Showing posts with label beach. Show all posts
Showing posts with label beach. Show all posts

July 12, 2013

i left my heart in Gili Trawangan


yup!!
Buat gue Gili Trawangan seperti sudah menjadi icon dari pulau Lombok sebagai tempat liburan yang pasti berkesan dan asyik selain Bali tentunya hehehehe. Ini adalah kali kedua gue mampir ke pulau yang menawarkan sejuta pengalaman liburan. Pas dengan rangkaian liburan gue Juni kemaren, kami ber-5 menyempatkan untuk mampir ke pulau ini karena dua temen kami belum pernah ke tempat ini sebelumnya. Perjalanan kami dari selatan Lombok langsung menuju ke bagian utara. Kami tiba di dermaga Bangsal jam 6 sore tepat disambut oleh matahari terbenam yang indah. Awalnya kami khawatir tidak akan mendapatkan kapal menuju ke Gili T karena sudah lewat waktunya. Tapi kami beruntung karena ada kapal yang mau menuju kesana dengan membawa beberapa penumpang walaupun kami harus membayar Rp 20.000 (normalnya Rp 10.000).
sunset at Bangsal harbour
Tiba di Gili T. kami langsung mencari penginapan dan untungnya pada saat kami datang ke tempat ini belum memasuki high season sehingga dengan mudahnya kami mendapatkan tempat. Beberapa calo menawarkan penginapan kepada kami dengan harga yang bervariasi tergantung budget yang kami miliki. Jangan lupa dicek penginapannya apakah sesuai dengan yang kita ingini dan pastinya ditawar biar harganya murah. Biasanya mereka sangat berkompromi jika musimnya tidak ramai ;). Penginapan di Gili T. bermacam-macam, dari mulai yang paling murah sampai yang mahal semuanya ada di pulau ini.
night market at Gili Trawangan
my always favorite gelato
Acara kami selanjutnya adalah makan malam dan memutuskan untuk menuju ke night market. Di tempat ini ada banyak penjual makanan yang cukup murah kalo dibandingkan dengan restoran-restoran yang ada di pulau. Harganya kalo menurut gue sama dengan makanan di Jakarta sih. Yang paling ngenes adalah ketika gue beli jajanan pasar yang harganya Rp 5.000/pc which is mahal dan rasanya so so dan ketika para bule yang beli harganya langsung naik 2x lipat jadi 10ribu sajah... ckckckck. Setelah makan kami menuju ke pantai sekitar pulau... aga aneh si ngomongnya secara ketemunya pantai mulu yak hahahahah. Maksudnya nyari pantai yang bisa buat duduk sambil makan gelato :D

Keesokan hari kami menyewa sepeda untuk berkeliling Gili T. Gili Trawangan bisa dikelilingi dengan hanya jalan kaki tapi cukup jauh dan emang yang bener-bener niat sih. Kalo buat gue ber-sepeda ria adalah cara yang tepat selain murah juga nggak terlalu cape. Harga sewa sepeda sekitar 30 - 50 ribu/hari tergantung nego. Kalo males ngayuh sepeda bisa naik cidomo a.k.a delman untuk ngelilingin pulau. Karena ngga pernah naik cidomo jadi gue ga tau berapa range harganya.
the best way to go around Gili Trawangan is biking!
a morning look out of Rinjani from Gili Trawangan
Kalo ditanya what-to-do di Gili T.. banyaakkkkk. Selain berkeliling pulau. Kita juga bisa island hoping ke Gili Air dan Meno. Banyak operator yang nawarin paket2 untuk snorkeling ke pulau sekitar dan biasanya mereka menggunakan juga glass bottom boat jadi kita bisa liat tuh ikan-ikan dibawah perahu. Kalo diving operator juga banyak. Mau ambil license juga bisa. Banyak juga operator yang nawarin tour ke Pulau Komodo. 

One thing for sure, I will never get bored to be at Gili Trawangan ! I will come back someday ;)
swimming is must!
How to go there:
Dari Bandara Internasional Lombok naik DAMRI ke Senggigi. Dari Senggigi bisa naik angkot menuju Pelabuhan Lembar atau kalo rame2 bisa patungan naik taxi (Bluebird atau Express - argonya sama) dari Sengigi. Naik taxi sekitar 40 - 50 ribu. Di pelabuhan Lembar naik kapal umum ke Gili T. harga tiketnya 10ribu sajah.

Summer in Lombok 2013, the series:
- Pantai Tangsi & Teluk Sunut di Lombok Timur

July 11, 2013

Ketiduran di gili Nanggu, berenangnya di gili Kedis lanjut lunch di gili Sudak - Lombok Barat

Subuh setelah drop Marcel di Bandara, mobil kami langsung meluncur menuju Barat Lombok. Gue, mbaNik merangkap supir :D, Grace dan mbaUli jam 6 pagi waktu setempat sudah tiba di daerah Lembar, Pelabuhan ferry yang menghubungkan Lombok dan Bali. Suasana masih sangat sepi sekali ketika akhirnya kami tiba di Kecamatan Sekotong, waktu menunjukkan pukul 7 pagi. Pagar sekolah yang kami lewati masih tertutup rapat, seperti tidak ada tanda-tanda kehidupan.

