Showing posts with label what to visit in jakarta. Show all posts
Showing posts with label what to visit in jakarta. Show all posts

October 21, 2013

Taman Wisata Alam (TWA) Angke Kapuk

Kalau bosen dengan tempat wisata Jakarta yang itu-itu aja, cobain datang ke Taman Wisata Alam Angke Kapuk. Buat kalian yang suka berinteraksi dengan alam mungkin ini salah satu pilihan yang OK buat didatengin. Karena gue sendiri suka dengan konsepnya.

Entrance tiket TWA ini adalah Rp 10.000/orang (murah yak) daaaann ditanyain bawa kamera atau nggak. Gue sih ngakunya ga bawa padahal tersimpan dengan manis di dalam tas :D. Bukannya ga boleh bawa kamera tapi akan dikenakan biaya sebesar Rp 1.000.000/ 7 orang!!! MAHALLLL... emang iya. Kenapa mereka charge mahal, karena tempat ini banyak dipakai untuk tempat photo pre-wedding. Jadi makin penasaranlah gue secakep apa sih tempat ini. Selain itu karena alasan itu sang pengelola juga menginginkan agar pengunjung yang datang banyak belajar dari sini bukan hanya sekedar fot-foto ajah.. gitchuuuu! Tapi menurut Budi kalo kamera poket doank boleh, ga tau bener atau kaga gue sendiri selama disana sembunyi-sembunyi fotonya xixixixix. Can't resist myself to take photos of this place >.<
bird view Taman Wisata Alam Angke Kapuk
Masuk ke kawasan ini kami disambut oleh hijau dan lebatnya hutan mangrove di kiri dan kanan jalan. Ada beberapa rumah kayu yang diperuntukkan untuk pengunjung jika ingin menginap. Beberapa bagian di TWA ini sedang di perbaiki dan beberapa juga dibangun. Ada sebuah rumah kayu yang cukup luas yang menurut Budi untuk tempat resepsi pernikahan. Lucu juga heheheh. Kemudian kami naik ke sebuah menara dimana kami bisa melihat landscape dari TWA ini. Disini kami mengeluarkan kamera kami dan memuaskan diri untuk foto2 hahahahaha. Dari Menara ini bisa terlihat pesawat yang take off dan landing di Soeta. Tak jauh bisa kelihatan Teluk Jakarta dan reklamasi yang sedang dilakukan oleh Pemda DKI.

Puas melihat-lihat dari atas kami pun turun untuk kemudian lanjut menyusuri jalan setapak dari kayu yang dibuat di atas air. Jalan ini juga digunakan untuk jalur bersepeda. Jalur ini rindang oleh pohon2 mangrove yang lebat di kiri dan kanan jalan. Kemudian kami mampir ke menara Bird Watching yang kirain cuma basa basi doank tapi ternyata emang beneranbanyak banget burung yang seliweran terbang kesana dan kemari. Ada yang putih, hitan.. ga tau apa nama burungnya yang pasti gue cukup terpesona dengan alam di sekitar. Turun dari menara gue sempet liat ular di dalam air rawa yang lagi berdiri entah ngapain yang pasti antara kagum dan takut. Kagum karena banyak juga satwa yang hidup dengan bebasnya di tempat ini. Takut karena ngeri tuh ular trus nyamperin gue yang lagi liatin dia ..... >.<
birds








Kami pun lanjut nyusurin jalan setapak kemudian ke arah jembatan. Dari jembatan ini bisa terlihat jalan tol menuju arah bandara yang sangat ramai. Walaupun kiri dan kanan hijau tapi polusi suara tidak bisa dihindari karena jaraknya masih cukup dekat dengan jalan tol dan juga suara pesawat yang sedang terbang di atas TWA ini cukup terdengar. Anyway buat gue suasana ini sudah cukup menyenangkan sih. Dengan udara yang segar dari pohon mangrove. Walapun airnya hijau *khas hutan mangrove* tapi tidak ada sampah alias bersih. Keliatan banget kalau tempat ini memang di kelola dengan baik.



Puas keliling foto dan melihat-lihat setelah Fajar dan Budi solat (masjidnya cantik!!!!) kami lanjut untuk melihat-lihat penginapan kemudian menuju ke arah laut. Sayangnya hari sudah gelap dan kami tidak  bisa berlama-lama disana disamping juga nyamuknya yang mulai mengganas. Mungkin lain waktu gue akan datang lagi ke tempat ini ;).

