat, rasanya pengen aja gitu loncat dari mobil karena kebetulan gue duduk didepan. Tapi emang supirnya jagoan banget deh. Para penumpangnya udah ketar ketir ketakutan dianya cuma cengangas cengenges aja sambil tenangin kita. 

Curug Cimarinjung
Curug Cimarinjung ini kece berat, dinding batu dengan warna yang aga cokelat kemerahan ditumbuhin sama tanaman warna hijau yang makin bikin kontras. Kebetulan saat itu arusnya lagi deres banget plus warna airnya cokelat. Warna cokelat ini juga akibat penambangan emas disekitar daerah Ciemas, menurut Kang Poyo. Curug ini posisinya dekat dengan pantai dan bisa terlihat juga dari pantai.

Spot 3: Pantai Ciletuh
Setelah makan siang di warung yang berdekatan dengan Curuh Cimarinjung, perjalanan lanjut lagi ke pantai Ciletuh. Pantai Ciletuh warna airnya cokelat karena memang tempat bermuaranya sungai Ciletuh dan tidak bisa untuk berenang karena airnya mengandung merkuri. Nggak heran kalau pantainya nggak rame. Biasanya penduduk sekitar berwisata naik perahu ke pulau sekitar. Ditempat ini banyak dibangun penginapan untuk pengunjung yang hendak menginap.

Spot 4: Curug Sodong

Curug Sodong
masih di Curug Sodong
Curug Sodong jaraknya agak jauh dari pantai Ciletuh tapi kondisinya jalannya mulai agak ramah walaupun masih banyak lubang disana-sini. Perjalanan menuju curug ini viewnya manjain mata banget. Dinding bukit dan sawah-sawah hijau sepanjang perjalanan bikin sejuk mata. Desa Ciwaru yang kami lewati cukup ramai karena di desa inilah kendaraan umum dari Pelabuhan Ratu berakhir. Curug Sodong waktu kami datangi sedang dalam tahap perapihan fasilitas berupa fasilitas parkir yang di konblok dan ada saung-saung tempat istirahat. Selain tukang-tukang yang sedang bekerja hanya kami sepuluh orang yang ada di sekitar curug. Jatuhan air dari curug ini ada dua ditambah cerukan batu yang menyerupai gua membuat curug ini emang beda dari curug sebelumnya. Pokoknya ga kalah cakep sih. Diatas Curug Sodong ada satu lagi curug, namanya Curug Cikanteh, sayangnya akses menuju ke Curug Cikanteh masih belum bisa dilewati karena masih belum selesai. Jadinya kami harus puas dengan Curug Sodong aja. Walaupun nggak main-main air, tapi baju kami basah karena percikan air dingin dari Curug Sodong tersebut.

Spot 5: Panenjoan View Point
Panenjoan View Point lokasinya dekat dengan tempat kami menginap. Di tempat ini kita bisa melihat pemandangan amphitheater berupa hamparan sawah berwarna hijau maha luas  sebenernya tergantung musim juga sih  serta Teluk Ciletuh dari kejauhan. Dinding berwarna hijau yang mengitari juga rata warnanya kayak di kelir pake krayon. Ketinggian view point ini sekitar 350 meter dari dasar dan yang agak mengerikan belum di pagar. Jadi harus hati-hati banget berdiri disini. Pemandangan sejuk di depan mata memang keren abis. Lumayan lama juga kita di tempat ini nikmatin pemandangannya.
Amphitheater Cletuh dari Panenjoan View Point - ijo royo royo
Spot 6: Curug Awang
Spot yang satu ini kami datangi di hari ke-2. Sedikit agak terlambat karna terkendala hujan yang cukup lebat. Jalan menuju ke Curug Awang sudah di paving dengan cantik. Beberapa saung didirikan untuk tempat istirahat sekaligus tempat untuk nikmati Curug Awang dari kejauhan dan sawah terasering yang hijau *kayak di Bali gitu deh*. Batu-batu besar juga ada di beberapa spot, sebenernya bukan beberapa sih tapi lumayan banyak. Agak kebawah sedikit sungai mengalir bertingkat membentuk air terjun. Yang keliatan cuma Curug Awang aja sih, karena sebenernya masih ada beberapa tingkat lagi sampai kebawah. Setelah menunggu beberapa lama hujan mulai reda dan kami lanjut untuk kemudian turun menuju Curug Awang.

Curug Awang
pemandangan sekitar Curug Awang
FYI, pada saat kami turun kebawah lanjutan paving dari atas belum belum selese sodarah-sodarah. Jadilah kita harus nggelosor diantara licinnya tanah dan batu-batuan. Lumayan juga turun kebawahnya dan terjal banget. Mungkin sekitar 70 - 100 meter. Karena kami ber-10, jadi lumayan lama juga turun kebawahnya karena harus ekstra hati-hati. Kebayang donk naiknya gimana? Harus manjat! :D

Selain tempat tempat diatas, masih banyak lagi tempat-tempat yang bisa dikunjungin di Ciletuh: Curug Puncak Manik, Curug Tengah, Curuh Cikanteh. Juga ada pulau-pulau sekitar yang bisa dikunjungi dengan menyewa perahu. Berhubung waktunya cuma dua hari jadi hanya spot spot di atas yang bisa kita datangi.

full team

How to go:
1. Naik kendaraan Umum :
    Rute : Bus Jakarta - Sukabumi - Pelabuhan Ratu
    Rute : Elf Pelabuhan Ratu - Ciwaru
2. Naik mobil pribadi

How to Explore Ciletuh Geopark:
1. Sewa Ojek
2. Kendaraan Pribadi atau sewa (SUV lebih disarankan)
3. Sewa 4WD dari PAPSI  - sangat disarankan kalo mau puas explore Ciletuh.
FYI, saat tulisan ini dibuat, mereka hanya punya 3 armada : 2 armada muat untuk 10 orang (long vehicle), 1 armada muat 4 orang (short vehicle)

Warning : Ciletuh Geopark masih sangat asri dan bersih. So, please keep this beautiful place clean and free from trash.

Happy Exploring Ciletuh Geopark!! 

January 12, 2015

Transportasi 9 hari selama traveling di Jepang.

