Showing posts with label what to visit around jakarta. Show all posts
Showing posts with label what to visit around jakarta. Show all posts

October 21, 2013

Taman Wisata Alam (TWA) Angke Kapuk

Kalau bosen dengan tempat wisata Jakarta yang itu-itu aja, cobain datang ke Taman Wisata Alam Angke Kapuk. Buat kalian yang suka berinteraksi dengan alam mungkin ini salah satu pilihan yang OK buat didatengin. Karena gue sendiri suka dengan konsepnya.

Entrance tiket TWA ini adalah Rp 10.000/orang (murah yak) daaaann ditanyain bawa kamera atau nggak. Gue sih ngakunya ga bawa padahal tersimpan dengan manis di dalam tas :D. Bukannya ga boleh bawa kamera tapi akan dikenakan biaya sebesar Rp 1.000.000/ 7 orang!!! MAHALLLL... emang iya. Kenapa mereka charge mahal, karena tempat ini banyak dipakai untuk tempat photo pre-wedding. Jadi makin penasaranlah gue secakep apa sih tempat ini. Selain itu karena alasan itu sang pengelola juga menginginkan agar pengunjung yang datang banyak belajar dari sini bukan hanya sekedar fot-foto ajah.. gitchuuuu! Tapi menurut Budi kalo kamera poket doank boleh, ga tau bener atau kaga gue sendiri selama disana sembunyi-sembunyi fotonya xixixixix. Can't resist myself to take photos of this place >.<
bird view Taman Wisata Alam Angke Kapuk
Masuk ke kawasan ini kami disambut oleh hijau dan lebatnya hutan mangrove di kiri dan kanan jalan. Ada beberapa rumah kayu yang diperuntukkan untuk pengunjung jika ingin menginap. Beberapa bagian di TWA ini sedang di perbaiki dan beberapa juga dibangun. Ada sebuah rumah kayu yang cukup luas yang menurut Budi untuk tempat resepsi pernikahan. Lucu juga heheheh. Kemudian kami naik ke sebuah menara dimana kami bisa melihat landscape dari TWA ini. Disini kami mengeluarkan kamera kami dan memuaskan diri untuk foto2 hahahahaha. Dari Menara ini bisa terlihat pesawat yang take off dan landing di Soeta. Tak jauh bisa kelihatan Teluk Jakarta dan reklamasi yang sedang dilakukan oleh Pemda DKI.

Puas melihat-lihat dari atas kami pun turun untuk kemudian lanjut menyusuri jalan setapak dari kayu yang dibuat di atas air. Jalan ini juga digunakan untuk jalur bersepeda. Jalur ini rindang oleh pohon2 mangrove yang lebat di kiri dan kanan jalan. Kemudian kami mampir ke menara Bird Watching yang kirain cuma basa basi doank tapi ternyata emang beneranbanyak banget burung yang seliweran terbang kesana dan kemari. Ada yang putih, hitan.. ga tau apa nama burungnya yang pasti gue cukup terpesona dengan alam di sekitar. Turun dari menara gue sempet liat ular di dalam air rawa yang lagi berdiri entah ngapain yang pasti antara kagum dan takut. Kagum karena banyak juga satwa yang hidup dengan bebasnya di tempat ini. Takut karena ngeri tuh ular trus nyamperin gue yang lagi liatin dia ..... >.<
birds








Kami pun lanjut nyusurin jalan setapak kemudian ke arah jembatan. Dari jembatan ini bisa terlihat jalan tol menuju arah bandara yang sangat ramai. Walaupun kiri dan kanan hijau tapi polusi suara tidak bisa dihindari karena jaraknya masih cukup dekat dengan jalan tol dan juga suara pesawat yang sedang terbang di atas TWA ini cukup terdengar. Anyway buat gue suasana ini sudah cukup menyenangkan sih. Dengan udara yang segar dari pohon mangrove. Walapun airnya hijau *khas hutan mangrove* tapi tidak ada sampah alias bersih. Keliatan banget kalau tempat ini memang di kelola dengan baik.



Puas keliling foto dan melihat-lihat setelah Fajar dan Budi solat (masjidnya cantik!!!!) kami lanjut untuk melihat-lihat penginapan kemudian menuju ke arah laut. Sayangnya hari sudah gelap dan kami tidak  bisa berlama-lama disana disamping juga nyamuknya yang mulai mengganas. Mungkin lain waktu gue akan datang lagi ke tempat ini ;).

Oh iya, kalo mau datang ke tempat ini jangan lupa bawa mosquito repellent. Suwerrr nyamuknya ganas ganas. Namanya juga hutan yak.. what do you expect. Trus pake alas kaki yang nyaman dan flat karena permukaan jalan setapak terbuat dari potongan kayu jadi nggak rata gitu deh. Gue aja yg pake sneakers berasa capek banget ...
Mangrove Plantation
Information:
Entrance Ticket:
Domestic : Rp 10.000/pax
Foreigner : Rp 23.000/pax
Car : Rp 5.000/car
Bus : Rp 25.000/bus

Activities:
Camping
Nature Tourism
Mangrove Plantation
Canoeing ; Rp 50.000/canoe
Boat : Rp 50.000/boat -- row your own boat
Speed boat : Rp 200.000/boat -- for 6 person -- 40 minutes

How to get there by public transportation:
Busway TransJakarta heading Mall Pluit Village.
Take taxi to TWA Angke Rp 35.000 if you go 3 - 4 people. Or take angkot heading to Muara Angke/Karang stop at PIK intersection and then continue with red angkot to PIK and stop at Yayasan Buddha Tsu Chi. TWA is located behind the Buddha Tsu Chi Building. You just need to walk around 200 meters

February 19, 2013

Menjelajah Masa Lalu Bersama Museum di Tengah Kebun

#MuseumdiTengahKebun --> keren nih, let me know how to get there donk @pikooy

ikott RT @pikooy you should go there, Li. Gw pengen kesana lagi juga.