Oh iya, kalo mau datang ke tempat ini jangan lupa bawa mosquito repellent. Suwerrr nyamuknya ganas ganas. Namanya juga hutan yak.. what do you expect. Trus pake alas kaki yang nyaman dan flat karena permukaan jalan setapak terbuat dari potongan kayu jadi nggak rata gitu deh. Gue aja yg pake sneakers berasa capek banget ...
Mangrove Plantation
Information:
Entrance Ticket:
Domestic : Rp 10.000/pax
Foreigner : Rp 23.000/pax
Car : Rp 5.000/car
Bus : Rp 25.000/bus

Activities:
Camping
Nature Tourism
Mangrove Plantation
Canoeing ; Rp 50.000/canoe
Boat : Rp 50.000/boat -- row your own boat
Speed boat : Rp 200.000/boat -- for 6 person -- 40 minutes

How to get there by public transportation:
Busway TransJakarta heading Mall Pluit Village.
Take taxi to TWA Angke Rp 35.000 if you go 3 - 4 people. Or take angkot heading to Muara Angke/Karang stop at PIK intersection and then continue with red angkot to PIK and stop at Yayasan Buddha Tsu Chi. TWA is located behind the Buddha Tsu Chi Building. You just need to walk around 200 meters

February 19, 2013

Menjelajah Masa Lalu Bersama Museum di Tengah Kebun

#MuseumdiTengahKebun --> keren nih, let me know how to get there donk @pikooy

ikott RT @pikooy you should go there, Li. Gw pengen kesana lagi juga.

Museum di Tengah Kebun
Itu adalah sepenggal kicauan gue di twitter dengan Pikooy. Awal mula dari ketertarikan gue untuk mengunjungi Museum di Tengah Kebun ini. Museum yang letaknya di Jakarta tepatnya Jl. Kemang Timur No. 66 yang mungkin tidak terlalu banyak orang yang tahu karena memang museum ini ternyata belum lama dibuka, yaitu sekitar tahun 2009.

Gerbang depan

Jalan setapak menuju museum
Tidak lama dari kicauan2 tersebut, kami langsung mewujudkannya di Sabtu siang jam 12.30, gue dan 7 orang teman yang lain (Pikooy, Tiar, Felis, Ridzki, Itong, Budi & Kim) sudah tiba di depan gerbang Museum tersebut. Di depan gerbang pintu selebar 7 meter kami disambut oleh penjaga rumah kemudian dipersilahkan masuk. Begitu gerbang dibuka terbentang jalan kecil selebar 7 meter dengan suasana hijau dan rindang palem di kiri dan kanan jalan. Untuk sampai menuju rumah kami harus jalan ke dalam sepanjang 60 meter. Bunyi bising jalan raya makin lama menghilang. Taman yang cantik dan asri mulai tampak begitu kami mendekat ke arah rumah. Di taman tersebut mulai terlihat barang peninggalan sejarah yang menjadi ciri khas dari Museum di Tengah kebun.

di guide oleh Bapak Mirza Djalil
Tiba di depan rumah kami disambut oleh Pak Mirza Djalil yang merupakan keponakan dari Sjahrial Djalil sang pemilik dari Museum di Tengah Kebun yang sekaligus akan menjadi pemandu buat kami. Museum di Tengah Kebun ini mulai dibuka untuk umum tahun 2009 sampai sekarang. Museum yang juga merupakan rumah kediaman dari bapak Sjarial Djalil ini berdiri diatas lahan seluas 4.200 m2 dengan luas bangunannya sendiri hanya 700 m2. Sisanya 3.500 m2 adalah kebun hijau yang cantik dan tertata rapih.

Ternyata rombongan kami tidak sendiri. Ada 2 orang dari stasiun TV yang juga sedang meliput Museum ini (Asiikkk, bonus masuk tipi nih xixixiix). Dari depan pintu rumah kami mulai dipandu oleh pak Mirza, beliau menjelaskan tentang sejarah museum/rumah ini yang pertama kali dibangun di tahun 1986 dengan menggunakan 65.000 bata yang diambil dari bongkaran gedung -gedung tua peninggalan Belanda yang sudah pasti dijamin awet. Sedangkan engsel-engsel semua pintu yang ada dirumah ini diambil dari engsel pintu dari penjara wanita Bukit Duri. Wuiihhhhhh.......