girls journey

heading to Gili Nanggu 
Lembar Harbour serves ferry from Lombok to Bali
Dari kantor kecamatan, perjalanan lanjut lagi menuju Pelabuhan Tawun (Sekotong Barat) menyusuri pantai yang tenang. Dari kejauhan terlihat kapal ferry yang sedang berlabuh di Pelabuhan Lembar. Tak lama kami tiba di Tawun yaitu pelabuhan kecil dimana kami bisa menyewa perahu ke Gili Nanggu dan sekitarnya. Tempatnya sepi, atau mungkin kita yang datangnya kepagian yak. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul 8. Setelah ganti baju dan membeli tiket kapal kami langsung berangkat menyebrang menuju Gili Nanggu. Untuk bisa menjelajah ketiga Gili tersebut (Nanggu, Kedis & Sudak) kami harus membayar sewa kapal seharga Rp 250.000. Kapal ini bisa diisi oleh 5 - 6 orang.
crystal clear water at gili Nanggu
gili Nanggu resort
fall a sleep under the tree next to the  beach
Laut pagi itu sangat tenang cenderung tidak berombak, berasa bukan di laut malah sebenernya. Cuaca cukup cerah sedikit berawan. Tiga puluh menit kemudian kami tiba di Gili Nanggu. Ga beda jauh dengan suasana main land Lombok di Sekotong, suasana di Gili Nanggu juga sama sepinya, which is good for us hehehehe. Ada yang pre-wedding photo shoot juga sih. Gili Nanggu adalah pulau dengan resort yang cantik. Ada beberapa resort yang terlihat dari bibir pantai. Sayangnya pantai Gili Nanggu pagi ini sedikit kotor, bukan kotor karena limbah sampah tapi kotor karena eceng gondok yang terbawa arus. Pasir putih mendominasi tampak depan pulau ini. Beberapa perahu berlabuh di pinggir pulau. Untuk masuk ke pulau kami harus membayar Rp 5.000/orang, cukup murah untuk sebuah pulau yang bagus dengan toilet yang bersih hehehe. Jadi kalau mau main air dan sebagainya di pulau ini bisa langsung mandi di toiletnya.
lia_lt
Gili Nanggu beach
lia_lt
enjoying gili Nanggu
Di gili Nanggu saya sempat tertidur dihamparan pasir putih diiringi oleh nyanyian burung yang hingga di pohon-pohon sekitar pulau. Kemudian berenang di sekitar pulau dan berkeliling walaupun tidak satu pulau tidak dikelilingi. Jika dibagian depan pulau terhampar pasir putih yang lembut, dibagian belakang pulau ada hutan yang cukup lebat. Luasnya kura-kira sebesar pulau Perak di Kepulauan Seribu, Jakarta. Puas tidur dan asik main air, perjalanan kami lanjut menuju Gili Kedis yang berjarak sekitar 15 menit dari gili Nanggu. Sekedar informasi, gili Nanggu ini cucok banget buat mereka-mereka yang pengen honey moon loh hehehehe. Suasananya mendukung banget soale ;)
lia_lt
beautiful tiny gili Kedis
It was like love at first sight with this tiny, small, beautiful white island. Kalo kalian pernah ke Pulau Kayu Angin Bira di Kepulauan Seribu, Gili Kedis ini persis banget sama pulau itu. Pasir putih di sekeliling pulau dan ada pohon ditengahnya walaupun tidak lebat. Bedanya Gili Kedis lebih kecil dan saking kecilnya bisa tuh pulau dikelilingi dengan jalan kaki hanya lima menit sajah. Di pulau ini, kami ber-empat puas berenang dan foto-foto pastinya donk hehehehe.
lia_lt
a look out of Lombok island from gili Kedis
lia_lt
Gili Kedis
lia_lt
gili Kedis playground

a fresh coconut 
Puas main air di gili Kedis kami lanjut untuk makan siang di pulau berikutnya, Gili Sudak. Di pulau ini ada dua restoran, tapi kami memilih atau lebih tepatnya dipilihkan oleh sang pemilik perahu restoran yang sepertinya sudah bekerja sama dengan beliau karena ketika kami bilang ingin melihat restoran yang satu lagi sang bapak berkata tidak bisa :D. Karena sudah lapar kami pun manut saja. Restorannya sederhana sekali. Dengan bangku-bangku yang terbuat dari bambu dengan lantai pasir, suasa sangat rileks. Suasana siang itu cukup terik dan tenang. Saking tenangnya sampai tidak ada angin yang berhembus dan pantainya tidak berombak membuat cuaca makin panas. Karena sudah kekenyangan makan, nggak ada yang minat untuk menjelajah pulau yang cukup luas ini. Akhirnya kami lanjut lagi untuk kembali ke pulau Lombok.
peaceful gili Sudak 
How to go there:
Dermaga Tawun adalah dermaga yang harus dituju jika ingin mengunjungi ke tiga gili tersebut. Kurang lebih 1 jam berkendara dari Mataran atau 2 jam dari Kuta ke arah pelabuhan ferry Lembar di Lombok Barat. Dari pelabuhan ferry masih sekitar 30 menit lagi menuju dermaga terus. Untuk transportasi umum gue kurang tau karena gue dan teman2 sendiri sewa mobil. Tapi kalo menurut penduduk sekitar, kendaraan umum hanya ada siang - sore hari itupun jarang-jarang dan tidak sebanyak di Mataram.