Museum di Tengah Kebun
Itu adalah sepenggal kicauan gue di twitter dengan Pikooy. Awal mula dari ketertarikan gue untuk mengunjungi Museum di Tengah Kebun ini. Museum yang letaknya di Jakarta tepatnya Jl. Kemang Timur No. 66 yang mungkin tidak terlalu banyak orang yang tahu karena memang museum ini ternyata belum lama dibuka, yaitu sekitar tahun 2009.

Gerbang depan

Jalan setapak menuju museum
Tidak lama dari kicauan2 tersebut, kami langsung mewujudkannya di Sabtu siang jam 12.30, gue dan 7 orang teman yang lain (Pikooy, Tiar, Felis, Ridzki, Itong, Budi & Kim) sudah tiba di depan gerbang Museum tersebut. Di depan gerbang pintu selebar 7 meter kami disambut oleh penjaga rumah kemudian dipersilahkan masuk. Begitu gerbang dibuka terbentang jalan kecil selebar 7 meter dengan suasana hijau dan rindang palem di kiri dan kanan jalan. Untuk sampai menuju rumah kami harus jalan ke dalam sepanjang 60 meter. Bunyi bising jalan raya makin lama menghilang. Taman yang cantik dan asri mulai tampak begitu kami mendekat ke arah rumah. Di taman tersebut mulai terlihat barang peninggalan sejarah yang menjadi ciri khas dari Museum di Tengah kebun.

di guide oleh Bapak Mirza Djalil
Tiba di depan rumah kami disambut oleh Pak Mirza Djalil yang merupakan keponakan dari Sjahrial Djalil sang pemilik dari Museum di Tengah Kebun yang sekaligus akan menjadi pemandu buat kami. Museum di Tengah Kebun ini mulai dibuka untuk umum tahun 2009 sampai sekarang. Museum yang juga merupakan rumah kediaman dari bapak Sjarial Djalil ini berdiri diatas lahan seluas 4.200 m2 dengan luas bangunannya sendiri hanya 700 m2. Sisanya 3.500 m2 adalah kebun hijau yang cantik dan tertata rapih.

Ternyata rombongan kami tidak sendiri. Ada 2 orang dari stasiun TV yang juga sedang meliput Museum ini (Asiikkk, bonus masuk tipi nih xixixiix). Dari depan pintu rumah kami mulai dipandu oleh pak Mirza, beliau menjelaskan tentang sejarah museum/rumah ini yang pertama kali dibangun di tahun 1986 dengan menggunakan 65.000 bata yang diambil dari bongkaran gedung -gedung tua peninggalan Belanda yang sudah pasti dijamin awet. Sedangkan engsel-engsel semua pintu yang ada dirumah ini diambil dari engsel pintu dari penjara wanita Bukit Duri. Wuiihhhhhh.......

Bata merah dari gedung tua peninggalan VOC
Di depan pintu rumah kami disambut oleh 1 pasang ukiran kayu Batara Indra, tempayan dari Dinasti Qing, China, fosil kayu dan beberapa patung serta topeng. Didepan pintu itu pula kami harus mengisi buku tamu masing-masing dan mengganti alas kaki kami dengan sendal yang sudah disediakan oleh pihak museum. Dengan alasan supaya tidak membawa kotoran dari luar ke dalam. Selain barang-barang antik Museum ini juga memiliki koleksi karpet buatan Pakistan sebanyak 19 lembar yang juga di letakkan dirumah tersebut.

beberapa koleksi
fosil kerang dan lebah raksasa
Di dalam rumah kami dilarang untuk mengambil foto dan harus meninggalkan tas di depan. tapi anehnya kamera TV boleh masuk (nah lo??!!). Tiap-tiap ruangan di museum ini diberi nama seperti contohnya ruangan depan diberi nama Loro Blonyo  (sepasang patung Pengantin Jawa), kenapa Loro Blonyo? Karena memang ada patung Loro Blonyo dari abad ke-19. Yang pasti penamaan ruangan dan pengaturan letak koleksinya ini berdasarkan keinginan dari pemilik museum. "Rumah dan barang milik saya, suka-suka saya donk mau dinamakan apa saja sesuai dengan keinginan saya" begitu menurut pak Sjahrial seperti yang dikutip oleh pak Mirza. Bener juga sih gumam gue dalam hati.

ruang tidur 

bathtub yang baru 6x dipakai
Ruang berikutnya adalah ruang Arca Buddha Myanmar. Ruangan ini adalah semacam ruang menerima tamu yang langsung menghadap ke arah kebun belakang yang luwwasssssssss. Dari tempat ini terdapat berbagai macam koleksi dari dalam dan luar negeri. Sofa nya juga bukan sembarang sofa, tetapi merupakan bagian dari tempat gamelan yang kemudian dimodifikasi menjadi sofa yang cantik lengkap dengan dudukan yang dilapisi batik. Bisa dipastikan semua benda yang ada di rumah/museum ini adalah barang2 antik. Termasuk lemari yang konon dibuat pada zaman Belanda oleh para tawanan kala itu.

ruang Arca Buddha Myanmar dari  luar
Kami juga masuk ke ruang Dewi Sri (ruang makan), Prasejarah (kamar kerja) & ruang Buddha Thailand (kamar tidur) dan juga Ruang SingaGaruda (kamar mandi). Yang membuat kami terkagum kagum adalah ruang SingaGaruda ini yang adalah kamar mandi pribadi dari pemilik museum yang luasnya 3x lipat dari luas kamar tidurnya sendiri. Ada bathtub yang dari awal kali di bangun sampai sekarang hanya dipakai sebanyak 6 kali. Kamar mandi ini terhubung dengan kebun kecil yang asri dibalik bathtub. Ada juga pajangan buah catur yang terbuat dari gading dari abad ke-19 Dinasti Qing. Dan yang paling membuat shock adalah Tas Hermes yang hanya dibuat keranjang sampah!!!! OMG.. entah itu asli atau tidak!.