"Ke Jepang itu harus beli JR pass ga sih?" Nggak juga
"Katanya di Tokyo ribet banget ya subwaynya." Nggak Juga 
"Di Jepang kan transportasinya mahal, kalo mau murah kira-kira naik apa ya?" banyaaakkkk
"Taxi mahal ya di Jepang?" bangettttttt 

Pertanyaan-pertanyaan di atas yang mampir ke gue ketika mereka mau traveling ke Jepang. Jujur, pertanyaan yang sama juga gue tanyain ke temen gue ketika gue mau traveling ke Jepang sih :D. Jadi ceritanya gue mau sharing tentang pengalaman transportasi yang gue alami selama di Jepang tanpa beli JR (Japan Rail) Pass sama sekali. Secara eike traveling modal pas2an.

Perjalanan gue ke Jepang itu 23 Oktober - 2 November 2014. Masuk dari KIX Osaka dan keluar Jepang dari Haneda. Kota-kota yang gue kunjungin adalah Osaka, Koya-san, Nara, Kyoto, Nikko dan Tokyo. Waktunya pas banget autumn nggak terlalu dingin tapi juga tidak panas. So I traveled at the right time I guess.  
Autumn Color
Day Pass
Day Pass Ticket - Kyoto Bus
Masing-masing kota di Jepang biasanya punya one-day-pass (utamanya di kota-kota besar) yang bisa dibeli dimana aja. Waktu di Osaka hari pertama gue beli one day pass subway yang harganya cuma 800 Yen. Pass ini bisa dipake naik subway sepuasnya selama satu hari untuk keliling kota Osaka tanpa harus keluarin duit lagi. Selain subway pass, Osaka juga menawarkan Osaka Amazing Pass yang harganya 2300 yen/hari. Harga tersebut sudah termasuk free pass masuk ke beberapa fasilitas wisata di Osaka dan juga diskon-diskon tertentu di tempat belanja.

Waktu di Kyoto hari ke 3, gue beli one-day-pass bus seharga 500 Yen. Sesuai fungsinya untuk naik bus sepuasnya di kota Kyoto. Dan setelah beberapa hari sebelumnya sudah naik kereta terus-terusan, sensasi ngerasain naik bus di Kyoto juga seru, lebih murah pula hehehhe.

Sedangkan di Tokyo gue beli Metro Subway Pass yang harganya 1000 Yen. Metro Subway pass ini tidak termasuk line JR. 

Kansai Thru Pass
Kansai Thru Pass
Kansai Thru Pass (KTP) adalah tiket yang bisa kita pakai untuk naik subway, bus, private railways di seluruh wilayah Kansai. Wilayah Kansai sendiri meliputi kota Osaka, Kyoto, Nara, Kobe (termasuk Shiga dan Wakayama). Two day pass KTP harganya 4000 Yen sedangkan yang Three Day Pass harganya 5200 Yen. Dengan beli pass ini kita bisa naik semua moda transportasi di wilayah Kansai kecuali JR Pass dan beberapa Line yang sudah ada di guide book. Jadi kalau kayak gue traveling ke Osaka, Nara, Koya-san, dan Kyoto gue beli KTP yang tiga hari seharga 5200 Yen. Pertanyaannya: emangnya tetap lebih murah? Bangettttt, gw kan orangnya OGI alias ogah rugi, jadi sebelum memutuskan untuk beli KTP ini sudah gue hitung dengan seksama untung ruginya hehehehe. Gimana cara ngitungnya? Coba lo buka google map Japan. Disitu bisa dilihat destinasinya lengkap dengan harga dan jam keberangkatan kereta. 

KTP bisa dibeli airport KIX dan juga travel-travel yang ditunjuk diwilayah Kansai. KTP hanya bisa dibeli oleh WN di luar Jepang dengan menunjukkan Passport. Waktu itu gue beli di KIX dan harus cash... arggghhhh. Kirain bisa pake kartu kredit ternyata kagak....KZL.

Sebenernya beli day pass ini sangat menguntungkan kalau kita bisa pakai dengan amat sangat maksimal. Selain itu juga lebih praktis karena kita tidak usah setiap saat membeli tiap kali mau naik subway atau bus. Yang saya maksudkan dengan maksimal adalah kalau kita beli day pass seharga 1000 Yen berarti tuh day pass harus dipakai minimal sama atau lebih. Contoh: Seharian gue keliling Tokyo dengan subway. Pergi ke Shibuya (ketemu sama Hachiko), Shinjuku, Harajuku, Tokyo Sky Tree, Asakusa, Tsukiji Fish Market, Akihabara (tempat lahirnya AKB 48). Harga tiket subway jarak dekat (1 - 2 stasiun) adalah 110 Yen tinggal dikali 6 tempat. Ini hanya jarak yang dekat. Sementara jarak dari Shinjuku ke Tokyo Sky Tree itu harganya bisa sekitar 330 Yen. Jadi kalau beli tiket ketengan yang ada gue bisa bangkrut di Jepang yak.

Traveling jarak jauh tanpa naik Shinkansen.
Perjalanan terjauh gue adalah dari Kyoto menuju ke Tokyo, karena naik kereta Shinkansen mahal sekitar 1,5 juta/way makanya gue lebih memilih naik Willer Bus  yang lebih murah meriah hehehehe. Lebih hemat lagi dengan mengambil perjalanan malam selama 8 jam karena ga usah ngeluarin biaya untuk penginapan. Harga Willer Bus Kyoto - Tokyo yang gue beli adalah 4300 Yen masih termasuk murah karena biasanya bisa sekitar 5000 - 6000 Yen sekali jalan. Busnya nyaman, ada selimut dan bisa reclining seat. 

'Gampangnya' naik subway di Tokyo
Yakaleeeeee gampang. Liat Subway map dibawah gue yakin lo semua pasti langsung pusing tujuh keliling. Jangankan gue, orang Jepangnya sendiri juga bingung liat nih subway map. Sebenernya Gue beruntung landing di Osaka terlebih dahulu, karena Osaka masih lebih "sepi" dibandingkan Tokyo. Walaupun aga kaget-kaget juga sih. Shibuya dan Shinjuku adalah dua stasiun subway yang paling besar dan rame. Salah-salah bisa nyasar di stasiun ini.