Summer in Lombok 2013, the series:
- Pantai Tangsi & Teluk Sunut di Lombok Timur

July 1, 2013

The Scenic South Lombok

Selama gue dan ke-4 teman berada di Lombok, boleh dibilang kami lama tinggal di Pantai Kuta. Yak.. namanya Kuta, sama dengan kayak yang di Bali. Bedanya kalau di Bali sudah sangat ramai, pantai Kuta di Lombok boleh dibilang sepi atau mungkin gue datang blom musim liburan yak hehehehe. Yang pasti tidak ada macet lah. Posisi pantai Kuta hanya 30 menit arah Selatan berkendara mobil dari Bandara Internasional Lombok. Melewati jalanan yang mulus dan rimbun dan kadang-kadang pemandangan pohon-pohon yang rindang.
Kuta Landscape
Dari semua perjalanan selama 5 hari mengelilingi Lombok, buat gue Lombok Selatan adalah yang paling indah baik pantai-pantainya juga bukit-bukit hijau yang mengelilinginya. Untuk menjelajah kawasan Selatan Lombok bisa dilakukan dengan naik mobil atau motor (sewa). Ada banyak pantai-pantai yang bisa dikunjungi selama berada di Selatan Lombok. Pantai Seger yang posisinya dekat Novotel Lombok. Jika ingin mengejar sunrise, Pantai Seger adalah tempat yang pas. Kita bisa naik bukit untuk mendapat landscape yang indah. Di kawasan Kuta banyak tempat menginap, jadi jangan khawatir tidak kebagian tempat untuk tidur. Kuta cenderung sepi apalagi kalau low seasons. Mau menginap tanpa harus reservasipun alias go-show juga bisa.

Dari pantai Kuta bisa menuju ke Pantai Mawun kemudian Selong Belanak. Nah,... perjalanan dari Kuta menuju ke arah Selong Belanak inilah yang menurut gue pemandangannya paling cantik. Bukit-bukit hijau teletubies dilatarbelakangi oleh langit biru bersih, berkali-kali membuat kami berdecak kagum bahkan berhenti dari mobil hanya sekedar untuk foto. Dari pantai Kuta menuju Selong Belanak lumayan jauh, sekitar 1 jam perjalanan. Pastinya ga ada macet. Macet terjadi kalau ada segerombolan kerbau nyebrang jalan :D.

Tiba di Selong Belanak perhatian kami tidak langsung masuk ke pantai tersebut. Tapi lebih mempertanyakan pantai di seberang Selong Belanak. Pasir putih di seberang lautan itu seperti memanggil-manggil kami untuk dikunjungi. Setelah bertanya dengan penduduk sekitar, nama pantai itu adalah Pantai Serangan. Dan setelah bertanya arah, kami langsung putar haluan menuju pantai tersebut. Sayangnya perjalanan tersebut harus terhenti karena tidak bisa dilalui oleh mobil, padahal tujuan kami tinggal 1km lagi jauhnya. Kalau penasaran sama pantai Serangan, silakan baca link ini ya.. hehehehe

Setelah dari Selong Belanak dan Mawun perjalanan lanjut ke Tanjung Aan. Kalau Selong Belanak dan Mawun ada di Barat, Tanjung Aan posisinya ada di timur Kuta dan tidak terlalu jauh alias sekitar 15 - 20 menit dengan mobil. Pantai Tanjung Aan juga tidak kalah cakepnya sama Mawun dan Selong Belanak. Bahkan garis pantainya juga lebih panjang dibanding kedua pantai yang sebutkan sebelumnya. Sayangnya waktu kami tiba disana tidak sampai setengah jam kemudian hujan turun dengan derasnya. Batal deh acara foto-foto :(


Seger Hill in the morning

Dawn Burning sky of  Seger Beach

scenic view Kuta - Selong Belanak



scenic view Kuta - Selong Belanak

Mawun Beach
Mawun beach background
a typical traffic jam in Lombok caused by water buffaloes

Mawun beach
Mawun Beach



























Summer in Lombok 2013, the series:

June 27, 2013

Pantai Tangsi & Teluk Sunut di Lombok Timur

Dari tempat kami menginap di Kuta, tempat ini boleh dibilang jauuuhhhh banget. Sekitar 4 jam perjalanan dengan mobil ke arah Timur Lombok tepatnya menuju Tanjung Ringgit. Kurang lebih 10km atau 1 jam terakhir, kondisi jalannya rusak parah, berlubang dan berlumpur. Walaupun matahari diluar sangat terik tapi perjalanan di 10 km terakhir ini cukup adem karena pohon-pohon lebat sekitarnya. Jangan takut nyasar.. karna ada petunjuknya berupa papan kecil seadanya hehehhe. Atao gunakan teknologi bertanya dengan orang sekitar. Karena itu yang banyak kami lakukan :p