Bata merah dari gedung tua peninggalan VOC
Di depan pintu rumah kami disambut oleh 1 pasang ukiran kayu Batara Indra, tempayan dari Dinasti Qing, China, fosil kayu dan beberapa patung serta topeng. Didepan pintu itu pula kami harus mengisi buku tamu masing-masing dan mengganti alas kaki kami dengan sendal yang sudah disediakan oleh pihak museum. Dengan alasan supaya tidak membawa kotoran dari luar ke dalam. Selain barang-barang antik Museum ini juga memiliki koleksi karpet buatan Pakistan sebanyak 19 lembar yang juga di letakkan dirumah tersebut.

beberapa koleksi
fosil kerang dan lebah raksasa
Di dalam rumah kami dilarang untuk mengambil foto dan harus meninggalkan tas di depan. tapi anehnya kamera TV boleh masuk (nah lo??!!). Tiap-tiap ruangan di museum ini diberi nama seperti contohnya ruangan depan diberi nama Loro Blonyo  (sepasang patung Pengantin Jawa), kenapa Loro Blonyo? Karena memang ada patung Loro Blonyo dari abad ke-19. Yang pasti penamaan ruangan dan pengaturan letak koleksinya ini berdasarkan keinginan dari pemilik museum. "Rumah dan barang milik saya, suka-suka saya donk mau dinamakan apa saja sesuai dengan keinginan saya" begitu menurut pak Sjahrial seperti yang dikutip oleh pak Mirza. Bener juga sih gumam gue dalam hati.

ruang tidur 

bathtub yang baru 6x dipakai
Ruang berikutnya adalah ruang Arca Buddha Myanmar. Ruangan ini adalah semacam ruang menerima tamu yang langsung menghadap ke arah kebun belakang yang luwwasssssssss. Dari tempat ini terdapat berbagai macam koleksi dari dalam dan luar negeri. Sofa nya juga bukan sembarang sofa, tetapi merupakan bagian dari tempat gamelan yang kemudian dimodifikasi menjadi sofa yang cantik lengkap dengan dudukan yang dilapisi batik. Bisa dipastikan semua benda yang ada di rumah/museum ini adalah barang2 antik. Termasuk lemari yang konon dibuat pada zaman Belanda oleh para tawanan kala itu.

ruang Arca Buddha Myanmar dari  luar
Kami juga masuk ke ruang Dewi Sri (ruang makan), Prasejarah (kamar kerja) & ruang Buddha Thailand (kamar tidur) dan juga Ruang SingaGaruda (kamar mandi). Yang membuat kami terkagum kagum adalah ruang SingaGaruda ini yang adalah kamar mandi pribadi dari pemilik museum yang luasnya 3x lipat dari luas kamar tidurnya sendiri. Ada bathtub yang dari awal kali di bangun sampai sekarang hanya dipakai sebanyak 6 kali. Kamar mandi ini terhubung dengan kebun kecil yang asri dibalik bathtub. Ada juga pajangan buah catur yang terbuat dari gading dari abad ke-19 Dinasti Qing. Dan yang paling membuat shock adalah Tas Hermes yang hanya dibuat keranjang sampah!!!! OMG.. entah itu asli atau tidak!.

Jumlah koleksi yang dipajang di museum ini adalah sekitar 2.000 lebih. Koleksi ini datang dari 63 negara termasuk Indonesia dan daerah-daerah di Indonesia lainnya. Salah satu cara mendapatkannya adalah melalui balang lelang Christie yang sudah dipastikan harganya bisa buat keliling dunia bolak balik :D dan juga dapat di jalan seperti contohnya patung Ganesha tahun 800-an yang ada di kebun belakang museum. Patung Ganesha ini didapat dari sebuah daerah di Jawa Tengah dengan cara ditukar dengan mendirikan sekolah, rumah dan juga kantor desa. Jenis koleksi adalah berbagai macam jenis, dari mulai patung, ukiran, arca, koin, furniture, lampu, fosil, perhiasan, topeng, perak, perhiasan dll.

