Showing posts with label Central Kalimantan. Show all posts
Showing posts with label Central Kalimantan. Show all posts

December 21, 2011

Tanjung Puting National Park, Central Kalimantan (English Version)


That opportunity finally came when my friend offered me a trip to go to Tanjung Puting National Park visiting the orang utans at their original habitat. The journey of three days two nights up streamed the Sekonyer River with klotok (wooden boat) has been an unforgettable moment to me and my other six friends. Below is some information about Tanjung Puting National Park based on my experience.
Tanjung Puting National Park located at south west of Central Kalimantan peninsula and it has around 415.040 ha (Source: Wikipedia). It is the home and native habitants of vaious kinds of living creatures such as orang utans, proboscis monkeys, gibbons, mermaids, sun beras, crocodiles and the birds. Also the home of various plants such as pitcher plants, peat and forest tree production, ferns and palms and many more. 

How to go to the National Park
Kumai Port is the port where the klotoks (wooden boat) stand by to go to National Park. The nearest airport is Iskandar Airport located at Pangkalan Bun City. Direct flight that serves between Jakarta – Pangkalan Bun is Trigana Air, Kalstar Air, Aviastar with range of price Rp 600.000 – Rp 700.000 one way for an hour duration.
Then continue by public transportation of motor taxi for another 30 mintes from Pangkalan Bun to Kumai or if you buy a tour usually they will pick you at the airport.

Accomodation at the National Park
Klotok (Wooden Boat) Klotok is the sort of accommodation that we used for the 3 days 2 nights journey there.All the activities are all carried on the klotok. Sleeping, eating, showering, cooking etc. What we called Klotok is  a wooden boat with two decks, upper deck and lower deck. The uuper deck is used as the place for sleeping at night and eating, sitting, putting our carrier and doing other activities during daylight.  The front upper deck are placed two wooden long seat where you can sit and seeing the view all the across the river. While the upper stern can be used as the place for sightseeing as well. The lower deck used for the place for kitchen, toilet, boat steer and the place for our boat crew where they sleep at night. We were accompanied by 4 crews (the captain, guide, chef assistant).
To book the tour you can do it through travel agent. They will arrange all of your needs during your stay at National Park. From renting the klotok, food, guide, entrance tickets to the National Park, pick up from the airport to the port etc. The package price can be different one to another based on how long you want to spend to be in the National Park and how many people will be on the boat. The more people on the boat the cheaper it will be.
Tips to visit Tanjung Puting National Park
1.       Kalimantan forest is the endemic for malaria disease. Please make sure that you have consult to your doctor and drink preventive medicine properly.
2.       A camera is a must. You will find a lot of amazing things along the way. Don’t forget to bring your extra battery. There will be generator on the klotok but it’s very limited and won’t be enough to accommodate all the electronic stuff on the boat.
3.       Use you mosquito repellent to avoid insects bite as well as leech. It’s better for you to use long sleeves and trousers as well as shoes if you will go for trekking. When raining season the trekking path will be muddy and lots of leech everywhere.
4.       Bring Jacket and rain coat in case of raining. Cap and sun screen lotion  to prevent sun burning.
5.       When you are about to enter the camp, make sure you don’t bring anything but camera. If they see you bring backpack or a bag they will try to grab them and to check where there is food inside. Only God and the orang utans know when it will be returned back to you :D.
6.       Bring flash  light, you will need it on the klotok at night,
7.       Do not litter
8.       Bring your own medicine
9.       There is nothing to do at night, no electricity, no proper lights. Just bring something that won’t make you feel boring. Like playing cards etc etc.
10.    There is enough food on the klotok. Just in case you feel bored with the food bring snacks. Just don’t show it in front of the orang utans.
11.    Less raining is the best season when you can visit the national park. Less mosquito and the trekking path is dry. Which is during April – October every year.
12.    Follow all the instructions from the guide. They are the one who knows every details and conditions inside the park.
If you need more information about Tanjung Puting National Park more futher, feel free to contact me by posting your message.