The blue and green of Gili Telu
Pantai Tangsi adalah Pink Beach-nya Lombok, walopun mungkin tidak se-pinky yang ada di Komodo sana, tapi pantai ini sangat cantik dengan pasir lembutnya dengan semburat warna kemerahan yang dihasilkan dari karang tersebut. Dari Pantai Tangsi kami menyewa kapal (Rp 200.000) untuk membawa kami island hoping ke Gili Telu dan Gili Sunut. Sayangnya kami tidak bisa snorkeling karena keadaan ombak yang tinggi pada saat itu.
Sumbawa Island from Gili Telu
A look out of Lombok Island from Gili Sunut
White sand beach at Sunut Bay, perfect for swimming
White sand beach at Sunut Bay, perfect for swimming
Tangsi Hill
Tangsi hill
Tangsi Pink Beach

Summer in Lombok 2013, the series:

November 13, 2012

Catatan Perjalanan: Sendirian ke Togean

Kenapa judulnya seperti itu, karena seharusnya gue pergi ber-dua, teman gue ketinggalan pesawat akhirnya gue pergi sendiri deh. I'm not worry of going anywhere alone cuma yang jadi concern gue adalah kalo ada teman kan bisa sharing heheheh. Well, here you go the story.....

Hari ke-1: Tiba di Gorontalo
Udara panas tengah hari bolong menyambut kedatangan gue dan dua kakak adik, Dewi & Ovie (baru kenal di pesawat) di Airport Jalaluddin, Gorontalo. Setelah bagasi lengkap kami langsung ke luar dan menunggu kedatangan jemputan Dewi dan Ovie. Gue juga diajak untuk barengan ke kota *lumayan lah ngirit :D. Dan memang ternyata jarak airport ke kota Gorontalo kurang lebih 40km dengan waktu tempuh 1 jam. Kota ini sepi padahal waktu menunjukkan pukul 1.30 siang. Ternyata jam segini itu penduduk Gorontalo pada molor, semacam Siesta gitu deh :D

Gorontalo view
Gue berpisah dengan Dewi dan Ovie di Gorontalo Mall kemudian lanjut naik bentor ke Pelabuhan Ferry dan mendapati loket tiket masih tutup baru akan buka jam 4 sore, sementara sekarang masih jam 3 sore... males juga nih nunggu di pelabuhan yang sepi kek gini. Akhirnya gue memutuskan balik lagi ke kota setelah di info kalo mau beli tiket malam ini masih bisa jam 6 sore. Karena waktunya juga ngga banyak jadi gue rada males untuk keliling kota. Kembali ke kota, gue memutuskan untuk beristirahat, makan sore dan membeli beberapa keperluan untuk di ferry kaya air minum, tolak angin :D, antimo dan beberapa snack.Jam 6 tepat gue kembali menuju pelabuhan ferry, membeli tiket dan langsung masuk ke ferry.
ferry gorontalo - wakai

Ferry-nya lumayan besar, jadi ke-inget perjalanan dari Karimun Jawa balik ke Jepara. Cukup bersih, terutama WCnya (penting!!). Gue beli tiket Business Rp 89.000 dan menempati ruangan ber AC yang kapasitas mungkin untuk 50 orang, tapi saat gue masuk cuma ada 3 orang didalam jadi bisa puas deh pilih-pilih bangku di dalam. Setelah taro tas dan 'booking' tempat duduk gue langsung 'jalan-jalan' keliling ferry sambil liat-liat mana tau ada traveler lain yang bertujuan sama dengan gue, mana tau bisa sharing hehehe. Ternyata melewati deck economy udah penuh dengan penumpang dengan lapaknya masing2 dengan kondisi AC alias angin cepoi-cepoi malam :D. Telat 1 jam 15 menit akhirnya ferry berangkat juga meninggalkan pelabuhan menembus pekatnya malam mengarungi teluk Tomini yang tenang. Langit di atas penuh dengan bintang dan lautnya tenang, dan gue masih ngendon di deck atas sambil asik live tweet, mumpung sinyal masih kencang nih hehehehe. Hujan turun dan gue pun bergegas balik ke deck dan mulai cari posisi cihuy untuk molor. TV kabel mulai kehilangan sinyal dan gue tertidur. (Togean Information)

Hari ke - 2: Kepulauan Togean
Pagi itu gue bangun dan cuaca mendung masih gerimis. Di kejauhan terlihat gugusan pulau berkarang. Pelan tapi pasti ferry mulai memasuki kawasan Kepulauan Togean. Pulau-pulau berpasir putih serta pohon-pohon hijau mulai terlihat waktu ferry mendekati Pulau Batudaka. Jam 9 lewat 15 menit ferry berlabuh di Wakai. Gue pun langsung keluar bersama sebagian penumpang yang turun di Wakai. 1 jam kemudian ferry ini akan langsung berangkat menuju Ampana.

Yah, gini nih kalo tiba di tempat belum ada tujuan, ujung2nya gue celingak-celinguk kek orang begok mencari informasi tentang penginapan di Togean. Sempat tanya ke salah satu bapak yg kerja di DisHub (keliatan dari seragamnya) tapi infonya buat gue ga meyakinkan jadi gue keliling lagi cari seseorang yg bisa ngasih info OK tentang penginapan. Sementara yang lain sibuk dengan barang bawaan, gue sibuk keliling mencari info, dan akhirnya gue temukan bapak yg ngasih info bahkan nunjuk guide yang langsung bisa ngebawa gue ke penginapan. Namanya Eli, guide lokal Wakai.