Berikut beberapa tips ala gue untuk naik subway di Tokyo
1. hindari jam-jam sibuk seperti di pagi hari dan sore hari saat para pekerja pergi dan pulang kantor disamping ga dapet duduk juga penuh bangetttt. Persis banget kaya naik kereta Commuter Line Jabodetabek bedanya kalo di Jepang masuknya antri. Tapi justru gue lebih hobi naik subway jam segitu karena keluarlah itu pria-pria Jepang necis berjas rapih dan wangi xixixixix. 
2. Beli tiket subway atau bus semuanya harus menggunakan uang cash, bahkan untuk beli tiket yang harganya 5200 Yen kaya KTP sekalipun (kalo dikurs sektiar 550 ribu rupiah) harus beli pakai uang cash.
3. Subway map dibawah ini harus dibawa kemanapun lo pergi, jangan sampai ketinggalan. Kalaupun ketinggalan masih bisa ambil lagi di tiap stasiun.
4. Malu bertanya sesat di jalan. Kalau mulai bingung, jangan malu untuk nanya cuy. Jangankan elo, orang Jepang sendiri pun juga mereka sering nanya ke petugas. Emangnya mereka bisa bahasa inggris? Orang Jepang itu adalah orang yang sangatlah helpful, mereka akan berusaha untuk membantu elo bagaimana pun caranya, termasuk nganterin ke tempat tujuan yang dimaksud.
5. Walk.. walk and walk. Masuk keluar subway harus naik turun tangga. Belum pindah dari line satu ke yang lainnya. Siapin betis cadangan yak ;)
Tokyo Subway Route Map

So, jadi itu sharing gue tentang pengalaman dengan transportasi Jepang. Any additional will follow.... kalo inget hehehehe.

January 9, 2014

Ijen-nya keren!!



Hawa dingin bersuhu empat belas derajat celcius menerpa wajah saya ketika membuka pintu mobil. Sendal saya basah pada saat melangkah di rumput. Paltuding belum lama di guyur hujan. Bulan sabit tampak terang di sisi timur sementara bintang-bintang berserakan di langit. Saat itu baru saja jam sembilan malam ketika kami tiba dengan selamat di Paltuding setelah menempuh perjalanan kurang lebih hampir delapan jam dari Madakaripura melewati Probolinggo - Bondowoso dan Situbondo. Saya dan Tino kemudian menuju Pos Ranger untuk laporan dan membayar uang masuk.

Di lapangan parkir tampak beberapa mobil sudah parkir dan ada satu truk berisi mahasiswa, belum terlalu rame tapi parkiran motor sudah meluber sampai keluar dari kapasitas. Kamipun mendaftar di Pos dan sempat berbincang dengan ranger saat itu. Saya, Tino, Ninik, Mira dan Milla cukup beruntung karena suhu Ijen saat ini terbilang cukup hangat. Suhu Ijen paling rendah terjadi di musim kemarau sektiar bulan Juni, Juli dan Agustus dengan titik terendah minus dua derajat. Ah.. senangnya datang pada saat yang tepat :D. Selesai dengan urusan lapor ke Posko kemudian kami tidur. Dengan pertimbangan efisiensi (baca : irit) kami tidak menyewa kamar melainkan tidur di mobil. Alasan yang sangat pas buat kami yang jalan-jalan rame makanya sewa mobil, walaupun budget sedikit membengkak tapi cukup worthed setelah kami jalani karena lebih santai dan tidak terburu-buru.

Dua jam kemudian kami bangun untuk bersiap-siap naik ke Ijen. Hujan yang turun cukup menghambat perjalanan kami. Seharusnya kami jalan mulai jam 12 malam tapi terpaksa harus menunggu sampai jam 1 subuh sampai sampai hujan reda. Kami putuskan untuk tidak memakai guide dan ikutan bergabung dengan grup lain yang kebetulan juga akan naik ke Ijen. Walaupun sebenernya kejar-kejaran sama guide yang kekeuh pengen nge-guide kami tapi kami berhasil meloloskan diri (sebenernya sih kabur hahahahah).

Hujan rintik masih terus mengiringi perjalanan kami menuju ke atas. Jalan setapak bener-bener gelap hanya diterangi oleh senter secukupnya. Perjalanan tiga kilometer nanjak ke atas ini sepertinya tidak ada habis-habisnya. Untuk sekelas saya yang hobby trekking mendatar bukan nanjak perjalanan nanjak ini membuat saya semaput setengah mampus tapi tetap bertekad harus sampe ke atas walopun dengan ini saya dan teman-teman yang lain harus berhenti tiap kali nanjak 50 meter hehehhehe. Dari kami berlima akhirnya satu orang melambaikan bendera putih dan kembali turun ke bawah bersama satu orang dari grup lain. Jarak dari Paltuding menuju puncak Ijen sekitar 3km dan sembilan puluh persennya nanjak semua ga ada bonus jalan menurun. Sekitar 500 meter terakhir barulah jalannya datar. Sampai di atas pastinya masih belum bisa liat apa-apa sih karena masih jam 3 pagi. Jadi perjalanan kami dari Paltuding sampe ke atas itu sekitar 2 jam, normalnya sih katanya 1,5 jam.

Dari bibir kawah saya bisa melihat api biru yang menjadi primadona. Tujuan kenapa kami mau naik ke atas tengah malam buta cuma pengen liat api biru yang terkenal yang hanya bisa dilihat pada saat gelap. Api biru yang saya lihat hanya kecil aja sebenernya, jika ingin melihat dari dekat kita harus turun lagi sekitar 800 meter dengan medan yang cukup curam dan berbatu serta gelap. Ketika Tino ngajak untuk turun kebawah melihat api biru lebih dekat saya langsung nyerah dan cukup puas dengan melihat dari ketinggian. Kalau harus turun dan kemudian naik lagi saya bisa semaput. Tino harus puas pergi sendiri (tanpa guide) karena kami tidak ada yang mau turun heheheheh.
 

yang sukses nanjak ke atas :D
Sambil nunggu Tino yang lagi mengujungi si api biru, saya, Ninik dan Mira nunggu di balik batu besar demi menghindar dari cuaca dingin. Sebenernya sih dinginnya masih tahan, anginnya cuy yang kaga santai >.<, pokoknya baju sudah empat lapis pake sarung tangan tambah kupluk masih aja bisa tembus. Satu-satunya benteng pertahanan melawan angin ya dengan berlindung dibalik batu besar deh. Ketika suasana terang menghampiri, yang terlihat adalah danau kawah yang berwarna toska plus asap belarang yang mulai naik. Danau kawah Ijen ini adalah salah satu yang terbesar di dunia cuy. Kalau di sekitar danaunya cantik. Turun kebawah balik ke arah Paltuding pemandangannya lebih juwara lagih ......... 