September 15, 2011

Catatan Perjalanan : Taman Nasional Tanjung Puting

Welcome to Tanjung Puting National Park
Hari ke-1, Kamis
Kami berangkat menuju ke TNTP tepat jam 10.15 pagi. Cuaca pagi itu cukup terik tetapi hembusan angin sejuk cukup membuai beberapa teman kami sehingga mereka tertidur. Dari kejauhan tampak poster besar dengan gambar orang utan bertuliskan “Welcome to Tanjung Puting National Park” di muara Sungai Sekonyer. Perjalanan menuju hulu sungai Sekonyer berlangsung dengan tenang. Sungai Sekonyer yang tadinya melebar mulai menyempit. Pemandangan hutan nipah di muara sungai berganti dengan pandan hutan yang mengeluarkan wangi harum.

Desa Sungai Sekonyer
Tiga jam kemudian kami sampai di Desa Sungai Sekonyer. Tujuan kami adalah orang utan feeding jam 3 sore di Tanjung Harapan yang tepat berada di seberang sungai desa sungai Sekonyer. Setelah makan siang di atas klotok dan waktu masih banyak, kami turun menyusuri desa Sungai Sekonyer. Saat kami datangi desa itu terlihat sepi karena ditinggal sebagian penduduknya yang sedang piknik Lebaran ke pantai.


Salah satu kegiatan yang dapat dilakukan di desa ini adalah Batimung. Batimung adalah budaya banjar yaitu membuang keringat dari badan dengan cara diasapi serta ditambahkan bunga-bungaan dan ramuan alami untuk memberi keharuman kepada badan orang yang ditimung tadi. Batimung salah satu syarat bagi calon pengantin untuk menghadapi pesta perkawinannya nanti. Tujuannya agar mempelai laki-laki dan perempuan saat acara berlangsung tidak mengeluarkan bau keringat biasa tetapi berganti menjadi bau harum yang menambah pesona. Proses batimung biasanya dilakukan pada malam hari, dilaksanakan oleh para wanita dari keluarga orang yang batimung. Kisaran harga untuk melakukan Batimung antara Rp 150.000 – 200.000 per 1 jam. Karena waktu tidak memungkinkan kami tidak melakukan Batimung tersebut dan langsung bergegas menuju Tanjung Harapan.

Tanjung Harapan
Bayi orang utan
Tanjung Harapan adalah lokasi feeding orang utan paling dekat dari muara sungai.  Di lokasi ini terdapat kurang lebih 30 orang utan yang terdaftar. Saat tiba di gerbang depan kami langsung bergegas menuju lokasi feeding. Di kejauhan terdengar suara ranger memanggil orang utan untuk datang ke lokasi. Dan saat kami tiba di lokasi feeding terlihat dua orang utan yaitu Kacong dan Becky yang sedang mengerumuni makanan (pisang). Tak lama Burhan datang dan pesta pisang yang sedang dilakukan oleh Kacong dan Becky pun bubar. Burhan adalah orang utan pejantan yang berbadan besar, itulah mengapa Kacong dan Becky langsung kabur begitu Burhan datang. Wilayah orang utan di Tanjung Harapan ini dikuasai oleh Yani. Sayangnya pada saat kami berada disini, Yani tidak terlihat.

Untuk menjadi penguasa di wilayahnya, orang utan harus dapat mengalahkan penguasa sebelumnya. Mereka harus berkelahi untuk dan menang dan menjadi penguasa. Perkelahian dilakukan didalam hutan dan karena orang utan tidak mengenal kalah mereka akan berkelahi sampai terluka atau bahkan sampai mati.

Orang utan yang kami temui di Tanjung Harapan adalah Kacong, Becky, Burhan, Sandra, Ceping (ibu) + Cika (anak), Cica (ibu) + Cina (anak), Chelsea dan Miki. Buat saya semua wajah orang utan itu sama dan hanya ranger serta guide saya saja yang hapal nama-nama mereka.