Awalnya gue memilih Poyalisa yang letaknya dekat dengan Bomba dengan alasan lebih dekat dengan Ampana tujuan gue berikutnya untuk menuju ke Palu dan juga beberapa referensi yang menyebutkan kalau tempat ini bagus dari segi coral dan juga pemandangannya. Tapi tempat ini jauh dari Wakai yaitu sekitar 2.5 jam perjalanan dengan perahu lagian mahal pulak :(. Sudah hampir setuju dengan Poyalisa, dan Eli sudah mencarikan kapal buat gue kemudian gue lanjut tanya 'kalo gue mau liat stingless jellyfish lebih dekat darimana?' dan Eli pun bilang kalo danau itu lebih dekat dari Katupat ketimbang Poyalisa. Dan saat itu juga gue langsung merubah haluan gue untuk stay di Fadhila Cottage yang kebetulan juga ada Dive Center dan posisi Fadhila tepat berada di depan Desa Katupat hehehehe *murahan abis yak gue :D*. Lucky me, ternyata Eli itu guide di Fadhila juga and he is a certified diver. Lengkaplah sudah kebahagian gue di pagi pertama .....
Desa katupat dilihat dari Pulau Pangempan (Fadhila Resort)
Beruntungnya lagi gue juga dapet kapal barengan dengan orang lokal Katupat.. yeehaawww. Lumayan cuma bayar 50 rebu (yang seharusnya 200rebu). Perjalanan pun mulai dari Wakai masuk melewati bagian belakang pulau Kadadiri dan lanjut masuk terus ke arah Katupat. Jarang banget gue liat pantai, yang lebih banyak malah pulau-pulau dengan lebatnya pohon atau karang menjulang sesekali. 1 jam kemudian sampe deehhh di Pulau Pangempan yang merupakan lokasi Fadhila Cottage. Pulau Pangempan cantik, pasir pantainya bersih serta air lautnya bening dari atas kapal gue bisa ngeliat coral2 yang cakep dan ikan2 yang lagi berenang pun segabruk :D.

Fadhila Resort
Tiba di resort disambut oleh suasana adem dan sepi secara lagi low season nih. Nggak kelihatan sama sekali tamu-tamu. Kalo menurut Eli mereka lagi keliling. Kayanya sih cuma gue yang ada di resort saat ini. Berkaitan dengan budget setelah melihat-lihat, gue memilih cottage yang sederhana dengan harga Rp 150.000/malam termasuk 3 kali makan. Paling mahal cuma 200ribu sih tapi lumayan lah buat irit :D. Kamar mandinya donk.... open air dengan WC duduk dan air segar yang ngalir 24 jam tanpa henti. Ranjang tidur spring bed dengan kelambu dan hammock nyaman di depan cottage. Overall cottage ini sangat nyaman untuk di tempati.

Fadhila Resort
Hari ini gue memutuskan untuk do nothing, pengen leyeh-leyeh menikmati liburan sekedar jalan-jalan sekitar pulau sambil baca buku dan menantikan sunset. Setelah makan siang dengan menu yang super duper buanyaakk dan enyakk, gue pun melanjutkan dengan baca buku di pantai (indahnya dunia) sampai sore. Nggak jauh dari restoran & front desk ada lapangan volley pantai dan ada beberapa buku-buku bacaan yang bisa dibaca untuk para tamu. Niatnya sore itu mau snorkeling sekitar pulau tapi berhubung angin kencang dengan arus yang cukup kuat akhirnya gue hanya puas dengan berenang di pantai saja. Setelah makan malam yang lagi-lagi sangat mengenyangkan, gue pun mengambil kesempatan untuk ngobrol-ngobrol tentang planning gue selama di Togean ini ke Eli, Syaiful (manager Fadhila) dan juga Yasir sambil mancing di pinggir pantai heheheh.Oh iya, sekedar info kalo listrik di penginapan ini nyala jam 6 sore dan akan mati jam 10 malam.

Hari ke - 3 : Bertembu lumba-lumba dan berkunjung ke kampung Bajo.
Alarm hp gue bunyi (hah!! liburan kok pake alarm), waktunya bangun untuk moto sunrise dan kemudian hanya mendapati kalau langit mendung dan gw pun tidur kembali. Karena ga bisa tidur akhirnya gue memutuskan untuk keliling pulau lagi kali ini ngarah ke dermaga dan mendapati airnya yang tenang. Tak jauh dari jetty ada satu... dua .. tiga.... sekitar 7 sampai 9 Lion Fish!!!!! Berenang dengan anggunnya mengejar segerombolan ikan-ikan kecil. Hedeeuuh cakep banget deh nih. Ga jauh juga dari pantai ada bintang laut warna orange hitam (persis banget kaya yg suka ada diliat di foto kalo orang2 pada ke Belitung).

Setelah sarapan jumbo, Eli langsung mengajak gue untuk pergi ke tujuan yang pertama yaitu kampung Bajo yang di Pulau Papan berhadapan persis dengan Pulau Malenge ke arah timur Fadhila Resort. Matahari masih sembunyi di balik awan (ato awannya yang gag mau geser nih...!!) jadi suasananya masih aga mendung dan gue terus berdoa supaya cuaca tetap cerah karena di sebelah selatan udah langitnya udah gelap ajeeee.