Udah ah, gag mau nulis banyak-banyak tentang Ijen. Tempat ini lebih seru kalo dilihat dan dipandangi. Indah banget. Walopun perjalanan nanjak banyak sumpah serapah.... begitu terang dan dalam perjalanan turun ke bawah lebih banyak memuji-muji betapa cakepnya kawah Ijen ini. A total Journey worth the view! ENJOY IJEN!

jualan patung dari sulfur




 






terjebak di kabut




October 21, 2013

Taman Wisata Alam (TWA) Angke Kapuk

Kalau bosen dengan tempat wisata Jakarta yang itu-itu aja, cobain datang ke Taman Wisata Alam Angke Kapuk. Buat kalian yang suka berinteraksi dengan alam mungkin ini salah satu pilihan yang OK buat didatengin. Karena gue sendiri suka dengan konsepnya.

Entrance tiket TWA ini adalah Rp 10.000/orang (murah yak) daaaann ditanyain bawa kamera atau nggak. Gue sih ngakunya ga bawa padahal tersimpan dengan manis di dalam tas :D. Bukannya ga boleh bawa kamera tapi akan dikenakan biaya sebesar Rp 1.000.000/ 7 orang!!! MAHALLLL... emang iya. Kenapa mereka charge mahal, karena tempat ini banyak dipakai untuk tempat photo pre-wedding. Jadi makin penasaranlah gue secakep apa sih tempat ini. Selain itu karena alasan itu sang pengelola juga menginginkan agar pengunjung yang datang banyak belajar dari sini bukan hanya sekedar fot-foto ajah.. gitchuuuu! Tapi menurut Budi kalo kamera poket doank boleh, ga tau bener atau kaga gue sendiri selama disana sembunyi-sembunyi fotonya xixixixix. Can't resist myself to take photos of this place >.<
bird view Taman Wisata Alam Angke Kapuk
Masuk ke kawasan ini kami disambut oleh hijau dan lebatnya hutan mangrove di kiri dan kanan jalan. Ada beberapa rumah kayu yang diperuntukkan untuk pengunjung jika ingin menginap. Beberapa bagian di TWA ini sedang di perbaiki dan beberapa juga dibangun. Ada sebuah rumah kayu yang cukup luas yang menurut Budi untuk tempat resepsi pernikahan. Lucu juga heheheh. Kemudian kami naik ke sebuah menara dimana kami bisa melihat landscape dari TWA ini. Disini kami mengeluarkan kamera kami dan memuaskan diri untuk foto2 hahahahaha. Dari Menara ini bisa terlihat pesawat yang take off dan landing di Soeta. Tak jauh bisa kelihatan Teluk Jakarta dan reklamasi yang sedang dilakukan oleh Pemda DKI.

Puas melihat-lihat dari atas kami pun turun untuk kemudian lanjut menyusuri jalan setapak dari kayu yang dibuat di atas air. Jalan ini juga digunakan untuk jalur bersepeda. Jalur ini rindang oleh pohon2 mangrove yang lebat di kiri dan kanan jalan. Kemudian kami mampir ke menara Bird Watching yang kirain cuma basa basi doank tapi ternyata emang beneranbanyak banget burung yang seliweran terbang kesana dan kemari. Ada yang putih, hitan.. ga tau apa nama burungnya yang pasti gue cukup terpesona dengan alam di sekitar. Turun dari menara gue sempet liat ular di dalam air rawa yang lagi berdiri entah ngapain yang pasti antara kagum dan takut. Kagum karena banyak juga satwa yang hidup dengan bebasnya di tempat ini. Takut karena ngeri tuh ular trus nyamperin gue yang lagi liatin dia ..... >.<
birds








Kami pun lanjut nyusurin jalan setapak kemudian ke arah jembatan. Dari jembatan ini bisa terlihat jalan tol menuju arah bandara yang sangat ramai. Walaupun kiri dan kanan hijau tapi polusi suara tidak bisa dihindari karena jaraknya masih cukup dekat dengan jalan tol dan juga suara pesawat yang sedang terbang di atas TWA ini cukup terdengar. Anyway buat gue suasana ini sudah cukup menyenangkan sih. Dengan udara yang segar dari pohon mangrove. Walapun airnya hijau *khas hutan mangrove* tapi tidak ada sampah alias bersih. Keliatan banget kalau tempat ini memang di kelola dengan baik.



Puas keliling foto dan melihat-lihat setelah Fajar dan Budi solat (masjidnya cantik!!!!) kami lanjut untuk melihat-lihat penginapan kemudian menuju ke arah laut. Sayangnya hari sudah gelap dan kami tidak  bisa berlama-lama disana disamping juga nyamuknya yang mulai mengganas. Mungkin lain waktu gue akan datang lagi ke tempat ini ;).

Oh iya, kalo mau datang ke tempat ini jangan lupa bawa mosquito repellent. Suwerrr nyamuknya ganas ganas. Namanya juga hutan yak.. what do you expect. Trus pake alas kaki yang nyaman dan flat karena permukaan jalan setapak terbuat dari potongan kayu jadi nggak rata gitu deh. Gue aja yg pake sneakers berasa capek banget ...
Mangrove Plantation
Information:
Entrance Ticket:
Domestic : Rp 10.000/pax
Foreigner : Rp 23.000/pax
Car : Rp 5.000/car
Bus : Rp 25.000/bus

Activities:
Camping
Nature Tourism
Mangrove Plantation
Canoeing ; Rp 50.000/canoe
Boat : Rp 50.000/boat -- row your own boat
Speed boat : Rp 200.000/boat -- for 6 person -- 40 minutes

How to get there by public transportation:
Busway TransJakarta heading Mall Pluit Village.
Take taxi to TWA Angke Rp 35.000 if you go 3 - 4 people. Or take angkot heading to Muara Angke/Karang stop at PIK intersection and then continue with red angkot to PIK and stop at Yayasan Buddha Tsu Chi. TWA is located behind the Buddha Tsu Chi Building. You just need to walk around 200 meters

October 10, 2013

yang gue lihat di Brunei .....

Emangnya ada apa di Brunei? Ini adalah pertanyaan yang muncul begitu gue bilang kalo gue baru balik dari Brunei. Sebenernya pertanyaan ini juga yang ada dipikiran gue sebelum gue bertandang ke negara yang kecil tapi sangat berlimpah dengan minyak bumi ini. Jadi ketika gue mendapat tiket murah Manila - Jakarta, gue memutuskan untuk menggandeng negara kaya ini sekalian.