Puas dengan Tanjung Harapan, kami kembali ke klotok yang kemudian disambut oleh bekantan-bekantan yang sedang nangkring di pohon diseberang klotok. Bekantan adalah sejenis kera berhidung panjang dengan rambut berwarna cokelat kemerahan yang hanya dijumpai pada pejantan. Kalau ada yang tau maskotnya Dunia Fantasi, Ancol… yak.. seperti itulah kira-kira bentuknya Bekantan. Tidak hanya Bekantan saja yang kami lihat tetapi juga monyet yang biasa dilihat di Bali atau di pinggir jalan Jakarta yang dijadikan topeng monyet. Bekantan dan monyet bisa dilihat disepanjang sungai Sekonyer dan biasanya akan muncul pagi  dan sore hari untuk mencari makan. Dan sembunyi di siang hari untuk menghindari panas.
Bekantan di tepi Sungai Sekonyer biasanya terlihat di sore hari saat cuaca sudah tidak panas lagi

Ketika daerah sekitar mulai gelap klotok kami menepi dan berhenti. Setelah mandi (dengan air sungai yang berwarna coklat) dan makan malam kami beristirahat. Beberapa teman kami ada yang tertidur, ada juga yang bermain kartu. Saya menyempatkan diri untuk melihat bintang-bintang yang bertebaran di angkasa. Suara alam liar yang dipadu dengan udara dingin dinaungi sinar bulan sabit dan juga bintang-bintang di angkasa membuat moment tersebut menjadi lebih indah dan menakjubkan. Ketika saatnya kami akan tidur, kasur dan kelambu pun mulai digelar. Penutup klotok berupa terpal plastik mulai diturunkan dan kami pun tidur di tepi sungai Sekonyer, di tengah-tengah belantara TNTP.

Hari ke-2, Jumat
sungai hitam Sekonyer
Udara dingin membangunkan saya pagi itu. Suara burung berkicau dan owa terdengar sangat jelas dan embun pagi di buritan atas terasa sangat dingin. Langit sudah terang dan waktu menunjukan pukul tujuh pagi. Tak lama teman-teman yang lain juga beranjak bangun. Setelah kasur dan kelambu dibereskan serta meja makan diturunkan kami sarapan pagi dan melanjutkan perjalanan tepat jam 8.30 pagi.
 
Tempat yang akan kami datangi berikutnya adalah Camp Leakey, tempat feeding paling jauh. Sungai Sekonyer yang kami masuki ke dalam juga makin menyempit, kurang lebih satu jam kemudian kami bertemu pertigaan yang ditandai dengan papan petunjuk “Tanjung Puting 8km” mengarah ke kanan. Air sungai yang tadinya berwarna coklat mulai berubah kehitaman, refleksi langit biru terang terlihat sangat jelas dari sungai. Hutan mulai terlihat rapat. Beberapa kali saya melihat burung King Fisher berwarna merah kuning biru di sepanjang sungai berwarna hitam tersebut, anak ular juga anak buaya. Jadi jangan coba-coba yaaaa untuk menceburkan diri ke sungai itu :D. Lahan gambut membuat air sungai Sekonyer menjadi berwarna kehitaman. Dan walaupun hitam air ini sangat jernih jika diangkat oleh tangan. Tepatnya jam 11 siang kami tiba di dermaga Camp Leakey. Beberapa perahu klotok sedang tertambat.