Perjalanan satu jam yang gue sangka akan membosankan ternyata kagak tuh, karena gag sampe 15 menit gue melihat segerombolan lumba-lumba loncat-loncatan di ujung sana (video) dan Eli pun langsung meminta pengemudi kapal untuk menuju ke arah tersebut. Tak sampai 5 menit gue pun melihat lumba-lumba itu berenang beiringan di samping kapal. Ahh... senangnya ngelihat lumba-lumba berenang dengan bebas seperti ini. Dan jumlahnya banyak bangetttttt :D. I remembered once someone said to me, kalo kita bisa liat lumba-lumba berenang dengan bebas di lautan, we should be a very happy people :p... The truth is secara jarang2 liat lumba ya pasti seneng lahhhhh bisa liat segerombolan berenang sambil loncat2an disamping kita :D Puas nemenin mereka berenang, perjalanan lanjut lagi ke arah timur. Sinar matahari mulai keluar sedikit demi sedikit, langit biru masih kehalang sama awan tipis putih. Rasanya pengen banget ambil hapusan terus di hapus deh tu awan.

Oma lagi buat nasi bulu untuk lebaran besok
Akhirnya kami sampai. Tujuan awal adalah ke Pulau Malenge hanya untuk melihat-lihat disekitar pantai untuk kemudian menyusur jembatan. Suasana desa sepi mungkin penduduknya sedang melaut, tetapi ada juga ibu yang sedang sibuk menyiapkan nasi bulu (nasi bambu) untuk acara esok yaitu lebaran haji. Tak jauh di pantai beberapa anak-anak sedang bermain air sambil telanjang. Ada juga yang sedang mengambil sagu dari pohonnya yang tumbuh subur di daratan Pulau Malenge. Beberapa anak datang menghampiri saya sekedar penasaran karena melihat orang asing :D. Pohon-pohon di tempat ini tumbuh dengan subur, juga bunga-bunga warna warni tumbuh liar di sekitar rumah penduduk. Tak jauh dari pantai ada resort yang dibangun bagi para pengunjung yang ingin tinggal disekitar pulau Malenge.

Puas dengan Malenge gue langsung menuju jembatan kayu tersebut, panjangnya kurang lebih 500m menghubungkan antara pulau Malenge dan pulau Papan. Pulau Papan adalah salah satu konsentrasi masyarakat Suku Bajo. Dulu sebelum jembatan dibuat anak-anak suku Bajo jika pergi sekolah harus pergi pulang pake perahu, kalau hujan atau angin kencang sulit untuk mereka pergi sekolah. Untuk itulah jembatan ini dibangun agar memudahkan anak-anak pergi ke sekolah. Selain itu lebih memudahkan suku Bajo untuk pergi ke Pulau Malenge tanpa harus pakai perahu yang pastinya memerlukan bensin. Sementara bensin di Kepulauan Togean terbilang mahal bisa mencapai Rp 9.000 per liternya.

Anak-anak suku Bajo sedang memancing
Anak-anak suku Bajo
Anak-anak suku Bajo
Di Pulau Papan gue takjub sama anemon yang tersebar dengan banyaknya di bawah rumah panggung penduduk. Oh iya suku Bajo membangun rumahnya di pinggir pantai dengan rumah panggung gitu deh. Anemon - anemon 'tumbuh dengan subur' tanpa diganggu oleh tangan manusia. Takjub banget liatnya *norak mode*. Puas dengan anemon, Eli ngajak gue menjelajah pulau Papan yang boleh dibilang gersang karena ga ada pohon sama sekali. Pulaunya juga gag besar bisa di kelilingi hanya 15 menit saja sambil berjalan kaki. Tapi jadi lama karena gue banyak berhenti sekedar foto dan ngeliat anak-anak Suku Bajo main dan mancing. Ada juga yang sedang berenang dan nyelam. Emang suku Bajo dikenal sebagai gipsi laut. Karena hidup mereka yang selalu dekat dengan laut mereka terkenal handal dalam hal berenang dan menyelam. Is yang gue temui malam sebelumnya adalah pemuda suku bajo yang sanggup menyelam sampe kedalaman 20 meter tanpa alat selam sama sekali. Kalo gue bisa free dive 5 meter aja udah bagus hahahahah.
Jembatan yang menghubungkan pulau Papan dan pulau Malenge
Masi di pulau Papan, Eli ngebawa gue ke tempat paling tinggi di pulau Papan. Tingginya kira-kira 20 meter dari permukaan laut dan ini adalah dataran berbatu nggak ada tanah sama sekali. Nggak tinggi emang, tapi bisa ngeliat pemandangan 360 derajat. Jembatan panjangnya juga keliatan dan spot yang bagus banget untuk foto landscape. Bisa ngebayangin kalo cuaca cerah pasti cantik banget deh. Sayangnya gue ga bisa berlama-lama berdiri di tempat ini. Dari tempat gue berdiri bisa keliatan awan gelap di selatan mulai bergerak ke arah gue. Gerimis juga mulai turun dan gue bareng Eli turun cepat-cepat biar ga kejebak hujan. Akhirnya hujan turun dan gue serta Eli terjebak di Pulau Papan. Sambil nunggu hujan aga reda, gue ngeliat anak-anak Bajo masih main bola dibawah terpaan hujan. Jangankan PS atau Xbox atau internet, sedangkan unutk nonton TV aja mereka blom tentu bisa karena ga ada listrik. Listrik baru ada setelah jam 6 sore.