Seperti biasanya sebelum pergi ke suatu tempat gue mengharuskan diri sendiri untuk 'survey' melalui bacaan-bacaan yang ada di website. Dari situ gw baru tau kalau Dolar Brunei dan Dolar Singapore adalah sama alias 1 : 1. Jadi kalau ke Brunei cukup bawa Sing Dolar karena mereka terima mata uang ini. Mungkin kalau koin kayanya mereka tidak akan terima.

Gue hanya punya satu malam atau kurang lebih 36 jam di Brunei. So.... this is what I see in Brunei....

Pesawat yang gue tumpangi mendarat mulus di sore hari setelah delay 30 menit. Selesai dengan urusan imigrasi dan ngisi declaration form gue langsung menemui Rifnas, anak couchsurfing yang gue hubungi seminggu sebelum gue berangkat, yang datang untuk menjemput gue. Lumayan banget nih bisa ngurangin budget hehehehe. Kemudian kami lanjut menuju pusat kota Bandar Seri Begawan yang jaraknya hanya sekitar 20 menitan saja. Sore itu kota Bandar sedikit ramai karena jam pulang kantor.

Penginapan
Gue di drop di KS Soon Rest House tempat gue akan bermalam. Cuma ini satu-satunya tempat yang cukup murah. Tadinya gue mau stay Youth Center (Pusat belia), sayangnya tempat ini lagi tutup untuk renovasi. Untuk sebuah kamar seharga BND 35.00, penginapan ini sangat mahal! Kalau di Jakarta dengan harga segitu kita sudah bisa dapat kamar hotel bintang 2 - 3. Nah yang satu ini harusnya dihargain sekitar 100rb - 150 ribu. The good thing about this place is, lokasinya sangat strategis karena kemana-mana dekat dan juga dekat dengan terminal bus. Walaupun kecewa apa boleh buat cuma tempat ini satu-satunya yang affordable untuk ditempati... and the show must go on.
KH Soon Rest House
Waterfront Sungai Brunei
Setelah beristirahat sebentar di hostel gue langsung menuju ke arah Sungai Brunei. Dari hostel jalan kaki cuma sekitar 5 menit melewati kotak-kotak bangunan perkantoran dan terlihatlah sungai Brunei yang lebar dengan air berwarna kecoklatan. Deretan rumah-rumah terlihat dari waterfront tempat gue berdiri. Kapal-kapal bermotor kecil berlalu lalang mengantar penumpang. Sesekali supir kapal berhenti mendekati gue yang sedang berdiri dipinggir sungai sambil menawarkan trip ke Kampong Ayer.
Waterfront Brunei River
Kalau liat dari prasasti yang ada waterfront ini (mungkin) baru saja di bangun atau direnovasi kali ya. Karena semuanya tampak seperti fresh dan bersiiiiih banget dan sepi. Kayanya turis cuma gue aja yang kurang kerjaan moto-moto ahahahaha. Beberapa orang tampak santai duduk di depan cafe sambil nikmatin angin sepoi-sepoi. Tanpa tujuan pasti, gue jalan tak tentu arah sambil liat-liat. Dua gedung tampak berdiri dan sepertinya mall yang juga sepi. Beda banget sama mall di Jakarta yang gedungnya bagus dan sangat mewah. Yayasan Shopping Mall (nama mall-nya) ini shopping mall paling besar di Brunei dan posisinya persis banget di pinggir sungai Brunei dan berhadapan dengan Masjid Omar Ali Saifuddien. Gue sendiri ga minat untuk  masuk kedalam. Mall udah banyak di Jakarta heheheh.

Masjid Omar Ali Saifuddien
Sambil melewati Yayasan, jalan kaki gue lanjut ke ke Masjid di depan mall yang berdiri megah. Waktu sudah sore, tapi gue masih bisa masuk ke dalam halaman masjid. Sayangnya karena sudah hampir waktu sholat, non muslim tidak diperkenankan masuk jadi gue harus puas dengan berkeliling masjid ajah. Masjid ini lokasi di tengah-tengah kota. Jadi kemana saja mata memandang pasti masjid dengan kubah emas ini akan terlihat. Beruntung juga sih gue datang pada waktu maghrib karena cahaya lampu dari masjid makin menambah cantik masjid ini.
Brunei's landmark
Masjid ini dibangun tahun 1958 oleh Sultan ke 28 ayah dari Sultan Bolkiah. Masjidnya indah banget. Disamping masjid ada laguna yang dibuat persis disamping Sungai Brunei dan jembatan penghubung yang menghubungkan masjid dengan Kampong Ayer. Perahu buatan yang ada di tengah-tengah laguna dibuat untuk memperingati 1400 tahun Nuzulul Quran.

Didepan masjid ada taman dan lapangan yang luas yang biasa dipakai untuk hari-hari nasional Brunei atau juga ulang tahun Sultan. Pas kebetulan gue di tempat ini hari Rabu dan hari Minggunya akan ada perayaan Ulang Tahun Sultan Bolkiah yang ke 68. Pantes dimana-mana banyak banget panduk ucapan selamat ultah buat Sultan. Dan sangat disayangkan gue ga bisa ikutan acara pas hari Minggunya.Sebenernya ultah Sultan itu tanggal 15 Juli tapi karena saat itu sedang bulan puasa jadinya perayaannya diundur jadi tanggal 29 September... errrr aga jauh yak :D.
Ucapan selamat Ulang Tahun buat Sultan
Clock Tower where all distances in Brunei calculated from this point.
Anyway.. di sekitar taman ini pulalah gue bisa memuaskan apetite gue akan makanan lokal Brunei yang sebenernya ga beda-beda jauh banget sama makanan Indonesia. Di sekitar lapangan ini ada semacam night market yang menjual bermacam-macam makanan. Dan yang paling sungguh amat sangat penting adalah makanannya murahhh. Cukup dengan 1 dolar Brunei saja gue sudah bisa makan nasi Katok. Apa itu Nasi Katok? Nasi Katok itu sebenernya kaya nasi pecel ayam sih yang beda adalah sambalnya aja sih. Sambalnya manis dan ga ada rasa pedasnya hehehehe.

Puas makan sambil ngeliatin kampong ayer di malam hari gue balik ke penginapan. Yahh.. berhubung di Brunei nggak terlalu banyak kehidupan malam dan gue sudah capek berjalan juga sih :D.

Serba 1 dolar
Tamu Kianggeh (Kianggeh Market)
Hari ini gue memutuskan untuk kembali berjalan kaki.. yaeyalahhhh secara yeee, emang kecil banget nih kota. Kebetulan di dalam kamar yg gue tempatin ada majalah yang salah satu halamannya peta untuk menjelajah kota Bandar. Jadi pagi ini gue memutuskan untuk menuju Kianggeh market yang posisinya cuam disamping gedung tempat penginapan gue berada dan hanya dipisah oleh jalan raya yang tidak ramai dan juga sungai Kianggeh yang bersih.