Camp Leakey didirikan tahun 1971 oleh Dr Birute Gladikas dan Rod Brindamour. Nama Camp Leakey diambil dari seorang Paleontologist Louis Leakey, yang merupakan seorang mentor dan inspirasi bagi Dr Gladikas serta Drs. Jane Goodall dan Dian Fossey.
Kami turun dari klotok dan mulai memasuki areal Camp Leakey. Jalan setapak berupa jembatan berada disepanjang jalur dari mulai dermaga sampai ke pintu gerbang. Kira-kira 200meter dari pintu gerbang kami bertemu dengan orang utan pertama yang bernama Siswi. Siswi adalah orang utan betina sitaan yang direhabilitasi untuk dikembalikan ke alamnya. Siswi terkenal sebagai ratu dan preman di wilayah tersebut. Kadang Siswi membajak tas pengunjung untuk mencari makanan didalamnya. Kemudian kami bertemu dengan Ahmad dan anaknya Atlas, kedua orang utan ini jinak. Dengan mereka kami beberapa kali mengambil foto dengan jarak yang sangat dekat sekali. Ahmad adalah orang utan betina yang paling tua di Camp Leakey. 
trekking hutan Camp Leakey
Dikejauhan terlihat beberapa babi hutan yang hidup disekitar Camp Leakey. Tak lama Tut dan anaknya Thorn muncul. Tut adalah ibu dari Tom, penguasa Camp Leakey. Saya sangat berharap supaya bisa bertemu dengan Tom pada saat feeding time jam 2 siang nanti.

Sambil menunggu feeding time kami lanjut trekking ke hutan disekitar Camp Leakey. Ditemani oleh ranger dan Rudi serta Zainal kami pun mulai memasuki kawasan hutan yang lebat dan rapat. Wangi tanah basah dan daun segar tercium melapangkan pernapasan kami. Jalan yang kami lewati adalah jalan setapak yang terbuat dari kayu ulin, kayu paling mahal dan paling dicari oleh para penjual kayu, biasanya kayu ini digunakan untuk membuat rumah. Kumpulan tanaman kantong semar banyak dijumpai dan juga sarang tarantula… hiyyy males banget trekking bareng tarantula!!!! Untungnya mereka hanya keluar malam hari. Hampir dua jam kami trekking di dalam hutan menemukan banyak sekali hal-hal yang menarik seperti monyet berbulu merah, kayu batu yang tinggi dan besarnya luar biasa, kayu ulin, jamur seluas pelukan tangan sayangnya sudah mati dll.

Feeding Time di Camp Leakey jam 2 siang
Tiba saatnya feeding time jam 2 para ranger datang dan mulai memanggil orang utan untuk datang. Jumlah orang utan yang terdaftar di Camp Leakey kurang lebih 150 banyaknya, maka tidak heran jika Feeding Time kali ini banyak sekali orang utan yang keluar. Saking banyaknya sampai bingung mau foto yang mana.

Senang sekali melihat orang utan ini, apalagi yang masih bayi. Lucu dan menggemaskan. Ada yang tidak bisa diam alias jungkir balik tidak keruan seperti Putri yang ibunya bernama Princess, atau Thorn dengan matanya yang selalu ingin tahu. Sayangnya jangan harap bisa memegang anak orang utan, yang ada harus berantem dulu sama ibunya hehehehhe. 


Faktanya banyak anak orang utan yang dicari untuk dijadikan binatang peliharaan oleh manusia. Untuk memisahkan anak orang utan dari ibunya satu-satunya jalan adalah dengan membunuh sang ibu orang utan tersebut :(.

Siswi
Selesai dengan feeding kurang lebih 1 jam memperhatikan tingkah laku para orang utan yang lucu-lucu  dan menunggu datangnya Tom yang nggak muncul2, akhirnya kamipun pasrah dan  kembali menuju ke klotok. Jika datang kami bertemu Siswi, perjalanan pulang pun kami bertemu Siswi lagi kali ini dalam keadaan sedang membajak tas salah satu dari pengunjung. Aga lama “negosiasi” antara Siswi dan Rudi (guide kami), setelah akhirnya puas mengobrak-abrik tas dan tidak menemukan tas dengan bujukan akhirnya Siwi melepaskan tas tersebut dalam keadaan sobek heheheheh.
Klotok kami melepaskan tambatnya dari Camp Leakey dan pergi meninggalkan tempat indah tersebut. Kurang lebih 500 meter dari Camp Leakey klotok kami berhenti untuk makan sore, yak.. kami skip makan siang digantikan oleh makan sore, dilanjutkan mandi dengan menggunakan air sungai yaitu air gambut yang berwarna kecoklatan. Perjalanan pun lanjut ke Pondok Tanggui untuk kemudian bermalam disana. Rencana untuk melakukan trekking malam tidak jadi dilakukan karena kami sudah capek.