Arca Wajrapani ini dibeli dengan menukar apartemen pak Sjahrial yang di Sydney 0_o
Halaman belakang main lagi ceritanya. Di tengah-tengah kebun terdapat pendopo yang juga memajang karya seni dari Eropa. Di kebun belakang yang asri dan hijau ini terdapat lebih dari 200 lubang biopori, jadi selain museumnya yang indah, pak Sjahrial juga menjaga supaya tidak terjadi genangan air alias banjir di lingkungan sekitarnya. KEREN YAK!! Bisa dipastikan di setiap sudut rumah dan halaman terdapat sentuhan koleksi. Dipojok belakang kolam renang berwarna biru jernih kontras dengan warna hijau pepohonan. Saking banyaknya koleksi kadang-kadang jalannya harus hati-hati banget karena kalo pecah atau rusak ga tau deh musti bayar pake apaan hahahaha. Kalo menurut pak Mirza bukan masalah bayarnya, tetapi ada atau tidaknya barang tersebut! *phhiiuuuhh*

kebun belakang yang luas
Tidak terasa waktu hampir 2 jam 30 menit sudah kami lalui berkeliling rumah/museum ini. Capek, lapar, haus tapi kami puas dengan tur museum ini. Rasanya ga habis2 kagum dengan koleksi yang ada. Ahhh, kapan-kapan pasti gue akan kembali lagi ke tempat ini :D.

Kalau berminat datang, museum ini buka hanya di hari dan jam tertentu yaitu Rabu, Kamis, Sabtu dan Minggu. Selebihnya museum di tutup untuk dibersihkan dan kepentingan penelitian. Ada dua sesi yaitu 9.30 - 12.00 dan 12.30 - 15.00. Datang pun tidak bisa sembarangan asal masuk tapi melalui perjanjian via telpon ke 021-7196907. Pengunjung juga dibatasi setiap satu sesi hanya boleh 7 - 10 orang saja. Dan yang paling penting adalah FREE ADMISSION alias tidak dipungut biaya sama sekali ;). Disediakan juga guide baik itu bahasa Indonesia ataupun bahasa Inggris. Seru yaa ;)

Sebenarnya masih banyak pemikiran2 lain tentang pengalaman gue kali ini, tapi sudahlah... biarlah itu menjadi  pengalaman personal kami masing2 pribadi heheheheh.

Happy back to the past bersama Museum di Tengah Kebun!!

Foto bareng pak Mirza dan patung Ganesha


November 21, 2012

The Unspoiled Curug Cikaracak

Pernah dengar nama Curug Cikaracak?  Curug ini emang sama sekali ngga tenar. Biasa ajah dibanding dengan Curug Cikaso dan Curug Cigangsa di Ujung Genteng atau Curug Malela di Bandung Barat. Tapi buat gue curug ini beda dengan yang lain in terms of ' the journey reaching this place'. Gue sendiri lupa udah berapa kali ke tempat ini dengan orang-orang yang berbeda, tapi setiap kali kesini adventurenya pasti berbeda-beda.

Kenapa gue suka dengan Curug Cikaracak, definitely bukan karena cantiknya karena memang biasa banget seperti di awal gue bilang tapi lebih ke trekking menuju ke Curug dan tempat ini sama sekali tidak komersil alias nggak bayar at least sampe sekarang dan dekat dari Jakarta. And just for a short escape from Jakarta pollution, this place is just perfect for me. Curug Cikaracak yang lokasinya di Dusun Cibeling, Desa Cinagara, Kecamatan Caringin, Bogor, Jawa Barat ini masuk ke dalam wilayah Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Jaraknya sekitar 15km dari Ciawi mengarah ke Sukabumi atau 5km dari Talang Air Cisempur (Talang 3). 

All Photos - Courtesy of : Ivy & Aniss
Untuk menuju ke sana bisa dengan pakai mobil atau motor. Tapi yang biasanya gue dan teman2 lakukan kalo datang kesini adalah dengan menggunakan angkot yang disewa (pp) dari Ciawi. Gue ngak nyaranin untuk naik kendaraan pribadi karena 1 km terakhir menuju Dusun Cibeling jalannya off road berbatu dan berlumpur. Dan pada saat gue kesana barengan Ivy, Aniss dan Ndok naik mobil pribadi menghasilkan baret di bemper depan serta bagian bawah mobil yang terkena benturan berkali-kali :D.