Liong Dance
Ga jauh dari Pasar Kianggeh ada Chinese Temple yang sedang mengadakan acara. Gue ga tau pastinya acara apa yang pasti ada Liong Dance dan Barognsai segala. Jadilah gue ngendon sebentar di depan kuil tersebut secara jarang-jarang gue bisa liat Liong Dance walo di Jakarta sekalipun. Liong Dance dan Barongsainya ditarikan oleh anak-anak sekolah. Loncat sana dan sini .. lincah banget. Demi lancarnya acara ini polisi setempat menutup jalan yang menuju ke arah Kuil. Sepertinya Chinese Temple adalah satu-satunya yang ada di Brunei. Berhubung Kuil ini penuh banget dengan orang-orang yang sedang ber-acara, gue harus puas nonton dari luar kuil.

Tamu Kianggeh (Pasar Kianggeh)
Buat gue pasar Kianggeh ini adalah pasar tradisional paling bersih dan tidak bau yang pernah gue datengin. Tidak sepertinya layaknya pasar-pasar yang selalu ruammmeeee, beririk dan jorok, pasar Kianggeh ni sepi. Pengunjungnya bisa dihitung pakai jari. Atau mungkin karena hari ini adalah hari Kamis. Karena pasar biasanya ramai pada hari Jumat dan Minggu. Jualannya dari mulai buah, sayuran, ikan dll. Pokoknya ga jauh beda dengan pasar-pasar di Indonesia. Ini adalah pasar tradisional terbesar yang di kota Bandar. Ya secara yeee, penduduknya juga paling cuma puluhan ribu di kota ini :D. Pasar Kianggeh berada persis di tepi sungai Kianggeh yang langsung mengalir ke Sungai Brunei. Selain penduduk sekitar yang belanja, penduduk Kampong Ayer juga belanja ke pasar ini dengan menggunakan taxi perahu.

Dari Pasar Kianggeh, gue lanjut jalan kaki menuju Royal Regalia Museum. Jalan kaki di kota Bandar buat gue sangat menyenangkan karena trotoarnya luas dan sepi. Maksudnya ga ada pedagang hehehehe. Disamping itu kota Bandar udaranya segar, mungkin karena kendaraan bermotor tidak terlalu banyak dan sekitar kota ini masih banyak hutan-hutan yang sangat dijaga. Walaupun cuaca cukup panas tapi tidak angin dingin berhembus jadi cukup nyaman untuk jalan kaki di tengah-tengah kota ini.

Museum Royal Regalia 
Cukup 30 menit jalan kaki (plus foto-foto kiri kanan) gue sudah sampai di Museum Royal Regalia yang adalah rumah dari koleksi barang-barang kesultanan dan kumpulan hadiah-hadiah dari berbagai negara. Kalau mau tau asal-usulnya Kesultanan Brunei, disinilah tempatnya. Dan persis banget seperti yang dibilang Abhu, museumnya sepiiiiii, cuma ada gue aja saat itu yang sedang berkunjung :D. Setelah tas dan semua perabotan lenong di taro di loker (kamera ga boleh dibawa) plus gue harus ganti sepatu dan pakai sendal hotel yang sudah di sediakan sama pihak museum. Oh iya, semua museum yang gue datengin GRATIS.

This museum is very impressive. Di awal gue liat masa2 kecil Sultan Bolkiah sampai dia menjadi Sultan sampai saat sekarang ini. Ada satu ruang khusus yang isinya peralatan yang digunakan pada saat Sultan naik tahta. Dan semua barangnya berlapis emas. Barang-barang ini di taro khusus diruangan kaca dan dijaga oleh satu orang yang gue yakin sebelum gue datang dia pasti ketiduran, soalnya dia langsung kaget liat gue dan berdiri hahahahha. Museum ini mirip2 sama Kraton di Jogja gitu deh. Bedanya yang ini terawat rapih dan bersih banget. Semua tampak teratur dan kaga ada debu cyiiinnnnn.

Selesai dari museum ini, gue kembali ke penginapan untuk check out dan makan siang. Berhubung teman CS gue sibuk kerja dan ga bisa drop pulang terpaksa gue harus berpikir keras untuk gimana caranya bisa ke bandara. Kalo naik taxi harus bayar 25 dolar! Padahal cuma sekitar 15 menit doank. Bisa sih naik bus, cuma bayar 1 dolar ajah, tetapi bus paling akhir itu jam 6 sore sementara jadwal pesawat gue jam 2.30 pagi keesokan harinya. Hedeeuuh PR banget nih kalo musti ngendon di airport 8 jam lebih.

Naik bis di Brunei
Anyway... sambil berpikir gimana caranya ke airport, gue lanjut ke Museum Brunei. Kalau sebelumnya semua spot yg gue datangin dengan berjalan kaki, kali ini gue harus menggunakan bis. Terminal bis di Bandar kecil banget, tapi tidak kumuh, nggak bau dan sangat bersih. Mungkin karna hampir rata2 penduduk Brunei memiliki mobil jadi bisnya nggak banyak. Tarif bis jauh dekat itu 1 dolar. Dan biasanya yang naik bis itu para imigran dan turis seperti gue ini :D. Kondisi bisnya sedikit agak tua tapi masih terawat dengan baik dan ber AC! Di Bandar bisa dipastikan tidak ada macet karena emang mobilnya sendiri nggak banyak, ga ada angkot ngetem dan dipastikan gue ga liat motor selama disana. Menurut penduduk sekitar motor di Brunei biasanya jenis-jenis moge gitu deh.

Museum Brunei
Jarak Museum Brunei dari pusat kota itu sekitar 4 km sedikit aga keluar dari kota Bandar. Keknya gue baru duduk di bis 10 menit kemudian gue udah sampai di Museum. Taraaaaaa! Sepi aja gituh :D. Dan lagi-lagi hanya gue aja pengunjung yang pada saat itu. Tas, kamera dll di taro ke loker dan gue langsung menuju ke museum.
Tampak depan Museum Brunei
Di museum ini ada sekitar 6 section tapi yang buka saat itu hanya 3 section yaitu section Islamic Art Gallery yang merupakan adalah koleksi Sultan, ke 2 tentang minyak dan gas dan satu lagi tentang satwa yang ada di Brunei. Section Islamic Art Gallery ini mengingatkan gue dengan Musuem di Tengah Kebun di Jakarta. Bedanya kalau MTK di atur "semau yang punya" dan semuanya koleksi beragam jenis dari berbagai negara kalau yang di Brunei hanya dari Peradaban Islam. Gag heran begitu masuk ke section ini aga bau-baru barang-barang kuno, dan gue aga bingung juga kenapa gelap -_-.