Hari ke-3, Sabtu
Pagi hari di Pondok Tanggui kami didatangi Richa dan Robi. Ibu dan anak orang utan tersebut langsung mengambil posisi di pohon dan bergantung disana. Kesempatan yang tidak disia-siakan kamipun langung mengerubung untuk berebut memotret Richa dan Robi dan lanjut kedalam untuk melihat feeding yang akan berlangsung jam 9 pagi. Habitat orang utan di Pondok Tanggui berjumlah kurang lebih 25 dan dikuasai oleh Doyok, kami berharap sangat untuk bertemu sang raja karena dua kesempatan sebelumnya tidak bertemu.

Tak lama dari dermaga kami bertemu dengan Tuxedo yang sedang menunggu kedatangan kami di dekat pondok ranger. Tuxedo cukup jinak karenanya banyak pengunjung yang berkesempatan untuk memberikan pisang kepada Tuxedo. Kemudian kami melanjutkan perjalanan menuju tempat feeding. Karena habitatnya yg tidak banyak maka orang utan yang datang pun tidak banyak juga dan kami masih tetap menunggu kesempatan untuk bertemu dengan Doyok walau akhirnya kecewa karena dia tidak datang juga akhirnya kami pasrah dan kembali ke klotok.

Doyok
Perjalanan menuju ke klotok terpaksa berhenti karena hujan deras dan kami berteduh di pondok ranger. Semua pengunjung sudah pergi meninggalkan Pondok Tanggui kecuali kami yang masih berteduh, karena ini adalah hari terakhir kami di Tanjung Puting kami pun sedikit melonggarkan kegiatan kami lagi pula waktu masih banyak. Cukup lama kami menunggu hujan berhenti tak lama Doyok pun datang dengan tubuhnya yang besar itu. Daaaannn, langsunglah kamu rebutan untuk foto si Doyok ini. Menurut ranger Pondok Tanggui, pak Satri, sepertinya Doyok lapar dan memutuskan datang ke Pondok. Dengan segera pak Satri membuatkan susu satu ember dan langsung disikat habis oleh Doyok. Perasaan (sedikit) kecewa karena tidak bertemu para raja-raja orang utan terbayar lunas dengan munculnya Doyok hehehehe.
Doyok berpindah-pindah seolah-olah meberikan kesempatan kepada kami untuk foto. Mungkin dia tahu kalo itu adalah saat saat terakhir kami sebelum akhirnya kami meninggalkan Taman Nasional Tanjung Puting. Ketika akhirnya kami kembali dan sampai di klotok. Dari belakang Doyok muncul dan berjalan mendekati dermaga seakan mengantarkan kami untuk pergi. Rintik-rintik hujan masih terus berlanjut. Udara dingin berhembus menerpa klotok kami. Perlahan tapi pasti kami mulai meninggalkan kawasan menuju ke muara Sungai Sekonyer.

semburat jingga di muara sekonyer
Menunggu Kunang-kunang
Matahari terbenam di ufuk barat. Gelombang yang tenang di muara sungai membuat kami lebih menikmati saat matahari mulai terbenam dan meninggalkan semburat jingga di langit Kumai. Sambil menunggu saatnya kunang-kunang muncul di sekitar muara sungai Sekonyer kami mulai berbenah. Klotok kami kembali masuk ke dalam muara sungai, tak jauh dari situ mulai terlihat kunang-kunang di pohon. Rasanya seperti melihat pohon natal yang gemerlapan dibulan Desember, sangat cantik.