 
Dari Dusun Cibeling, yang adalah dusun terakhir dilewati, kita ber-4 trekking menuju ke Curug Cikaracak sepanjang 3 km melewati jalan setapak menyusuri pematang sawah, kebun, keluar masuk sungai yang berbatu dan berair jernih dan kawasan hutan Taman Nasional yang becek dan kadang tanahnya tidak keras sehingga ketika diinjak langsung jeblos :D. Perjalanan dari Dusun terakhir ke Curug Cikaracak adalah sekitar 1,5 jam berjalan santai atau sekitar 2 jam lebih kalau santai banget plus foto-foto hehehhehe.

Disepanjang jalan pemandangan pohon - pohon hijau yang baru diguyur hujan nambah seru perjalanan. Tampak jauh monyet-monyet gelantungan asyik makan jambu air yang sedang berbuah lebat banget. Uhh, seruw banget tuh kalo bisa ngerujak heheheh #salah fokus. Pohon cabe yang baru saja di tanam juga tampak segar sehabis diguyur hujan. Sekitar 200 meter sebelum masuk ke Papan Kawasan Taman Nasional ada segerombolan anak2 remaja yang lagi camping ngingetin kita ber-4 kalao mau ke curug harus hati-hati karena banyak tanah longsor akibat hujan beberapa minggu yang lalu. 

Ini yang paling gue suka dengan perjalanan ke Curug Cikaracak, soalnya sudah berkali-kali gue kesini trekkingnya pathnya pasti 'ganti-ganti' terutama setelah masuk ke kawasan Taman Nasional. Entah karena ketutup karena sudah lama tidak didatangi atau pohon tumbang akibat longsor. Yang paling extreme adalah ketika jalan kami benar-benar terhalang oleh ranting-ranting kayu dari pohon yang tumbang karena tanah longsor. Dan dengan sangat terpaksa kami harus berjalan di atas sungai yang sudah tertutup ranting-ranting tersebut.

Sesampainya di Curug Cikaracak, seperti biasa tidak ada siapa-siapa hanya gue dan ketiga teman yang lain. Saat itu debit air tidak terlalu kencang tapi masih terasa percikan airnya. Curug itu masih ada dengan segala kesederhanaannya tanpa saung-saung yang menghiasi sekeliling tapi sayangnya sampah-sampah masih ada disekitar walau tidak terlalu banyak.



















Emang bener Curug Cikaracak itu biasa aja, tapi buat gue yang menjadikannya luar biasa adalah perjalanan menuju ke Curug tersebut. Cause sometimes the journey does matter a lot than the destination itself.




October 11, 2012

Ber-Vintage-Ria di Pasar Senen


Hampir semua perempuan pasti suka shopping, termasuk gue sih pastinya.Tapi apakah itu termasuk belanja di pasar loak atau istilah bahasa Inggrisnya Flea market? Well, I doubt that! Mungkin orang-orang akan bertanya-tanya, "Ya, ampun sumpe loo belanja baju di pasar loak? Kaga gatel-gatel tuh badan lo? Well.. who cares. Toh selama ini gue pakai baju aman-aman aja tuh.

Pasar Senen
Gue adalah salah satu yang termasuk penggemar belanja baju-baju bekas di pasar loak, tepatnya second hand market yang berlokasi di Pasar Senen. Awalnya mulanya waktu kuliah dulu, karena gue kuliah di kampus sekretaris yang mengharuskan gue untuk memakai rok dan kemeja setiap harinya. Waktu itu nyokap ngebawa gue ke daerah Pasar Baru letaknya tepat di Pasar Atom lantai 3. Kalau elo yang hobby beli printilan kamera pasti tau tuh tempatnya. Nah,... letak Flea marketnya tepat satu lantai di atas lantai yang menjual kamera itu. Awal masuk kerja agak jarang juga mengunjungi Flea Market ini. Salah satu alasan karena waktu dan udah punya uang sendiri jadi masih sanggup lah beli baju baru hehehe.Bukan berarti sekarang gag sanggup beli yang baru lo, tapi lebih ke kepuasan kalo bsia dapat barang bagus dengan harga murah, puasnya tuh beda banget gituh :D.