Jumlah koleksi yang dipajang di museum ini adalah sekitar 2.000 lebih. Koleksi ini datang dari 63 negara termasuk Indonesia dan daerah-daerah di Indonesia lainnya. Salah satu cara mendapatkannya adalah melalui balang lelang Christie yang sudah dipastikan harganya bisa buat keliling dunia bolak balik :D dan juga dapat di jalan seperti contohnya patung Ganesha tahun 800-an yang ada di kebun belakang museum. Patung Ganesha ini didapat dari sebuah daerah di Jawa Tengah dengan cara ditukar dengan mendirikan sekolah, rumah dan juga kantor desa. Jenis koleksi adalah berbagai macam jenis, dari mulai patung, ukiran, arca, koin, furniture, lampu, fosil, perhiasan, topeng, perak, perhiasan dll.

Arca Wajrapani ini dibeli dengan menukar apartemen pak Sjahrial yang di Sydney 0_o
Halaman belakang main lagi ceritanya. Di tengah-tengah kebun terdapat pendopo yang juga memajang karya seni dari Eropa. Di kebun belakang yang asri dan hijau ini terdapat lebih dari 200 lubang biopori, jadi selain museumnya yang indah, pak Sjahrial juga menjaga supaya tidak terjadi genangan air alias banjir di lingkungan sekitarnya. KEREN YAK!! Bisa dipastikan di setiap sudut rumah dan halaman terdapat sentuhan koleksi. Dipojok belakang kolam renang berwarna biru jernih kontras dengan warna hijau pepohonan. Saking banyaknya koleksi kadang-kadang jalannya harus hati-hati banget karena kalo pecah atau rusak ga tau deh musti bayar pake apaan hahahaha. Kalo menurut pak Mirza bukan masalah bayarnya, tetapi ada atau tidaknya barang tersebut! *phhiiuuuhh*

kebun belakang yang luas
Tidak terasa waktu hampir 2 jam 30 menit sudah kami lalui berkeliling rumah/museum ini. Capek, lapar, haus tapi kami puas dengan tur museum ini. Rasanya ga habis2 kagum dengan koleksi yang ada. Ahhh, kapan-kapan pasti gue akan kembali lagi ke tempat ini :D.

Kalau berminat datang, museum ini buka hanya di hari dan jam tertentu yaitu Rabu, Kamis, Sabtu dan Minggu. Selebihnya museum di tutup untuk dibersihkan dan kepentingan penelitian. Ada dua sesi yaitu 9.30 - 12.00 dan 12.30 - 15.00. Datang pun tidak bisa sembarangan asal masuk tapi melalui perjanjian via telpon ke 021-7196907. Pengunjung juga dibatasi setiap satu sesi hanya boleh 7 - 10 orang saja. Dan yang paling penting adalah FREE ADMISSION alias tidak dipungut biaya sama sekali ;). Disediakan juga guide baik itu bahasa Indonesia ataupun bahasa Inggris. Seru yaa ;)

Sebenarnya masih banyak pemikiran2 lain tentang pengalaman gue kali ini, tapi sudahlah... biarlah itu menjadi  pengalaman personal kami masing2 pribadi heheheheh.

Happy back to the past bersama Museum di Tengah Kebun!!

Foto bareng pak Mirza dan patung Ganesha


November 21, 2012

The Unspoiled Curug Cikaracak

Pernah dengar nama Curug Cikaracak?  Curug ini emang sama sekali ngga tenar. Biasa ajah dibanding dengan Curug Cikaso dan Curug Cigangsa di Ujung Genteng atau Curug Malela di Bandung Barat. Tapi buat gue curug ini beda dengan yang lain in terms of ' the journey reaching this place'. Gue sendiri lupa udah berapa kali ke tempat ini dengan orang-orang yang berbeda, tapi setiap kali kesini adventurenya pasti berbeda-beda.

Kenapa gue suka dengan Curug Cikaracak, definitely bukan karena cantiknya karena memang biasa banget seperti di awal gue bilang tapi lebih ke trekking menuju ke Curug dan tempat ini sama sekali tidak komersil alias nggak bayar at least sampe sekarang dan dekat dari Jakarta. And just for a short escape from Jakarta pollution, this place is just perfect for me. Curug Cikaracak yang lokasinya di Dusun Cibeling, Desa Cinagara, Kecamatan Caringin, Bogor, Jawa Barat ini masuk ke dalam wilayah Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Jaraknya sekitar 15km dari Ciawi mengarah ke Sukabumi atau 5km dari Talang Air Cisempur (Talang 3). 

All Photos - Courtesy of : Ivy & Aniss
Untuk menuju ke sana bisa dengan pakai mobil atau motor. Tapi yang biasanya gue dan teman2 lakukan kalo datang kesini adalah dengan menggunakan angkot yang disewa (pp) dari Ciawi. Gue ngak nyaranin untuk naik kendaraan pribadi karena 1 km terakhir menuju Dusun Cibeling jalannya off road berbatu dan berlumpur. Dan pada saat gue kesana barengan Ivy, Aniss dan Ndok naik mobil pribadi menghasilkan baret di bemper depan serta bagian bawah mobil yang terkena benturan berkali-kali :D.