Puas dengan kunang-kunang, kamipun akhirnya meninggalkan muara sungai dan menuju ke pelabuhan. Kami tinggalkan Taman Nasional Tanjung Puting dengan semua keindahan dan keunikannya, berharap suatu saya akan kembali lagi untuk bertemu dengan sang raja Camp Leakey, Tom.

Thorn dan Tut
Bagaimana cara ke Taman Nasional Tanjung Puting bisa di lihat dan klik link di bawah ini:
http://lialt.blogspot.com/2011/09/taman-nasional-tanjung-puting.html

More photos:

https://www.facebook.com/media/set/?set=a.10150773604865062.719438.520855061&type=1

September 9, 2011

Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah

Libur Lebaran yang lalu saya berkesempatan untuk mengunjungi Taman Nasional Tanjung Puting untuk melihat orang utan secara langsung di habitat aslinya. Perjalanan selama tiga hari dua malam menyusuri sungai Sekonyer dengan klotok adalah pengalaman yang tak mungkin saya lupakan. Berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan dan juga persiapan sebelum kamu pergi kesana ;)

Doyok - Tanjung Harapan's King
Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP)
TNTP adalah Taman Nasional yang terletak di semenanjung barat daya provinsi Kalimantan Tengah. TNTP mempunyai luas 415.040 ha (Sumber Wikipedia)

Taman Nasional ini merupakan rumah dan habitat asli dari berbagai macam mahluk hidup seperti orang utan, bekantan, owa, duyung, beruang madu, buaya dan burung-burungan. Juga rumah dari berbagai tumbuh-tumbuhan seperti kantung semar, hutan gambut serta pohon produksi, paku-pakuan serta nipah dan masih banyak lagi.

Bagaimana cara mencapai TNTP:
Pelabuhan Kumai adalah pelabuhan yang dijadikan sebagai tempat berlabuhnya klotok-klotok wisata untuk menuju ke TNTP dan Bandar Udara Iskandar, Pangkalan Bun adalah airport yang terdekat dengan kota tersebut.
Rute pesawat langsung (1jam) Jakarta – Pangkalan Bun adalah Trigana Air, Kalstar Air, Aviastar dengan kisaran harga Rp 600rb – 700rb sekali jalan.
Perjalanan dari Pangkalan Bun menuju kota Kumai adalah dengan menggunakan kendaraan umum atau dengan menyewa mobil (jika rombongan) bisa juga dengan ojek dengan harga sekitar 30rb.

Akomodasi di TNTP
Klotok adalah akomodasi yang kami pergunakan selama perjalanan kami tiga hari dua malam. Semua aktifitas dilakukan diatas klotok tersebut. Dari mulai tidur, makan, mandi, masak dan lain-lain. Klotok yang dimaksud adalah kapal kayu dengan 2 dek bertingkat atas dan bawah. Dek atas kami pergunakan sebagai tempat untuk tidur di malam hari dan tempat makan disiang hari serta tempat menaruh barang-barang kami. Dek depan atas terdapat dua bangku kayu permanen yang ditempatkan untuk melihat-lihat sepanjang perjalanan menyusuri sungai. Buritan juga dipergunakan sebagai tempat untuk duduk. Sedangkan dek bawah digunakan sebagai tempat kapten mengemudikan klotok, tempat tidur awak kapal, dapur serta toilet. Selama perjalanan tiga hari dua malam, kami ditemani oleh empat orang awak kapal yang terdiri dari Pak Aip (kapten kapal), Rudi (pemandu); recommended guide, Pak Jimi (juru masak); he cooked nice food serta Zainal (asisten).