Hujan udah mulai reda, gue dan Eli langsung pergi ninggalin pulau Papan. Perlahan tapi pasti perahu motor yg gue naikin ninggalin pulau Papan yang kembali diguyur hujan lebat. Di belakang sana awan hitam mulai bergerak ke arah kita dan terjebak lah gue di tengah laut dengan hujan lebat. Udah motor kapalnya mati satu di tempat hujan deras makin bikin lambat nih perahu deh. Tepat jam makan siang gue sudah tiba di Fahila dan hujan masih aja turun dengan derasnya. Eli pamit untuk balik ke Wakai karena dia mau sholat Ied di Wakai dan janji akan datang besok untuk nemenin gue diving.

Hari ke-4: Akhirnya diving juga!! 
Ini adalah hari terkakhir gw di Togean karena besok pagi jam 7 gue sudah harus berangkat ke Wakai untuk mengejar ferry jam 9 pagi yang akan berangkat ke Ampana. Percakapan semalam gue dengan pak Sayiful, manager Fadhila, adalah diving setelah mereka jumatan. Jadi gue punya waktu dari pagi sampai siang untuk santai. Pagi itu gue snorkeling dan berenang hanya di sekitar pulau. Langit yang tadinya mendung berubah menjadi cerah. Pagi itu juga gue ngeliat lumba-lumba berenang di sekitar pulau. Heheheh, yup ternyata mereka ada juga di sekitar pulau ini, what a perfect island.

Karena Eli belum datang juga, mungkin ga ada kapal yang ke arah katupat, setelah makan siang gue langsung preparation dan refresh untuk diving. Gue akan turun dengan pak Syaiful sebagai Dive Master dan dua orang buddy gue, Arman dan Ajahan. Dua orang buddy gue ini adalah pemuda asli Katupat yang baru minggu lalu dapet diving license atas biaya pemerintah. Kalo menurut pak Syaiful setiap tahun pemerintah setempat membiayai pemuda pemuda lokal untuk kursus diving supaya  mereka bisa menjadi guide bagi wisatawan yang akan diving di Togean.
Gue, Dive Master dan Buddies

Spot diving gue adalah di Karina kurang lebih 20 menit dengan perahu ke arah timur. Dekat tempat kami diving juga ada pantai pasir putih yang bernama sama Pantai Karina, yang pada hari itu ramai oleh penduduk lokal yang sedang berekreasi karena sedang libur. Begitu tiba ombaknya lumayan besar juga dan kami langsung turun kurang lebih 30 menit hingga kedalaman 11 meter. Dari mulai nudi branch, kerapu school of fish, lion fish, dan banyak soft coral yang cakep-cakep. Sayangnya foto-foto yang diambil kurang bagus dan blur jadinya karena buoyancy gue yang kurang baik :D. Keknya musti banyak belajar lagi nih supaya kemampuan buoyancy gue makin bagus. Dari Karina spot, kami pindah ke Danau Mariona dimana ada ubur-ubur tak menyengatnya. Inilah salah satu tujuan gue datang ke Togean yaitu untuk mengunjungi di sang ubur-ubur yang lucu dan cantik itu (more story on Stingless Jellyfish).

Sebenernya gue blom puas maen-maen dengan ubur-ubur ini, tapi apa boleh buat waktu makin beranjak sore. I just love how the universe works with its unique way to make my trip memorable. Tiba di resort gue langsung pasang posisi untuk nikmatin matahari terbenam yang hari ini cantik banget. Warna langit jingga di barat sana menutup sore terakhir gue di Togean dengan indah.

Wakai - Ampana - Palu - Jakarta
Jam 7 pagi gue sudah duduk manis di perahu yang akan ngebawa gue ke Wakai. Matahari masih sembunyi di balik awan, tapi cahayanya tidak mampu menutupi langit biru yang cerah di sebelah timur sana. Sedih juga meninggalkan Fadhila, 3 hari rasanya kurang di tempat yang indah ini. Tapi apa boleh buat, nasib seorang pegawai yang cutinya sudah di patok heheheh. Mungkin next time gue aga kembali lagi... mungkin.