 
Dari Dusun Cibeling, yang adalah dusun terakhir dilewati, kita ber-4 trekking menuju ke Curug Cikaracak sepanjang 3 km melewati jalan setapak menyusuri pematang sawah, kebun, keluar masuk sungai yang berbatu dan berair jernih dan kawasan hutan Taman Nasional yang becek dan kadang tanahnya tidak keras sehingga ketika diinjak langsung jeblos :D. Perjalanan dari Dusun terakhir ke Curug Cikaracak adalah sekitar 1,5 jam berjalan santai atau sekitar 2 jam lebih kalau santai banget plus foto-foto hehehhehe.

Disepanjang jalan pemandangan pohon - pohon hijau yang baru diguyur hujan nambah seru perjalanan. Tampak jauh monyet-monyet gelantungan asyik makan jambu air yang sedang berbuah lebat banget. Uhh, seruw banget tuh kalo bisa ngerujak heheheh #salah fokus. Pohon cabe yang baru saja di tanam juga tampak segar sehabis diguyur hujan. Sekitar 200 meter sebelum masuk ke Papan Kawasan Taman Nasional ada segerombolan anak2 remaja yang lagi camping ngingetin kita ber-4 kalao mau ke curug harus hati-hati karena banyak tanah longsor akibat hujan beberapa minggu yang lalu. 

Ini yang paling gue suka dengan perjalanan ke Curug Cikaracak, soalnya sudah berkali-kali gue kesini trekkingnya pathnya pasti 'ganti-ganti' terutama setelah masuk ke kawasan Taman Nasional. Entah karena ketutup karena sudah lama tidak didatangi atau pohon tumbang akibat longsor. Yang paling extreme adalah ketika jalan kami benar-benar terhalang oleh ranting-ranting kayu dari pohon yang tumbang karena tanah longsor. Dan dengan sangat terpaksa kami harus berjalan di atas sungai yang sudah tertutup ranting-ranting tersebut.

Sesampainya di Curug Cikaracak, seperti biasa tidak ada siapa-siapa hanya gue dan ketiga teman yang lain. Saat itu debit air tidak terlalu kencang tapi masih terasa percikan airnya. Curug itu masih ada dengan segala kesederhanaannya tanpa saung-saung yang menghiasi sekeliling tapi sayangnya sampah-sampah masih ada disekitar walau tidak terlalu banyak.



















Emang bener Curug Cikaracak itu biasa aja, tapi buat gue yang menjadikannya luar biasa adalah perjalanan menuju ke Curug tersebut. Cause sometimes the journey does matter a lot than the destination itself.




October 11, 2012

Ber-Vintage-Ria di Pasar Senen


Hampir semua perempuan pasti suka shopping, termasuk gue sih pastinya.Tapi apakah itu termasuk belanja di pasar loak atau istilah bahasa Inggrisnya Flea market? Well, I doubt that! Mungkin orang-orang akan bertanya-tanya, "Ya, ampun sumpe loo belanja baju di pasar loak? Kaga gatel-gatel tuh badan lo? Well.. who cares. Toh selama ini gue pakai baju aman-aman aja tuh.

Pasar Senen
Gue adalah salah satu yang termasuk penggemar belanja baju-baju bekas di pasar loak, tepatnya second hand market yang berlokasi di Pasar Senen. Awalnya mulanya waktu kuliah dulu, karena gue kuliah di kampus sekretaris yang mengharuskan gue untuk memakai rok dan kemeja setiap harinya. Waktu itu nyokap ngebawa gue ke daerah Pasar Baru letaknya tepat di Pasar Atom lantai 3. Kalau elo yang hobby beli printilan kamera pasti tau tuh tempatnya. Nah,... letak Flea marketnya tepat satu lantai di atas lantai yang menjual kamera itu. Awal masuk kerja agak jarang juga mengunjungi Flea Market ini. Salah satu alasan karena waktu dan udah punya uang sendiri jadi masih sanggup lah beli baju baru hehehe.Bukan berarti sekarang gag sanggup beli yang baru lo, tapi lebih ke kepuasan kalo bsia dapat barang bagus dengan harga murah, puasnya tuh beda banget gituh :D.

 

Dulu gue sering belanjanya ke Pasar Baru, sekarang ini pindah ke Pasar Senen yang berlokasi di Gedung Proyek Senen. Gedung ini dulu di tempati oleh Ramayana dan juga Matahari Dept. Store. Kalau dulu  mereka jualan di pinggir jalan sehingga menyebabkan macet yang luar biasa, sempat juga pindah di lapangan parkir yang sekarang jadi tempat jualan kue-kue subuh. Sampai akhirnya sekarang menempati dua gedung tersebut. Kenapa gue nggak lagi belanja ke Pasar Atom - Pasar Baru karena yaaa menurut gue lebih mahal dari Pasar Senen hehehe, lumayan bedanya bisa 5.000 - 10.000 (ya elaahhh..... :D). Gosipnya malah gedung yang sekarang ditempati akan dihancurkan untuk kemudian dibangun yang baru.

Satu lagi yang seru dari Pasar Senen, para pedagangnya lebih unik dalam menjajakan dagangannya.Dengan modal suara kencang sambil menarik perhatian pembeli dengan pantun dan kadang-kadang nyanyi. Biasanya mereka suka ngebawa nama artis2/seleb juga, kaya gini nih: yang diatas meja 5000 saja kakak, murah sekali kak, Julia Perez aja belanjanya disini :D.