Di section Oil & Gas ini ditunjukkan bagaimana negara ini mengeksplor kekayaan yang mereka punya demi kesejahteraan rakyatnya bekerja sama dengan salah satu perusahaan minyak terkemuka di dunia.Bagaimana awal mula mereka mengelola minyak dan gas yang mereka miliki sampai kepada teknologi yang mereka gunakan. Buat gue tempat ini sangat informative.

Gue kembali ke kota Bandar dengan menggunakan bus dan karena waktu masih tersisa banyak, gue memutusan untuk tour ke Kampong Ayer. Masih ga tau dimana gue akan mencari perahu taxi dan gue kemudian berjalan menuju ke Waterfront sungai Brunei sambil melihat-lihat. Ga sampe 5 menit gue nongkrong ada suami istri yang nyamperin untuk ikutan tour Kampong Ayer mereka. Gue tau kalo tour ini aga mahal but lucky me gue dapet harga yang murah, hanya 15 dolar saja yang biasanya 30 dolar untuk 1 jam perjalanan (Menurut info yang gue baca).

Kampong Ayer & Sungai Brunei
Kampong Ayer sendiri artinya water village atau kampung di atas air dengan penduduk kurang lebih sekitar 30.000 jiwa. Walaupun tinggal di atas air tapi rumah-rumah yang ada disini besar-besar dan mereka hidup berkecukupan secara yah negara kaya gituh. Jalan penghubung dari satu rumah ke rumah yang lain adalah melalui jembatan kayu yang dibuat dengan rapih. Kalo di trip advisor bilangnya The Venice of Brunei which aga lebay sih menurut gue hehehehe, tapi buat gue Kampong Ayer ini cukup menarik untuk di jelajahin.
Kampong Ayer

Untuk transportasi hampir setiap keluarga yang tinggal di Kampong Ayer punya satu perahu untuk wara wiri ke Bandar atau belanja ke Pasar Kianggeh. Sedangkan untuk anak sekolah, pemerintah menyediakan gratis! sekolahnya ya di atas iar juga. Bensin untuk perahu juga harganya lebih murah dibanding dengan bensin untuk mobil. Di tempat ini juga ada Cultural & Tourism Gallery sebagai pusat informasi. Jadi kalau mau dapetin peta, souvenir berupa pin bisa datang ke tempat ini dan semuanya dikasih gratis!

Entah kenapa tiba-tiba gue diajakin ke hilir sungai Brunei yaitu ke Laut China Selatan, perjalanan sekitar 30 menit dan emang sekalian cari bensin untuk perahu. Sepanjang perjalanan gue banyak ngeliat elang putih dan merah terbang dengan bebas disektiar hutan bakau yang lebat. Sesekali gue juga liat monyet bekantan yang berkeliaran di hutan dan burung King Fisher. It was quite a journey actually, I never expected to see a lot at the first time. Kalau sebelumnya gue ke Museum Brunei lewat bis, ternyata bisa juga dengan menggunakan perahu ini.
Bekantan
The hospitality of Bruneian 
Pada saat gue bingung bagaimana harus ke airport, dua orang suami istri yang kebetulan menjadi tour guide gue ke Kampong Ayer lah yang menawarkan untuk nganterin ke airport.... Akkk, it was such a bless! Setelah tour selesai gue diajak ke Gadong Night Market yang menjual makanan-makanan murah. FYI, di tempat ini cuma untuk jualan bukan tempat makan, karena emang ga ada meja dan kursi disana. Makananya beragam dan rata-rata dijual hanya 1 dolar dan paling mahal sekitar 4 dolar. Setelah selesai beli makanan, gue diajak ke rumah mereka yang gue kaga tau di daerah mana dan beristirahat kemudian di drop ke airport hehehehe. Terharu banget sama kebaikan hati mereka.
Me with Puan Wann, local tour guide
Anyway, ini OOT banget... kedua orang ini mungkin kerjanya hanya jadi tour guide dan supir kapal, tapi mobilnya Hyundai keluaran terbaru dan rumahnya besarrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr :p

Jadi itu semua yang gue liat di Brunei, ga banyak sih secara cuma 1 malam doank... so.. the choice is yours to visit this small but very rich country ;).

September 17, 2013

Mengenal Sejarah Peranakan Tionghoa dari Museum Benteng Heritage

Tulisan kali ini mau cerita tentang sebuah museum yang gue, Fajar, Hola, Milla, Indah, Dee dan Declan kunjungi pekan lalu di sebuah daerah di Tangerang Kota, tepatnya daerah Pasar Lama Tangerang dekat dengan aliran sungai Cisadane, nama museumnya adalah Museum Benteng Heritage (MBH) yang merupakan Museum Peranakan pertama di Indonesia. Menarik kan ?? :D

Sungai Cisadane
Minggu siang menjelang sore dengan menggunakan mobilnya Fajar mulai memasuki jalan raya Tangerang. Lalu lintas di Tangerang cukup bersahabat sore itu. Didepan mulai terlihat aliran Sungai Cisadane dengan bantaran sungai yang sudah sedemikian rupa dibuat cantik oleh pemerintah setempat. Pohon-pohon rindang menambah asri sungai yang berwarna cokelat keruh tersebut. Tak lama kami berhenti dan parkir karena menemukan plang Klenteng Boen Tek Bio (posisi MBH tak jauh dari klenteng tersebut).