 

Dulu gue sering belanjanya ke Pasar Baru, sekarang ini pindah ke Pasar Senen yang berlokasi di Gedung Proyek Senen. Gedung ini dulu di tempati oleh Ramayana dan juga Matahari Dept. Store. Kalau dulu  mereka jualan di pinggir jalan sehingga menyebabkan macet yang luar biasa, sempat juga pindah di lapangan parkir yang sekarang jadi tempat jualan kue-kue subuh. Sampai akhirnya sekarang menempati dua gedung tersebut. Kenapa gue nggak lagi belanja ke Pasar Atom - Pasar Baru karena yaaa menurut gue lebih mahal dari Pasar Senen hehehe, lumayan bedanya bisa 5.000 - 10.000 (ya elaahhh..... :D). Gosipnya malah gedung yang sekarang ditempati akan dihancurkan untuk kemudian dibangun yang baru.

Satu lagi yang seru dari Pasar Senen, para pedagangnya lebih unik dalam menjajakan dagangannya.Dengan modal suara kencang sambil menarik perhatian pembeli dengan pantun dan kadang-kadang nyanyi. Biasanya mereka suka ngebawa nama artis2/seleb juga, kaya gini nih: yang diatas meja 5000 saja kakak, murah sekali kak, Julia Perez aja belanjanya disini :D.


Harganya Gimana? 
Yah, namanya juga pasar barang bekas ya pasti miring semiring-miringnya. Boleh percaya atau nggak terakhir gue ke Pasar Senen dengan hanya ngebawa uang 200.000 udah bisa bawa pulang 12 lembar baju (1 jeans, 6 terusan, 2 kemaja dan 3 rok) .. puwasssss!!!!! Ya pastinya kemampuan menawar harus dikerahkan. Selain itu salah satu cara untuk dapetin harga murah dengan membeli 2 - 3 lembar baju/barang di satu tempat. Mereka biasanya akan kasih harga makin murah.

Kualitas baju/barang?
Di tempat inilah QC harus dijalankan, which is diri elo sendiri :D. Harus teliti dengan baju/barang yang pengen dibeli. Cacat sedikit masih OK lah, tapi jangan sampai yang major kaya sobek. Kalau ada noda coba di cek apakah noda tersebut nantinya bisa dicuci dan hilang. Usahakan barang yang kita beli dalam kondisi baik. Kalau baju tersebut kusut belum tentu jelek lo, malah kadang-kadang ada yang masih brand new dan masih ada tag harganya. Jadi lumayan kan? Dapat barang 'baru' dengan harga super duper murah. Malah kadang-kadang bisa dapet barang branded ;).

Emang yang dijual apa aja sih?
BANYAAAAAAAAKK. Yang pasti pakaian cewe dan cowo untuk segala cuaca dari mulai summer dress sampai winter. Teman saya yang pergi ke Eropa saja berhasil dapat 2 buah jacket cakep yang lapisannya bulu angsa buat penahan udara dingin dengan harga 100ribu/pc saja sodarah-sodarah. Belum lagi sarung tangan. Ada sepatu, tas sampai onderdil cewe dari mulai celana dalam sampai BH pun juga ada (kalo yang satu ini sih udah pasti gue kaga beli kaleeee). Eh, baju anak-anak juga ada lo, termasuk bed cover sampai sleeping bag pun tersedia.

Ini bukan mall lo!!! 
Yup, cuma gedung lama yang kaga ada ACnya sama sekali, jadi kalo masuk ke dalam sudah pasti sumpek dan panas luar biasa. Pengap karena bau debu dari pakaian-pakaian tersebut. Makanya kalo ke tempat ini kalo perlu pake celana pendek dan baju kaos ajah biar ga kepanasan. Kaga perlu dandan cakep.. siapa juga yang mau lo kecengin di dalam? :D Yang ga kalah penting barang bawaan simpel aja, hati-hati dengan barang bawaan yang kita bawa. Banyak copet!!

You will never know what you get there ;)
Kenapa gue bilang gini? Beberapa kali ke tempat ini dengan rencana mau beli ini itu, ternyata semua yang gue pengen ga dapet. Akhirnya setiap kali datang gue mencukupkan diri dengan uang dan membeli barang yang menurut gue bagus dan pas di hati ... ihiiyyy :D. Malah dapatnya lebih banyak deeehh. Jangan malu juga untuk 'digging' baju-baju yang numpuk di atas meja atau yang digantung, karena kadang-kadang bisa dapet 'harta karun'. Oh iya, kalau sudah dapet barang yang bagus jangan sia2kan yaa, soalnya sudah dipastikan tidak ada yang ngejual lagi hehehehe.

HAPPY VINTAGE SHOPPING !!!!!!!