Harganya Gimana? 
Yah, namanya juga pasar barang bekas ya pasti miring semiring-miringnya. Boleh percaya atau nggak terakhir gue ke Pasar Senen dengan hanya ngebawa uang 200.000 udah bisa bawa pulang 12 lembar baju (1 jeans, 6 terusan, 2 kemaja dan 3 rok) .. puwasssss!!!!! Ya pastinya kemampuan menawar harus dikerahkan. Selain itu salah satu cara untuk dapetin harga murah dengan membeli 2 - 3 lembar baju/barang di satu tempat. Mereka biasanya akan kasih harga makin murah.

Kualitas baju/barang?
Di tempat inilah QC harus dijalankan, which is diri elo sendiri :D. Harus teliti dengan baju/barang yang pengen dibeli. Cacat sedikit masih OK lah, tapi jangan sampai yang major kaya sobek. Kalau ada noda coba di cek apakah noda tersebut nantinya bisa dicuci dan hilang. Usahakan barang yang kita beli dalam kondisi baik. Kalau baju tersebut kusut belum tentu jelek lo, malah kadang-kadang ada yang masih brand new dan masih ada tag harganya. Jadi lumayan kan? Dapat barang 'baru' dengan harga super duper murah. Malah kadang-kadang bisa dapet barang branded ;).

Emang yang dijual apa aja sih?
BANYAAAAAAAAKK. Yang pasti pakaian cewe dan cowo untuk segala cuaca dari mulai summer dress sampai winter. Teman saya yang pergi ke Eropa saja berhasil dapat 2 buah jacket cakep yang lapisannya bulu angsa buat penahan udara dingin dengan harga 100ribu/pc saja sodarah-sodarah. Belum lagi sarung tangan. Ada sepatu, tas sampai onderdil cewe dari mulai celana dalam sampai BH pun juga ada (kalo yang satu ini sih udah pasti gue kaga beli kaleeee). Eh, baju anak-anak juga ada lo, termasuk bed cover sampai sleeping bag pun tersedia.

Ini bukan mall lo!!! 
Yup, cuma gedung lama yang kaga ada ACnya sama sekali, jadi kalo masuk ke dalam sudah pasti sumpek dan panas luar biasa. Pengap karena bau debu dari pakaian-pakaian tersebut. Makanya kalo ke tempat ini kalo perlu pake celana pendek dan baju kaos ajah biar ga kepanasan. Kaga perlu dandan cakep.. siapa juga yang mau lo kecengin di dalam? :D Yang ga kalah penting barang bawaan simpel aja, hati-hati dengan barang bawaan yang kita bawa. Banyak copet!!

You will never know what you get there ;)
Kenapa gue bilang gini? Beberapa kali ke tempat ini dengan rencana mau beli ini itu, ternyata semua yang gue pengen ga dapet. Akhirnya setiap kali datang gue mencukupkan diri dengan uang dan membeli barang yang menurut gue bagus dan pas di hati ... ihiiyyy :D. Malah dapatnya lebih banyak deeehh. Jangan malu juga untuk 'digging' baju-baju yang numpuk di atas meja atau yang digantung, karena kadang-kadang bisa dapet 'harta karun'. Oh iya, kalau sudah dapet barang yang bagus jangan sia2kan yaa, soalnya sudah dipastikan tidak ada yang ngejual lagi hehehehe.

HAPPY VINTAGE SHOPPING !!!!!!!

June 5, 2012

Curug Cibeureum



Perlahan mobil yang kami tumpangi memasuki Ciawi yang cerah. Saya hirup udara segar Ciawi dalam-dalam menggantikan udara Jakarta di paru-paru saya. Hmm….masih berbau CO2 sedikit sih karena sekitaran masih ada mobil-mobil yang parkir dan mengeluarkan gas CO2 dari pembuangannya. Mendinganlah daripada di Jakarta pikir saya dalam hati.

“Cibodas teh....?” kata seorang bapak yang menghampiri kami bertiga.
“Iya pak, berapa?” jawab saya
“Lima belas ribu” jawab si bapak dengan logat sundanya yang kental.
Tak lama saya, Milla dan Fiky sudah duduk manis didalam Elf belakang supir yang sedang bekerja. Tak sampai 10 menit mobil meninggalkan Ciawi menuju ke arah puncak pas kemudian Cibodas. Perjalanan kami bertiga adalah menuju Taman Nasional Gunung Gede Pangrango melalui Taman Cibodas. Kami akan trekking menuju Curug Cibeureum.

Angin sejuk berhembus masuk melalui jendela mobil membuai mata saya tapi sayangnya nggak bisa tidur juga. Laju mobil yang tadinya lancar mulai melambat dan macet. Kurang lebih satu setengah jam waktu yang harus ditempuh untuk mencapai pertigaan Cibodas. Setelah sampai di pertigaan Cibodas kami menuju warung nasi di pinggir jalan untuk membeli bekal makan siang nanti. Kemudian melanjutkan perjalanan dengan naik angkot menuju Taman Cibodas. Melalui jalan mulus menanjak selama kurang lebih lima belas menit, akhirnya kami tiba di gerbang depan Taman Nasional tersebut. Kunjungan ini adalah yang kedua kali buat saya dan yang pertama buat Milla dan Fiky.


 Tembok besar dari batuan kali dengan tulisan “Welcome to Gunung Gede Pangrango” menyambut  kami. Terlihat posko tapi tidak ada orang didalamnya. Kami diberitahu kalau loket untuk beli tiket pindah ke dalam. Kami memasuki wilayah tersebut dan disambut oleh rimbunnya pohon-pohon serta hawa sejuk dan lembab. Loket tiket terletak 100 meter dari gerbang depan. Harga tiket adalah Rp. 2.500 untuk lokal dan Rp. 25.000 untuk orang asing. Tak jauh dari loket tiket terletak papan peraturan-peraturan yang harus ditaati oleh pengunjung serta petunjuk jalan, toilet dan juga informasi tentang Taman Nasional.