Perjalanan Wakai - Ampana aga lebih rame kali ini, selain gue ada 5 orang traveler dari Amerika yang mau ke Toraja lewat Poso yang barengan duduk di kelas bisnis. Perjalanan Wakai Ampana adalah 5 jam melewati jalur laut diantara dua pulau Batudaka dan Togean. Kaya lagi lewatin sungai gitu deh. Kiri kanan sepanjang jalur ferry berwarna hijau. Awan kadang menghalangi cahaya matahari terik tapi tidak mengurangi keindahan pemandangan saat itu. Beberapa kali ferry melewati kawasan pemukiman pinggir pantai. Tak lama sekitar 1.5 jam meninggalkan Wakai pemandangan beralih menjadi lautan luas bukan lagi pemandangan hijau pohon.
Pemandangan perjalanan Wakai - Ampana
Jam 2 siang tepat ferry tiba di pelabuhan Ampana dan gue langsung mencari travel yang akan berangkat ke Palu. Dan gue beruntung karena ada travel yang mau nganterin gue ke pool-nya. Barengan dengan ke-5 traveler dari US itu, dari pelabuhan Ampana menuju ke kota kurang lebih 13km atau sekitar 10 menit dengan mobil dengan membayar Rp 10.000. Lagi-lagi gue untung ga harus bayar karena mobil yang gue naikin adalah travel Touna yang nantinya akan gue pakai ke Palu. Kami sempat berhenti untuk makan siang (err, udah ga bisa dibilang makan siang sih karena jam 3 sore :D) kemudian lanjut. Gue di drop di Travel Touna dan menunggu sampai jam 5 untuk kembali on the road menuju Palu.

Perjalanan Ampana - Palu adalah perjalanan naik mobil (L300) yang tidak menyenangkan sepanjang pengalaman gue naik bis malam. Nggak ber-AC, gue kebagian duduk sebelah supir. Bangkunya keras dan panas. Alhasil sepanjang perjalanan gue ga bisa diam karena posisi duduk yang selalu serba salah dan itu harus gue jalananin selama hampir 12 jam. Dan untuk perjalanan yang seperti itu gue harus ngebayar Rp 110.000. So much for a lousy travel car.

Jam 5 pagi mobil mulai memasuki kota Palu terlambat 2 jam karena supir memutuskan untuk tidur sebentar karena ngantuk. Kota Palu cantik di malam hari. Kota yang terletak di teluk ini dikelilingi oleh jajaran pegunungan pasti cakep nih kalo siang hari. Sinar bulan penuh yang jatuh di permukaan air menambah indah Palu dilatarbelakangi oleh cahaya lampu kota yang berwarna-warni. Sayang gue ga bisa berenti untuk sekedar foto. Selesai mengantar penumpang yang lain dan gue adalah yang terakhir di drop di hotel. Setelah dua kali mencari penginapan, hotel Buana Graha, Palu adalah yang ketiga dan untungnya masih ada kamar sisa. Kamar dengan satu tempat tidur dan kamar mandi gue bayar Rp 120.000 dan untungnya gue bisa check out jam 2.30 sore karena pesawat gue take off jam 4 sore. Perjalanan 12 jam yang melelahkan memaksa gue untuk tidur dulu di hotel. Walaupun ujung2nya gag bisa tidur juga sih. Akhirnya gue memutuskan untuk keliling kota, cari oleh-oleh dan makan. Yang khas untuk sarapan di kota Palu adalah nasi kuning. Jam 5 pagi tadi begitu gue masuk kota Palu sudah banyak warung nasi kuning yang buka. Lauknya dari mulai ayam, daging sapi, dan telur. Harga berkisar Rp 10.000 - 20.000 tergantung lauknya dan top adalah sambalnya. Pedasnya juwaraaaaaaaa

Kota Palu
Kota Palu nggak besar-besar banget sih, tapi seperti yang gue bilang sebelumnya, kotanya cantik dikelilingi oleh pegunungan hijau. Walau matahari terik udaranya dingin. Oleh-oleh khas Palu adalah bawang goreng, jadi gue berniat untuk beli dan bawa pulang buat emak dirumah hehehe. Bawang goreng setengah kilo gue beli seharga lima puluh ribu. Gag tau deh itu murah ato mahal yang pasti bawang gorengnya enak dan renyah kaya krupuk gitu deh.

Naik angkot di Palu juga pengalaman tersendiri buat gue karna disini angkotnya tidak ada jalur khusus. Alias bisa nganterin lo kemana ajah dan lewat rute mana ajah. Bayarnya pun juga ga mahal-mahal banget hehehe. Jaid kalo mau keliling kota naik angkot bisa banget nih. Udah gitu di Palu juga banyak rumah makan padang dan menurut supir angkot yang juga ternyata orang Padang di kota Palu banyak perantau dari Provinsi Sumatera Barat tersebut. Pak Arman, nama supir angkot, juga sudah hampir 20 tahun tinggal di kota Palu dan sudah beranak cucu disini.

Jam 2.30 sore gue memutuskan untuk ke airport dengan menggunakan taxi yang dipesan dari hotel. Aga kaget juga sih lihat argonya yang mahal. Buka pintu sih Rp 5.000 tapi argo per 100 meter adalah Rp 350. Gileee lebih mahal dari Jakarta bahkan bluebird sekalipun. Tapi apa boleh buat karena angkot tidak masuk ke airport dan gue aga males naik ojek karena Palu sedang membara panasnya. Dan ternyata jarak airport dari hotel nggak jauh-jauh banget. Cuma 8km dan gue hanya membayar Rp 15.000 untuk taxi hehehe.

Bandara Mutiara Palu emang bapuk banget, kecil dan kumuh. Tapi justru di depan bandara yang kumuh ini sudah berdiri bangunan baru yang megah sebagai penggantinya. Bandara ini sedang dalam proses perampungan mungkin tahun depan sudah mulai beroperasi. Kira-kira kapan ya Soe-Ta selesainya??