Cisadane Riverside
foto dulu ahhhhh



Sambil menunggu rombongan mobil berikutnya, gue dan teman2 yang lain mengambil kesempatan untuk foto-foto di riverside Cisadane. Penampakannya ga beda jauh sama riverside di Pnom Penh, Kamboja sono deh .. *serius*. Surprisingly walaopun airnya coklat sampahnya nggak ada lo, keren yaaa, makin salut deh. Sore hari gini banyak penduduk setempat yang lagi mancing.

jalan menuju MBH melewati pasar dulu

pintu masuk MBH
Begitu rombongan lengkap, kami langsung menuju ke MBH dengan melewati jalan setapak kurang lebih 200 meter menuju MBH. Sebelum menuju museum, kami harus melalui Klenteng Boen Tek Bio dan juga pasar yang sudah hampir sebagian besar tutup. Karena sudah menjelang jam 3, kami tidak mampir ke klenteng tapi langsung menuju museum. Bau amis pasar bercampur sampah membayangi perjalanan kami sampai ke museum. Siapa yang sangka ditengah hiruk pikuk pasar yang selalu rame terdapat bangunan dua lantai dengan nuansa Tionghoa kental. Untuk bisa ikutan tour MBH kami harus menunggu tepat jam 3 sore dengan seorang guide. Setelah membayar karcis kamipun langsung masuk ke dalam di guide oleh Wiwit. Salah satu syarat berkunjung ga boleh foto dan pegang-pegang barang museum, jadinya kami hanya puas dengan melihat-lihat sambil menyimpan dalam memori otak kami :D.

Loket Karcis masuk
MBH dulunya sebuah rumah yang kemudian dibeli dan direstorasi oleh seorang Tionghoa peranakan bernama Udaya Halim yang adalah akamsi alias anak kampung sini. Karena pak Udaya sendiri lahir tidak jauh dari lokasi museum ini berdiri. Bangunan ini diperkirakan dibangun abad ke-17 yang kemudian mulai di restorasi pada tahun 2009 untuk dikembalikan ke bentuknya semula yang merupakan bangunan tradisional asli Tionghoa. Restorasi ini selesai dua tahun berikutnya yang kemudian diresmikan tanggal 11 November 2011 (kebetulan lihat prasastinya di depan rumah hehehhehe). Di lantai dasar kami dijelaskan tentang bangunan museum ini sendiri serta berbagai foto lukisan Pasar Lama.
Lantai Dasar MBH yang juga berfungsi sebagai restoran

Suasana pasar (sudah tutup) di sekitar MBH
Lanjut ke lantai dua kami harus melepas alas kaki untuk menjaga kebersihan dari museum tersebut. Di lantai dua kami menemukan benda-benda artefak yang berhubungan dengan sejarah peranakan Tionghoa di Indonesia, salah satunya adalah cerita Laksamana Ceng Ho dengan rombongan armadanya yang berjumlah sekitar 300 kapal dengan jumlah pengikut kurang lebih sekitar 30.000 orang. Ada sejarah bounded feet; kalo yang ini aga serem sih, karena wanita-wanita Tionghoa jaman dulu kakinya dibuat kecil, karena katanya semakin kecil semakin cantik, padahal modusnya wanita-wanita itu dikekang. Pada jamannya wanita-wanita tersebut tidak boleh keluar rumah.

Kami juga melihat patung dewa-dewa orang cina, yang ternyata mereka awalnya juga seorang manusia. Tetapi karena bijaksana dan arif kemudian mereka dijadikan dewa *sumprit ini baru tau. Dari sini juga gue baru tau kalo bedug sebelum azan itu bukan kebudayaan dari Arab melainkan dari Cina. Pada saat itu, alat berkomunikasi yang paling bisa diandalkan di segala cuaca adalah dengan menggunakan genderang/tabuh/bedug. Disini juga kami ditunjukannya adat lengkap dari perkawinan peranakan Benteng.

mencoba buka pintu 
Hampir satu jam kami berkeliling, diceritakan dan di-guide oleh Wiwit  ketika seseorang memanggil kami untuk masuk ke satu ruangan yang isinya membuat kami langsung menganga. Yak.. yang memanggil kami adalah sang pemilik Museum pak Udaya. Mau tau apa isi ruangan tersebut? Isinya adalah koleksi pribadi dari pak Udaya berupa kamera (dulu beliau seorang fotografer) dan gramophone serta vinyl recording dari jaman dulu kala. Surprisingly semuanya masih terawat dengan rapih. Disini kami berbicara banyak tentang sejarah peranakan Tionghoa di Indonesia dan juga sejarah kelam bangsa Indonesia. Selain cerita sejarah dab bercengkrama, kami juga bisa merasakan kejayaan musik-musik jaman dahulu kala yang abadi yang diputar memakai gramophone yang sudah berumur 100 tahun!!! Kalau menurut beliau tidak semua pengunjung bisa masuk ke ruang pribadi pak Udaya ini, makanya kami sungguh amat sangat beruntung bisa melihat koleksinya.

Ga tau karena kami yang cerewet luar biasa yang pasti selesai kami berbincang hampir 1 jam lebih kami disuguhkan teh khusus diruangan bawah. Oh iya.. selain sebagai museum, MBH juga membuka restoran dengan menu peranakan. Salah satunya adalah Lontong Cap Gomehn ueenaakkk yang disediakan GRATIS buat kami semua hehehehe, kalo yang ini diluar kebiasaan. He said: you are all my VVIP guests *jadi terharu*
Lontong Cap Gomeh - dinner with pak Udaya ^_^

Dodol dan kecap oleh2 beli dari MBH
Di MBH juga ada souvenir untuk dibeli, kebetulan gue seperti yang lain beli Dodol buatan Ny. Lauw (ini enak banget udah gue coba dan udah abis ga sampe 2 hari >.<) dan juga kecap benteng yang terkenal karena enaknya, cuma tenggelam aja namanya dengan kecap2 merek lain.

Buat gue, kunjungan ke MBH adalah sebuah pengalaman luar biasa yang pastinya menambah pengetahuan tentang keberadaan saudara-saudara peranakan Tionghoa di negeri Indonesia ini.

Thank you for keeping the history Pak Udaya Halim. Salute for your passion!

Udaya Halim : Culture is borderless. It is like water and air. It is nourishing the soul. It takes and gives. It blends to build a character of a nation and to preserve Bhinneka Tunggal Ika,” taken from Jakarta Post

foto bareng pak Udaya beserta koleksi pribadinya :)
Museum Benteng Heritage
Jl. Cilame No. 20, Pasar Lama
Tangerang
Telpon: 445.445.29
Email: info@bentengheritage.com
FB : https://www.facebook.com/bentengheritage
Website: http://www.bentengheritage.com

Jam Operasional:
Selasa - Minggu, Senin Tutup
Guided Tour : jam 13.00 - 18.00
Tour berlangsung selama 45 menit
Jumlah peserta dibatasi 20 orang per tour

HTM:
Umum Rp 20.000
Pelajar Rp 10.000
Mahasiswa Rp 15.000
Orang Asing Rp 50.000
Heritage Walk Rp 50.000/orang (maksimal 10 orang)