Setelah selesai membeli tiket kami bertiga melanjutkan perjalanan memasuki hutan lebih dalam. Menurut papan petunjuk jarak dari loket tiket menuju menuju ke air terjun Cibeureum adalah 2.6km dan dapat ditempuh selama 1 jam. Tapi saya yakin seyakin-yakinnya pasti akan lebih dari satu jam. Jalan setapak yang ditandai dengan batu-batuan kali yang menanjak terlihat rapih, disisi kiri dan kanan tumbuh pohon-pohon besar dan tinggi khas hutan tropis. Bau lembab hutan dan udara sejuk segar menemani perjalanan kami.

Sepuluh menit pertama adalah perjalanan menanjak yang menyiksa *aga2 lebay. Sebenernya gak berat-berat banget sih cuma untuk saya dan Milla yang jarang-jarang olahraga dan trekking cukup membuat jantung ini bekerja luar biasa dan keringat pun mengucur tiada henti. Berkali-kali kami bertiga berhenti demi untuk mengatur nafas yang sudah senen kemis sambil sesekali minum dan menghirup udara segar. Ini penting sebab balik ke Jakarta sudah pasti ga bakalan dapet udara seperti ini.

Nanjak terussss................
Sekitar 40 menit berjalan kami tiba di Telaga Biru. Dinamakan Telaga Biru karena memang telaga ini berwarna biru (yaeyalah anak TK juga tauuu kaleee). Maksudnya berwarna biru karena terdapat tanaman Algae yang kadang berubah warna menjadi hijau kadang biru gelap. Cantik dan memanjakan mata saya yang sudah bosan melihat langit Jakarta berwarna kelabu. Setelah dua dan tiga kali jepret kami meninggalkan telaga tersebut melanjutkan perjalanan. Selain kami bertiga selama perjalanan kami juga di guide oleh sekurang-kurangnya 2 – 3 tawon yang dengan setia terbang mengelilingi kami. Nggak tau ini karena efek saya memakai baju merah atau tidak, yang pasti mereka setia sekali dari awal mula masuk hutan sampai saat ini. Untungnya mereka tidak menyengat kami *lega.
Telaga Biru 
Perjalanan lanjut sampai kami bertemu trail diatas rawa-rawa. Sebagian dari trail ini sudah di semen sebagian lagi masih berupa kayu. Trail ini berjarak kurang lebih 200 meter dan merupakan spot cantik untuk foto-foto tentunya. Saya lupa nama rawa-rawanya, yang pasti tempat ini sangat indah. Gunung Gede diselimuti kabut tampak dikejauhan padahal saat itu baru jam 12 siang. Tak lama dari tempat ini kami tiba di curug Cibeureum. Perjalanan yang ditempuh adalah satu jam 30  menit, sesuai dengan perkiraan saya yang pasti akan molor karena kecepatan berjalan kami yang dibawah rata-rata hehehehe.


Curug Cibeureum adalah curug yang berlokasi di dalam Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, 1.625 mdpl. Dinding curug ini banyak ditumbuhi oleh lumut merah, makanya terkadang air terjun berwarna kemerahan. Karena itulah dinamakan Cibeureum (sumber : papan pengumuman hehehe).  Ada dua air terjun di lokasi tersebut. Curug yang pertama yang saya temui lebih besar tetapi tidak terlalu tinggi. Untuk mencapai kolam alam dimana air tersebut jatuh kami harus naik ke atas sedikit. Tampias air yang dibawa oleh angin menyembur ke muka kami menambah suasana dingin.
                                
  
Karena disekitar curug yang pertama tidak ada tempat untuk istirahat alias sudah penuh kami memutuskan menuju ke curug yang kedua yang ada disebelah kanan. Curug ini lebih tinggi tapi tidak terlalu deras dan lebih kecil dibandingkan dengan curug yang pertama. Ditempat ini kami memutuskan untuk beristirahat sambil menikmati makan siang kami. Setelah makan siang, di atas batu kali besar kami bertiga tertidur hampir satu jam terbuai oleh ademnya suasana dan musik alami curahan air terjun yang tidak jauh dari posisi kami tertidur. Tak lama kami main air, foto kemudian memutuskan untuk kembali supaya tidak terlalu malam sampai ke Jakarta.


Saat kami pulang, di lokasi air terjun sudah banyak pengunjung yang terdiri anak-anak remaja yang sudah berada di lokasi. Demikian juga pada saat kami turun beberapa kali saya berpapasan dengan rombongan yang hendak naik ke atas. Perjalanan kembali lebih mudah dibandingkan dengan yang pertama karena berbalik menurun dan kami tempuh hanya 40 menit saja hehehehe. Kembali melewati Telaga Biru, kami mampir lagi dan kali ini beruntung bisa melihat 3 ekor lutung yang sedang bergelantungan di pohon sekitar telaga tersebut.

Kami melanjutkan perjalanan pulang dan tiba tak lama tiba di pintu loket. Melanjutkan dengan naik angkot menuju ke Jakarta yang berpolusi itu *sigh

May 3, 2012

Curug Panjang - Down Stream River Trekking


Setelah menunggu hampir satu tahun, akhirnya kesempatan untuk river trekking barengan Didi terwujud. Tim yang seharusnya berangkat delapan orang tereliminasi dua orang sehingga hanya kami berenam yang pergi. Lokasi yang akan kami tuju adalah Curug Panjang, Mega Mendung, Puncak Bogor.