Untuk membooking klotok biasanya dilakukan melalui agent. Mereka yang akan mengatur semua keperluan selama berada di Taman Nasional dari mulai sewa klotok, makan dan minum, guide, tiket masuk ke dalam Taman Nasional sampai antar jemput dari dan ke airport di Pangkalan Bun. Harga paket bervariasi tergantung dari jumlah orang yang akan berada di dalam klotok dan juga berapa lama waktu yang akan dihabiskan selama berada di Taman Nasional. 
akomodasi berupa klotok 2 dek
Tips mengunjungi TNTP
Sumber: Detik Travel
1.      Pastikan meminum obat malaria, ada baiknya konsultasi ke dokter untuk cara penggunaan.
2.      Kamera adalah hal wajib kedua, karena anda akan menemukan banyak hal menakjubkan sepanjang perjalanan. Jangan lupa batere cadangan,di klotok pasti ada generator tapi terbatas dan hanya dinyalakan pada waktu malam. Danbelum tentu bisa mengakomodasi semua barang elektronik
3.      Jangan lupa pakai lotion anti nyamuk untuk menghindari gigitan nyamuk ganas, serta untuk mengusir pacet. Lebih aman lagi kalau memakai celana panjang dan baju lengan panjang selama berada di darat.
4.      Jaket dan jas hujan harus dibawa, karena angin selama berjam-jam diatas klotok bisa bikin sakit. Topi dan sunblock untuk menghindari hujan dan panas serta terbakar matahari.
5.      Bawa sepatu. Perjalanan menuju Camp Lakey sekitar 1,5 km, Tanjung Harapan 1 km,  dan Pondok Tanggui 1 km, dan ada beberapa bagian hutan yang sangat becek. Kalau anda berniat untuk trekking kedalam hutan sudah dipastikan harus memakai sepatu untuk mengindari pacet yang merajalela terutama di musiim hujan
6.      Usahakan hanya berjalan melenggang dengan membawa kamera saat menuju Camp Leakey, tinggal barang berharga seperti backpack, tas maupun telpon genggam diatas klotok, jika kebetulan berdekatan dengan orangutan, mereka akan tertarik dengan tas maupun kantong celana untuk mencari makanan.
7.      Bawa senter, saat malam hari sangat dibutuhkan di klotok.
8.      Pastikan selalu membawa kantong plastik untuk membuang sampah anda.
9.      Bawa obat-obatan seperti plester, minyak angin, dan obat lainnya.
10.  Pada malam hari tidak ada kegiatan apa-apa, jadi daripada bosan cpba bawa kartu, buku, monopoli atau apapun itu biar tidak  bosan
11.  Bawa snack untuk diatas kapal. Tapi jangan dikeluarkan didepan orang utan yaaaa ;)
12. Menurut saya bulan terbaik mengunjungi TNTP adalah pada saat musim kemarau. Karena tidak terlalu banyak nyamuk dan trekkingnya tidak berlumpur
13.  Selalu ikuti arahan dan petunjuk dari guide, karena mereka yang mengetahui secara detail kondisi di Taman Nasional Tanjung Puting.

Do’s and Don’t’s di TNTP
Berdasarkan pengalaman pribadi loohhhh dan beberapa pentunjuk selama disana.
1.      Jangan memberi makan atau minum kepada orang utan; kalau ke saya boleh hehehehe
2.      Jangan makan dan minum didepan orang utan; atau kita yang akan dikejar atau disamperin oleh mereka *pengalaman pribadi*
3.      Dilarang menyentuh orang utan apalagi apalagi main slap the bitch yang ada tulang kamu pada patah2 semua.
4.      Jangan membuang sampah sembarangan. Swear deh .. tempat itu bersih abisss
5.      Jangan menceburkan diri atau berenang di sungai, karena banyak buaya …..  cyiiinnnn
6.      Jangan coba-coba deketan sama penguasanya.. atau anda yang akan di colek hehehehe


the rules

Untuk Catatan Perjalanan : Taman Nasional Tanjung Puting, silahkan langsung meluncut ke link berikut http://lialt.blogspot.com/2011/09/catatan-perjalanan-taman-nasional.html