Sabtu jam 8.30 pagi saya, Ninik, Hola, Ujang, Widhi dan Didi sudah nongkrong manis di pinggir jalan menuju pertigaan Ciawi setelah keluar dari pintu tol Jagorawi *inget bukan partiluan yaaaa* Karena telat berangkat akibat Ujang nyasar dan mba Nik dengan PopMienya :D, kami harus tertahan menunggu arus satu arah menuju Puncak tepat jam 9 pagi.
anak-anak desa

Jam 10 kami tiba di pintu gerbang Curug Panjang, Mega Mendung. Udara bersih dan sejuk serta pemandangan hijau menyambut kedatangan kami. Sayup-sayup terdengar bunyi gemuruh air dari arah curug. Setelah unloading barang dari mobil kami bergegas masuk dan berjalan sekitar 300 meter menuju kantor pengelola. Setelah makan dan ganti baju kami langsung berangkat untuk sesi pertama river trekking. Dengan berbekal life vest yang sudah dipegang masing-masing, kami berjalan menuju spot pertama yang harus dilalui dengan menanjak dulu. Perjalanan kurang lebih 1 km dan menanjak ini cukup menguras tenaga saya. Mataharinya terik sementara kami juga harus membawa life vest sehingga menambah panas suhu badan .. phhiuuhh. Kurang lebih 40 menit kemudian kami tiba di start awal untuk down stream sesi 1 yaitu Curug Ciblao. Melihat Curug Ciblao yang adem dan hijau semua penat keringat dan keluh kesah langsung hilang.

Cururg Ciblao terletak di balk tebing sebelah kanan


Curug Ciblao terdiri dari dua bagian yang bertingkat. Tingkat yang pertama adalah celah selebar 1 meter yang mengaliri kolam alam berwarna hijau toska yang dingin dan menyegarkan. Kolamnya cukup luas bahkan terlalu luas untuk kami ber-enam heheheh, karena saat itu hanya ada kami saja. Tingkat yang kedua adalah curug yang sebenarnya dengan ketinggian kurang lebih 10 meter. Letaknya tersembunyi, tidak bisa terlihat dari kolam dibawah. Untuk melihat curug yang diatas ini, kami harus berenang melewati kolam tersebut. Karena arusnya deras diletakan satu batang pohon besar dan tali untuk membantu kami naik dan melihat curug didalam. Disebelah kiri terdapat tebing dengan permukaan datar yang lebar untuk berdiri dan merupakan posisi bagus untuk melihat curug yang lebih tinggi tersebut. Curahan air deras tersebut tertampung oleh kolam alam yang tidak begitu lebar tapi saya yakin pasti dalam dan kami dilarang keras untuk loncat ke kolam itu. Cukup mengagumi keindahan dan keganasannya air yang tumpah saja.

Didi, the jumper
Menurut Didi yang harus dilakukan selama kami melakukan river trekking adalah loncat. Kebetulan jarak dari batu loncat ke bawah adalah sekitar 4 – 5 meter. Lumayan tinggi, tapi setelah dicoba untuk loncat malah jadi nyandu. Puas dengan acara loncat-loncatan kami melanjutkan trekking turun ke bawah. Sebagian besar rute sungai yang kami lalui rata-rata masih alami, bersih dan rindang. Cuaca di ‘luar’ sana sebenarnya panas jaya, tapi karena kami terus-terusan berendam di air dingin terkadang saya menggigil. Untungnya kami banyak bergerak. Beberapa kali kami juga harus loncat supaya bisa melanjutkan perjalanan. Kami menghabiskan waktu satu setengah jam untuk trekking downstream dari Curug Ciblao menuju Curug Panjang.

asiknya main air 
Sesi satu down stream kami selesai satu setengah jam kemudian. Kami istirahat lanjut makan siang. Di lokasi ini tidak terlalu banyak warung dan pilihan makannya juga tidak banyak. Untungnya Didi memesan nasi goreng untuk menu makan siang kami. Lumayan untuk menambah tenaga yang sudah terkuras habis di sesi satu ini. Karena kondisi yang tidak sehat, Ninik memutuskan untuk tidak ikut sesi down stream yang ke dua.
Widhi: woohooo

Sesi ke-dua river trekking adalah sama-sama downstream dan dimulai tak jauh dari lokasi Curug Panjang. Sisa-sisa penat dari down stream trekking yang pertama masih sangat terasa sekali. Berkali-kali kehilangan keseimbangan membuat saya akhirnya terjatuh. Untungnya ada Widhi di belakangan saya sehingga tidak terjatuh kena batu dan terseret arus yang deras…. pphhiiuuuh. Ujang sempat terpleset karena pijakan batu yang diinjak tidak kokoh dan menghadiahkan tanda mata yang cantik alias luka di tangan dan kaki hehehehe. Medan downstream kali ini, menurut saya lebih berat dibanding yang pertama tetapi lebih seru. Lebih banyak body rafting alias berendam di air dibandingkan berjalan atau trekking dan juga makin banyak main prosotan airnya. Arus airnya juga lebih deras mungkin karena makin banyak batu-batuan kali yang besar-besar sehingga membuat aliran air menyempit dan deras.

Kurang lebih 30 menit kami berjalan menyusuri sungai akhirnya kami tiba di curug Bundar dengan ketinggian kurang lebih 7 – 8 meter. Arusnya deras dan suara deru air terjunnya menggelegar dan satu-satunya jalan untuk melewatinya adalah dengan jalan loncat. Ada tiga posisi loncat di curug tersebut yaitu di ketinggian 7 meter, 5 meter dan 4 meter. Didi yang sudah beberapa kali loncat dari tempat ini lompat dari ketinggian 5 meter sementara kami ber-empat hanya berani di ketinggian 4 meter saja, yang saya yakin sekali pasti lebih dari empat meter.

Curug Bundar adalah akhir dari curug yang kami lewati. Sekitar 50 meter setelah curug Bundar, river trekking kami selesai dan beristirahat sejenak di pinggir sungai. Tak jauh dari situ aliran sungai langsung turun ke bawah membentuk air terjun yang tingginya mencapai 21 meter dan dinamakan Curug Naga.  Dibawah sana sungai selebar kurang lebih dua meter mengalir dengan derasnya. Mungkin kalau kami kembali lagi akan mencoba kemegahan curug Naga bukan dengan loncat tapi datang dengan jalan melawan arus atau mungkin repelling :D.



Lepas river trekking kami kembali ke warung tempat kami meletakkan barang-barang dengan menyusuri hutan yang terletak di tebing diatas sungai. Tak sampai 20 menit kami jalan, sudah bertemu spot awal kami memulai river trekking sesi ke-2. Batu-batuan besar yang terletak berserakan cukup menarik untuk dijadikan spot foto. Saya juga melewati kincir air yang berfungsi sebagai sebagai pembangkit listrik untuk warung-warung disekitar curug. Hebat juga pengelola tempat ini, pikir saya, mereka memanfaaatkan alam yang ada untuk mendapatkan listrik. Kincir airnya pun sangat sederhana, terbuat dari kayu dan bambu.

Aga menanjak sedikit mulai terlihat Curug Panjang di depan mata saya. Dinamakan curug Panjang karena air yang turun tidak langsung jatuh ke bawah seperti curug-curug biasanya, tapi memanjang mengikuti alur batu-batu yang terdapat di sekitarnya. Curug ini merupakan perpanjangan dari sungai yang sebelumnya kami lewat pada waktu melakukan river trekking sesi 1. Tidak mau melewatkan segarnya air curug, saya langsung bergabung dengan teman-teman saya yang sudah lebih dulu ada disana. Alirannya airnya cukup deras dan lagi-lagi dingin tapi segar. Sekitar curug Panjang cukup ramai oleh pengunjung karena memang posisinya yg lebih mudah dicapai ketimbang curug Ciblao ataupun curug Bundar dan lebih aman buat anak-anak kecil.

Badan ini mulai menggigil dan kami memutuskan untuk selesai bermain air. Kami harus mendirikan tenda sebelum bumi ini menggelap. Kami mandi di toiletnya yang bersih dan airnya berlimpah ruah kemudian lanjut mendirikan ke dua tenda kami. Urusan tenda, sempat terjadi argument diantara kami, sementara saya yang aga labil sebelumnya memilih tenda yang lebih baru dengan merek Hijau (disensor biar tidak ada kerusuhan di kemudian hari) tetapi karena Hola berkata bawah tenda Kuning lebih mahal dan lebih bagus karena itu adalah tenda khusus camping di gunung, akhirnya ber-alih lah saya ke tenda lama itu. Setelah pembagian masing-masing tenda untuk tiga orang kami lanjut mempersiapkan makan malam ini ya itu barbeque night.
Api unggun sudah menyala, jagung, sosis dan baso sudah dibumbui dan marshmallow pun sudah siap. Sayup-sayup terdengar bunyi gelegar petir dan rintik rintik air sedikit2 mulai turun. Tapi kami  tetap bertahan di dekat api unggun sambil membakar makanan yang ada. Walau makan seadanya, tapi nikmat juga mungkin karena kelaparan serta cuaca dingin yang makin makin lama makin hangat karena kami berada di sekitar api unggun.

Suasana makin gelap, rintik hujan tetap pada ritme awal, tidak terlalu besar sehingga masih bisa berjalan kesana kemari. Setelah makan kami memutuskan untuk main kartu yang saya bawa dari Jakarta. Mba Nik tidur lebih dahulu karena tidak enak badan di tenda Kuning sementara kami berlima lanjut main kartu di tenda hijau. Dari yang awalnya main kartu badan tegak sampai semuanya selonjoran karena sudah terlalu capek, akhirnya jam 9 malam diputuskan untuk tidur lebih cepat, padahal biasanya kalo hari-hari biasa pada jadi zombie semua  hahahah. Saya masuk ke dalam tenda. Masuk ke dalam sleeping bag dan mulai tertidur.

Sekian lama tertidur saya terbangun dan mendengar bunyi rintik hujan makin kencang. Saya mulai aga was-was tapi tetap melanjutkan tidur sampai saya merasakan makin dinginnya tempat yang saya tiduri. Alas tenda rembes, saya pun panik dan terbangun. Ninik dan Hola juga saya bangunkan. Daripada saya masuk angin kemudian akhirnya saya putuskan untuk pindah ke tempat kering yaitu ke warung di atas. Sementara tenda hijau didepan kami aman tidak ada rembesan sekalipun. Rasanya pengen robohin juga tuh tenda di depan biar ikutan bangun juga dan pindah hahahaha *egois mode*. Saya, Ninik dan Hola pindah ke warung atas dan mulai menjarah bangku bamboo panjang. Dengan memakai sleeping kamipun (akhirnya) tertidur sampai pagi. Kali ini tanpa drama bocor.  

Niat bangun pagi supaya bisa main di curug panjang kalah oleh hangatnya sleeping bag kami. Setelah jajan di warung dan sarapan seadanya kami lanjut packing untuk kemudian packing dan melanjutkan perjalanan ke rumah Ujang yang kebetulan berlokasi di Bogor.